Apa dan siapa pun tidak dapat menghindari hukum alam yang universal sifatnya, yakni perjalanan hidup yang mencakup lahir, tumbuh berkembang, menjadi besar, akhirnya tua dan mati. Tegasnya, mati adalah sebagian dari kehidupan, ini tidak mungkin diubah. Hanya panjang pendeknya perkembangan yang tidak sama; ada yang pendek dan ada yang panjang, tergantung antara lain dari keadaan lingkungan baik dalam mau pun luar.
Demikian juga dengan perjalanan hidup masyarakat; lahir, berkembang dan akhirnya lenyap. Masyarakat kapitalis lahir menjelang terjadinya industrial revolution empat ratus tahun lalu dengan penemuan mesin uap sebagai katalis yang terkuat. Pada permulaan kelahiran dan perkembangannya kapitalisme berupa kekuatan yang sangat progressive, luar biasa menarik dan memberi banyak manfaat kepada manusia menikmati masa keemasan yang belum pernah dialami sepanjang masa sejarah peradaban manusia. Tapi kapitalisme ada kelemahan yang dibawa sejak kelahirannya, ia menguasai alat produksi dan jaring distribusi. Di sisi lain, kelas pekerja hidup hanya cukup tidak mati, bisa kerja dengan persyaratan ketidakadilan. Kelas buruh atau kelas pekerja yang bekerja menghasilkan produk, menghasilkan nilai tambah yang dinikmati oleh manusia, terutama orang-orang yang tidak produktif, mereka-reka keuntungan untuk dirinya sendiri. Dalam keadaan demikian, semua telah menjadi barang dagangan, manusia pun telah dijual belikan, telah menjadi komoditi yang dapat ditawar menawar. Demikian meluas perkembangannya sehingga tidak sadar lagi bahwa gejala-gejala tersebut berupa kejahatan, tidak manusiawi. Perang, counter insurgency, rebellion, drugs, illegal trading, smuggling semuanya dilakukan seakan sesuatu yang wajar, demi meraih keuntungan materil. Keuntungan yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang, sedangkan lainnya menderita akibatnya. Meluasnya kemiskinan, kelaparan, penyakit, kematian bersumber dari perbuatan yang tak berkeadilan. Inilah gambaran perspektif dunia dewasa ini. Dan benggolannya adalah neo-liberalisme Amerika dan sekutunya. Rakyat yang tertindas dan terhisap sudah melawan, bahkan berkali-kali, tapi belum berhasil. Kemenangan akan datang lebih cepat kalau mereka sadar. Kesadaran yang membawa kecerdasan dan persatuan. Ide yang dicanangkan oleh Bung Karno tentang the Emerging Nation itu tepat sekali, unsurnya melawan budaya tindasan terhadap manusia. Dan synergy ini terdapat tidak hanya di Asia, Afrika dan Amerika Latin, tapi juga di Amerika, Rusia dan Eropa. Kaum kapitalis bukan tidak memahami hal ini, justeru sadar betul dengan proses dialektika ini, sebab itu selalu berikhtiar, berusaha melunakkan terjadinya perlawanan. Mereka sadar bahwa perlawanan yang mengarah ke revolusi tak dapat dielakkan. Sejarah telah membuktikan hal ini. Maka timbulah teori Reformasi, Glasnost menurut ajaran teori John Maynard Keynes. Tapi semua usaha ini tidak akan mampu membendung proses perobahan pergantian zaman yang disimpulkan sebagai materiallisme, dialektika dan histori. Dmitry Medvedev adalah orang muda yang cerdas dan tajam pandangannya, sosok yang kini memimpin Rusia. Sebagai mana watak kaum intelektuil, ia mampu membaca situasi, menghitung jalan yang terbaik, dan mengambil pelajaran dari kegagalan pendahulunya. Di pihak lain, Obama juga demikian, mencoba memperbaiki kesalahan pendahulunya, terutama Bush yang telah mempercepat terjadinya keterpurukan hebat yang sedang berlangsung. Namun yang pasti, ia tidak akan menempuh jalan revolusioner. Maksimum yang dapat dilakukan hanya reformasi untuk tambal sulam kerusakan-kerusakan yang dibuat oleh pendahulunya. Ini terlepas dari apakah ia masih kangen dengan nasi goreng, soto Madura atau rambutan. May Swan [Non-text portions of this message have been removed]
