Jangan-jangan justru polemik seperti inilah yang diinginkan para pembuat 
kebijakan itu, supaya masyarakat sibuk berpolemik sendirian, dan dengan 
demikian menjauhkan api dari panggang. Saya pikir kita tetap harus fokus ke 
permasalahan utama: kemacetan lalu-lintas dan transportasi di Jakarta. Saya 
ingin mencoba mengambil kondisi Hong Kong sebagai sumber inspirasi. Di sana, 
pemerintah memberlakukan tarif yang sangat tinggi�untuk�pajak dan parkir 
kendaraan bermotor. Umur kendaraan juga dibatasi, kalau tidak salah hanya 10-15 
tahun. Jadi percuma saja kan punya mobil dan bayar mahal untuk pajak dan parkir 
hanya untuk waktu singkat? Pendek kata, mereka yang memiliki kendaraan bermotor 
memang orang-orang berduit. Sejauh ini logis.
�
Namun�pada saat yang sama, sebagai kompensasi, pemerintah Hong Kong juga 
menyediakan sarana transportasi yang sangat lengkap dan terintegrasi, mulai 
dari trem, bus besar dan minibus, dan juga kereta bawah tanah (Mass Transit 
Railway/MTR). Semua alat transportasi publik itu sangat mewah, bersih, dan 
murah. Trem adalah pilihan yang paling murah dan santai (karena jalannya yang 
lebih lambat dibanding yang lain) jika Anda tidak ingin terburu-buru pergi ke 
tempat tujuan. Tarif MTR sedikit lebih tinggi, tapi alat transportasi ini 
adalah yang paling cepat dan massal, sesuai namanya. Sistem pembayaran juga 
sangat canggih dan praktis, cukup menempelkan kartu magnetik ke display yang 
tersedia di semua alat transportasi. Kalau "pulsanya" habis, isi ulang saja di 
stasiun2 MTR dan�terminal bus kota. Jam operasi juga sangat memadai, dari jam 
05.00 sampai jam 01.00.
�
Ada satu wacana yang saya lihat hampir tak pernah diangkat, yaitu masalah 
sistem setoran pada angkutan umum. Saya kira kalau Pemprov DKI mau melakukan 
terobosan, sistem gaji untuk semua pengemudi bus layak dicoba. Sistem setoran 
yang selama ini dilakukan terbukti menyumbang peranan cukup besar terhadap 
kemacetan. Sistem setoran memaksa�pengemudi bus untuk�melulu ngetem demi 
mendapat penumpang. Itu pun di sembarang tempat, sehingga ketika jam sibuk 
tiba, kemacetan justru makin menggila.�Ini konsekuensi logis, mengingat 
penghasilan mereka akan sangat kecil kalau tidak memenuhi setoran harian. Itu 
pun masih dipotong "pajak" jalanan oleh para preman timer dan oknum petugas 
sendiri. Sudah seharusnya Pemprov mengganti sistem primitif bernama setoran 
dengan sistem gaji.�Sebenarnya proyek busway cukup bagus dan ideal, walau tak 
dijalankan dengan becus.
�
Singkat kata,�gagasan saya dapat diringkas seperti ini:
1. Pemprov (kalau perlu pemerintah pusat) harus meningkatkan jumlah dan 
kualitas transportasi publik yang murah dan terintegrasi (termasuk meremajakan 
bus2 tidak layak jalan seperti Metro Mini dan Kopaja, juga meneruskan program 
monorail dan MRT yang hanya berhenti di mulut dan awang-awang). Dampaknya: 
masyarakat akan mau menggunakan transportasi publik ketimbang memakai atau 
membeli kendaraan pribadi.
2.�Ketika poin 1 sudah berjalan baik, langkah berikutnya adalah pemerintah 
harus meningkatkan pajak kendaraan bermotor�dan tarif parkir.�Tapi jangan 
poin 2 ini yang didahulukan. Ngawur namanya. Dampaknya: masyarakat akan 
berpikir 10 kali lipat untuk membeli dan memakai kendaraan pribadi. Selama ini 
