Hai Bung. Senang mengetahui Anda mengenal Opa dan ayah saya, Ronny. Tapi ibu 
ayah saya bukan Gadis Rasyid, yg wartawan itu. Ibu ayah saya namanya Cecilia, 
mereka bercerai setelah memiliki 3 anak. Opa Henk dan Oma Gadis punya seorang 
anak, Ratna.

Kembali ke soal Permesta, konsep awal Permesta adalah otonomi yang lebih baik.
Berikut salah satu cuplikan dari sejarah Permesta.





 

April 1957       

Sesuai dengan Piagam Permesta, Dewan Pertimbangan Pusat
(DPP) Permesta menyusun delegasi untuk bertemu dengan para pejabat di Jakarta.
Henk Rondonuwu bertindak sebagi ketua delegasi dengan Andi Burhanuddin, Achmad
Siala, dan Ny. Towoliu-Hermanses sebagai anggotanya. Delegasi ini ternyata bisa
bertemu dengan Presiden Soekarno dan Bung Hatta, tetapi tidak sempat bertemu
dengan Kabinet yang saat itu telah demisioner menyusul berita Peristiwa
Proklamasi Permesta - 2 Maret di Makassar tersebut.

 

Kepada Presiden, delegasi DPP mengusulkan agar 70% anggota
Dewan Nasional yang akan dibentuknya itu terdiri atas wakil² daerah.

 

Selain itu sangat diharapkan agar Dwitunggal kembali rujuk
untuk memimpin bangsa Indonesia
selanjutnya. Delegasi juga menyampaikan undangan kepada Presiden dan Bung Hatta
untuk menghadiri Kongres Bhinneka Tunggal Ika yang akan diselenggarakan pada
bulan Mei 1957 mendatang.

 

Dalam kesempatan ini, tentu saja delegasi mengalami hambatan
dari pihak yang kurang senang dengan perkembangan di Indonesia Timur. Malah
beberapa tokoh asal daerah Sulawesi menerima surat kaleng yang mengancam jiwa 
mereka.

 

 

8-12 Mei 1957           

 

 

Kongres Bhinekka Tunggal Ika untuk memenuhi Piagam Permesta,
dengan panitia yang dipimpin oleh Henk Rondonuwu, dan ada 122 orang yang hadir
(47 dari Sulsel, 12 dari Sulteng, 6 Gorontalo, 6 Bolmong, 6 Minahasa, 6 Manado,
6 Satal, 6 Malut, 5 Maluku Tengah dan Selatan, 7 Ambon, 8 Irian Barat, 7 Bali,
1 Flores.), dari 30 kabupaten se-Indonesia Timur, wakil² dari kodya Makassar,
tokoh² asal Papua, para anggota DPP Permesta, wakil² daerah di DPR (di Jakarta)
dan Konstituante (di Bandung), yang mana seluruhnya berjumlah sekitar 1500
orang (merupakan pertemuan terbesar pertama di Indonesia Timur waktu itu).

 

Undangan juga dikirim kepada para pejabat di Jakarta & para
gubernur se-Indonesia. Presiden Soekarno yang sebelumnya menyanggupi akan
hadir, ternyata tidak hadir. Bung Hatta mengirimkan prasarannya melalui
rombongan pimpinan adat Sumatra Barat, namun rombongan tersebut ditahan di
Bandar Udara Kemayoran oleh KMKB Jakarta. Beberapa pemimpin yang juga diundang
namun tidak hadir antara lain Perdana Menteri Ir. Djuanda, Letjen T.B.
Simatupang (bekas KSAP), Kolonel M. Simbolon, Letkol Ahmad Husein, Gubernur
Sulawesi Andi Pangerang, Mayor M. Jusuf (padahal sudah dimasukkan dalam acara
untuk berbicara pmengenai persoalan keamanan). Beberapa rombongan dari Ibukota
Jakarta yang akan ke kongres tersebut juga ditahan.

 

Para delegasi tersebut
dibagi dalam seksi² yang pada dasarnya didasarkan pada Piagam Permesta.

 

Dalam rancangan mengenai pembangunan yang dirumuskan dalam
kongres, ditetapkan adanya rencana jangka pendek dan jangka panjang.

