Bang Foke,
Rapor anda bukan cuma merah tapi MERAH PADAM!!!
Kalau anak sekolah sekarang nilai ulangannya merah, mereka boleh mendapat satu 
kali kesempatan remedial. Tapi tidak dengan Bang Foke, tidak ada istilah 
remedial, saya kapok memilih anda, Bang!! Satu kali saja anda jadi Gubernur 
DKI...ternyata anda sama saja, bukan ahlinyee...

Pagi ini (pk 9.45 - sudah jauh lewat jam masuk sekolah), saya memutuskan 
menitipkan kendaraan di kantor suami, di Jl. Buncit Raya, demi menyaksikan 
kemacetan yang luar biasa sepanjang buncit mampang, dan memutuskan naik busway 
dari halte imigrasi. Setelah berjalan kaki 10 menit, sambil rebutan trotoar 
dengan pengendara motor, saya lalu menuju jembatan untuk tiba di loket karcis 
busway...Apa yang terjadi?? Saya ditolak membeli karcis dengan alasan jalanan 
macet, tidak ada busway...lohhhh....??!! untung saja pengumuman hanya dibuat 
dengan tulisan tangan di selembar kertas ukuran lebih lecil dari A4. Jadi saya 
pikir, ini bukan keputusan resmi. Saya ngotot, kenapa pengumuman bukan di buat 
di bawah. Saya sudah susah payah naik ke atas ditolak. Lalu saya bersikeras 
tetap membayar karcis dan menunggu busway.

Setengah jam menunggu tidak ada tanda-tanda menggembirakan. Sementara Busway ke 
arah Ragunan sudah lewat berkali-kali. Akhirnya saya berinisiatif naik busway 
ke arah Ragunan dan turun di Halte Pertanian untuk berganti busway, lalu 
menunggu Busway ke arah Kuningan. Lewat setengah jam saya baru dapat kesempatan 
naik. Turun di halte Halimun lalu naik bajaj ke Menteng (7 menit). 

Jadi, menggunakan busway dari Buncit Raya (halte Imigrasi) ke Menteng, saya 
menghabiskan waktu 2 jam!!! Gak lebih cepat dari naik mobil pribadi kann...?? 


ks




________________________________
From: manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, December 1, 2008 7:40:34 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Rapor Merah buat Bang Foke


Pengalaman 30 tahun lebih di pemerintahan DKI tapi mampunya cuma sebatas bikin 
kebijakan memajukan jam sekolah anak buat menanggulangi kemacetan lalu-lintas 
di DKI? Masya Allah....
 
manneke

--- On Sun, 11/30/08, Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id> wrote:

From: Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id>
Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Rapor Merah buat Bang Foke
To: Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com
Received: Sunday, November 30, 2008, 4:54 PM

Oleh Banu Astono
http://kompas. com/index. php/read/ xml/2008/ 12/01/03483450/ rapor.merah. 
buat.bang. foke

Sebagai seorang yang berkiprah secara profesional dalam tugas-tugas
pemerintahan, saya menjadi lebih paham akan masalah Jakarta, tantangan
dan peluangnya saat ini dan di masa mendatang. Karena itu, saya dapat
langsung bekerja. Jakarta dan masyarakatnya tidak bisa lagi menunggu
karena masalah yang dihadapi harus segera selesai."

Kalimat itu dilontarkan Bang Foke, panggilan akrab Fauzi Bowo, di
hadapan anggota DPRD DKI Jakarta pada tanggal 22 Juli 2007. Kini Bang
Foke bersama Prijanto sudah 1 tahun 55 hari menjabat sebagai Gubernur
dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, tetapi warga belum melihat
ada gebrakan yang berarti.

Meskipun demikian, siapa pun paham, mengurus Jakarta bukan hal yang
mudah. Kota dengan jutaan penduduk ini tentu juga memiliki jutaan
masalah pelik. Namun, sesulit apa pun masalah itu seharusnya tidak
berlaku bagi Fauzi Bowo karena gubernur terpilih ini bukan orang baru
di lingkup birokrasi Pemprov DKI Jakarta.

Fauzi Bowo boleh jadi dianggap sebagai "jawara sejati". Fauzi Bowo
sudah 31 tahun lebih mengabdi di Pemprov DKI Jakarta dan selama itu
pula sentuhan dan pemikirannya sedikit banyak ikut lebur dalam konsep,
visi, dan program membangun Jakarta.

Tidak menjamin

Kenyataannya, di tangan seorang gubernur yang memiliki kompetensi dan
pengalaman selama puluhan tahun di tempat yang sama, ternyata tidak
menjadi jaminan Jakarta bisa menjadi lebih baik. Banyak fakta untuk
membuktikan itu semua. Infrastruktur jalan, misalnya, tetap buruk.
Bahkan dalam setahun terakhir ini kerusakan jalan di wilayah DKI
Jakarta semakin menjadi-jadi.