pemakaian kendaraan pribadi juga adalah salah satu penyumbang kemacetan. Toh 
kalau moda transportasi sangat layak, pemilik kendaraan pribadi juga pasti 
akur2 saja.
3. Berlakukan sistem gaji untuk pengemudi alat transportasi publik. Dampaknya: 
pengemudi akan bersikap lebih tertib, tidak akan ngetem dan berhenti di 
sembarang tempat, karena gaji mereka aman dan tidak dicatut oleh para timer dan 
preman berseragam.�Masyarakat juga bisa "dipaksa" belajar tertib dengan tidak 
menunggu dan memberhentikan bus di sembarang tempat, karena�pengemudi tidak 
akan berhenti kecuali di halte. Kalau masih�ugal-ugalan dan primitif juga? Ya 
potong saja gajinya, atau pecat sekalian.
�
Jadi menurut saya, kita tak usah ribut soal bangun pagi, sholat subuh, repot 
mengatur waktu, siapa yang duluan masuk pagi, merusak keheningan pagi yang 
indah, bawa sarapan dari rumah, dandan di kantor, dsb. Haloo, rabun ubanan cuma 
satu helai kok langsung botakin kepala?? Jangan ikut2an ngaco kayak bos2 
Jakarta itu dong. Sepertinya banyak miliser di sini sudah dikadalin�sama para 
pembuat kebijakan ngawur itu.�
�
Kembalikan saja ke pertanyaan berikut: apakah Anda yakin kebijakan ini akan 
mengurangi kemacetan? Kalau saya yang ditanya, maka jawaban saya adalah: TIDAK. 
Selama Pemprov DKI Jakarta tidak fokus pada sumber utama kemacetan, yaitu hal2 
yang terkait dengan kendaraan pribadi dan transportasi publik seperti uraian 
saya di atas, kebijakan jam belajar anak sekolah ini hanya akan�MEMPERPANJANG 
durasi kemacetan lalu-lintas, bukan menguranginya. Melaksanakan poin2 tadi 
memang butuh biaya, tapi apa gunanya pajak kalau begitu?�Minta duit�ke 
investor juga bisa, seperti pada kasus monorail yang 
mengawang-awang.�Intinya: sediakan dulu kebutuhan masyarakat, baru meminta 
mereka untuk mematuhi kebijakan. Jangan dibolak-balik.
�
Saya hanya menyayangkan bahwa pemerintah melulu memaksa publik untuk 
melaksanakan kebijakan yang mereka buat, dan bukannya menyediakan solusi 
terlebih dahulu baru kemudian mengajak masyarakat untuk mengikutinya. Daripada 
keluar biaya, pemerintah lebih suka menyuruh anak sekolah dan karyawan untuk 
masuk lebih pagi. Kalau cuma begitu gampang banget dong, para pendukung 
kebijakan ini juga bisa bikin peraturan kayak begitu. Saya juga bisa. Tapi saya 
yakin anak2 sekolah akan girang dan mendukung saya kalau pemerintah berani 
melakukan terobosan2 seperti uraian saya di atas. Tapi untuk melakukan itu 
butuh biaya dan keberanian,�dua hal�yang tidak dimiliki bos-bos Jakarta 
itu. Betul?
�
- Indra�


�
--- On Tue, 11/25/08, manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Mulai 1 Januari, Sekolah Masuk Pukul 06.30
To: [email protected]
Date: Tuesday, November 25, 2008, 3:56 PM






Gini deh. Kalo berani, suruh pemkot bikin aturan itu untuk para karyawan dan 
pekerja, jangaan buat anak sekolah. Kan Pak HS sudah kasih contoh bahwa buat 
karyawan nggak apa-apa?
�
Jadi, aturannya buat karyawan saja, nanti kita lihat reaksi para pekerja se-DKI 
kaya gimana. Pemkot DKI tak punya nyali bikin aturan buat orang dewasa 
pekerja/karyawan, karena protesnya bakal amat sangat galak, jadi aturannya 
dibikin buat anak-abak kecil. Betul-betul pengecut....
�
manneke

Kirim email ke