 

Rencana jangka pendek
terutama bertujuan menggerakkan industri rakyat seperti penggaraman,
modernisasi alat penangkap ikan, pengolahan sabuk kelapa, benang tenun,
penggergajian kayu, pembuatan genteng, alat² dari kulit, pembuatan perahu,
pabrik sabun, penyelaman mutiara, berbagai minyak cengkeh, dan tembakau rakyat.

 

Rencana jangka
panjang meliputi pembangunan pembangkit tenaga listrik, pabrik² tekstil,
minyak kelapa, semen, kapal, belerang, rokok, assembling kendaraan bermotor,
pertambangan nikel di Pomala dan Sanggalopi, besi di Sumbawa, aspal di Buton,
emas, perak, niel, bauksit, asbes, minyak tanah, dan lain sebagainya

 

Rencana lain yang dihasilkan Kongres Bhinneka Tunggal Ika
dari Seksi Pertahanan, berjudul "Doktrin
Pertahanan Wilayah Indonesia Bagian Timur".

 

Ditinjau dari segi strategi militer, Indonesia Bagian Timur
menduduki posisi penting untuk perjuangan Irian Barat. Selain itu, diperlukan
juga kewaspadaan agar konflik antara Blok Timur (komunis) dan Blok Barat tidak
menjalar ke wilayah ini sehubungan dengan letaknya yang berbatasan dengan
negara² yang terikat dengan Blok Barat (Filipina dan Australia). Untuk itu, 
sangat
diperlukan satu komando untuk seluruh Wilayah Indonesia Timur. Sebab itu
TT-VII/Wirabuana harus dipertahankan (Wilayahnya mencakup 4 provinsi: Sulawesi, 
Maluku, Kep.Sunda Kecil, Irian Barat).

 

Dari segi ekonomi, dokrin pertahanan tersebut mengandalkan
pembangunan ekonomi yang bermaksud agar daerah ini mandiri (selfsupporting),
dalam hal ini bahan² vital yang akan juga membuka lapangan kerja baru.

 


salam,

Monique




--- On Thu, 11/27/08, Wal Suparmo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:




Salam,
Sewaktu saya masih klas 1 SMA di Makassar dan berumur 15 tahun ( 17 tahun tamat 
SMA) saya sudah bekerja di Sk PEDOMAN RAKYAT sebagai pembantu redaksi/redaktur 
opmaker/korektor dibawah pimpinan Bung HENK dan L.MANUHUA ( PAHLAWAN 
NASIONAL).  Setahu saya  Bung Henk adalalah seorang PEMBENTUK partai KEDAULATAN 
RAKYAT(PKR) bersama pak SUPANGAT SH(  salah seorang pendiri Universitas 
Trisakti. Setahu saya Bung Henk TIDAK PERNAH bersimpati apalagi menyokong atau 
terlibat Permesta karena beliau selalu NETRAL dan seorang NASIONALIS TULEN. 
Yang terlibat Permesta adalah MAX WAROUW( seorang redakur/wartawan) yang sangat 
merajalela di Menado pada waktu itu..
Sementara  itu Bung Henk sudah bercerai dengan ibu Gadis.Dan mempunyai 3 anak 
diantara uang tertua adalah RONNY.Monique puteri dari siapa? ( saya masih 
mempunyai foto2 ketika bekerja di koran Pedoman Rakyat, bersama M.BASYIR.Moh 
Husein dsb sedangkan Hennie Katili baru datang belakangan). Ronny tentu masih 
ingat karena perbesdaan umur dengan saya hanya beberapa tahun.

Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Rab, 26/11/08, monique rondonuwu <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Dari: monique rondonuwu <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Soal PRRI/Permesta
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 26 November, 2008, 10:24 AM






Mas Budiman, kebetulan Opa saya Henk Rondonuwu terlibat Permesta. Ide awal 
Permesta adl meminta otonomi utk memajukan Sulawesi. Saya tdk ikuti debat ini 
dari awal, tapi keterlibatan CIA masih bisa diperdebatkan.
 
salam,
 
monique, wartawan (kita bertemu di kantor NU) 

Kirim email ke