Kerusakan itu tidak hanya terjadi di wilayah pinggiran Jakarta yang
berbatasan dengan Tangerang (Banten), Bekasi dan Depok (Jawa Barat),
tetapi juga di wilayah jalan arteri dan protokol, seperti di Jalan
Gatot Subroto, MT Haryono, Sudirman, dan Thamrin.

Bahkan, tak sedikit yang menjadi korban hingga meregang nyawa dan
menderita luka parah akibat jalan rusak. Namun, perbaikan hanya tambal
sulam alias menutup jalan lubang, melapisi dengan aspal tipis jalan
yang mengelupas atau bergelombang. Alasannya, karena anggaran tidak
ada, terbatas, atau belum turun akibat macetnya pengesahan APBD DKI
Jakarta.

Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah kemacetan yang terjadi
hampir setiap hari dan setiap jam dari pagi hingga menjelang malam.
Padahal, setiap tahun jumlah kendaraan bertambah dan seiring dengan
itu tentunya kocek pendapatan asli daerah Pemprov DKI meningkat.

Namun, tetap saja pembangunan infrastruktur jalan tidak meningkat
kualitasnya dan hampir tak ada penambahan jalan baru. Proyek yang ada
adalah pembangunan terowongan atau jalan layang, program sisanya
justru mengokupasi jalan arteri untuk bus transjakarta. Itu pun
sebagian besar proyek warisan pemerintah Gubernur Sutiyoso.

Kondisi proyek bus transjakarta koridor selanjutnya setali tiga uang.
Proyek ini macet jika tidak boleh dibilang gagal. Upaya pembangunan
sistem transportasi makro belum sukses. Upaya mengatasi kemacetan
dengan program bus transjakarta juga tidak berjalan mulus.

Proyek ini terus tersendat, mulai dari kendala pajak dalam pengadaan
armada, jumlah armada yang terbatas, kualitas infrastruktur yang
buruk, hingga konflik tarif antaroperator bus yang satu dengan yang
lain tak juga berakhir.

Jawaban yang dicari Pemprov DKI dari semua kegelisahan mengatasi
kemacetan itu adalah mengorbankan anak didik dengan memajukan jam
sekolah. Rencana ini bukan buruk, tetapi bukanlah jawaban mengatasi
kemacetan. Seharusnya Pemprov DKI melakukan pembenahan sistem
transportasi yang baik, mendisiplinkan pengguna jalan, dan menertibkan
berbagai proyek galian yang semrawut setiap menjelang anggaran turun.

Masalah banjir

Demikian juga penanganan banjir mulur mungkret. Proyek penanganan
banjir kanal barat maupun kanal timur tidak bergerak cepat. Alokasi
dana untuk pengerukan 12 kali hanya dialokasikan di APBD sebesar Rp 26
miliar, padahal banyak anak sungai yang dangkal. Di sisi lain, okupasi
lahan daerah serapan terus terjadi, baik oleh hunian ilegal maupun
oleh para pemodal untuk pembangunan properti komersial. Hasil yang
dipetik areal yang tergenang makin luas, frekuensi banjir makin
sering, dan waktu surut makin lama.

Penanganan pendidikan juga belum sesuai dengan janji. Dana perbaikan
sekolah hanya dialokasikan dalam APBD Rp 215 miliar. Itu hanya cukup
untuk membenahi 21 gedung sekolah yang rusak berat. Padahal, ada
sekitar 400 sekolah yang kondisinya juga memprihatinkan.

Masih segudang persoalan, tetapi hulu persoalan itu adalah buruknya
kinerja Pemprov DKI Jakarta maupun DPRD dalam pembahasan APBD. Bahkan,
banyak pihak yang menilai kinerja Pemprov dan DPRD DKI Jakarta selama
tahun 2008 adalah yang terburuk dalam 10 tahun terakhir.

Bagaimana mungkin sebuah pemerintahan bisa berjalan dengan baik jika
hanya memiliki waktu 2,5 bulan untuk menghabiskan anggaran
pembangunannya. Akhirnya, hasil yang dipetik tidak memuaskan. Jalan
dibiarkan rusak, biaya kesehatan orang miskin tak terbayar, ribuan
pegawai tidak tetap terlambat digaji berbulan-bulan, proyek
transportasi angkutan massal macet, dan segudang masalah lainnya.

Kiranya tak berlebihan jika jajaran birokrasi DKI Jakarta pada tahun
2008 mendapat rapor merah dari warga. 

Sumber : Kompas Cetak

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot 
with the All-new Yahoo! Mail.  Click on Options in Mail and switch to New Mail 
today or register for free at http://mail. yahoo.ca

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke