Artinya "piningit" itu kan dari kata dasar "pingit", ya? Jika itu benar artinya, maka satrio piningit itu bagi saya seperti "KATAK DALAM TEMPURUNG" (lha gak pernah keluar, gitu kok?). Jadi sekali keluar ya ......"clingak-clinguk", gak tahu apa-apa dan orang Jawa bilang orang yang gak tahu apa-apa itu artinya: "BODO ELA-ELO". Ntar disuruh "membunuh" orang ya .......dor! dor!...orang dibunuhi saja. Disuruh "ngeruk" uang negara....eh...uang RAKYAT.......ya "dirampok" saja. Apa Indonesia diabad ke 21 ini mau mempunyai pemimpin yang "GITUIAN?!" Lagi-lagi "Satrio Piningit"......"Satrio Pingit"........BASI DEH! Indonesia memerlukan pemimpin yang "PANDAI MENGARAHKAN NEGARA untuk MENCAPAI KEJAYAAN" bagi rakyat sendiri, maupun menjadi CERMINAN DUNIA. Artinya bukan pemimpin yang KORUP; dan juga bukan pemimpin yang hanya MENCARI SENSASI saja. Gelar-gelar bisa SEABREG, tetapi TIDAK BERFUNGSI untuk/atau DEMI RAKYAT dan NEGARA. Bukan pemimpin yang mengeluarkan ATURAN-ATURAN tetapi yang DILANGGAR SENDIRI bersama "kroni-kroni" nya, serta KELUARGANYA! Dan juga bukan pemimpin yang TIDAK TRANSPARAN. Semoga akan ada PEMIMPIN yang bukan "SATRIO PINGIT", tetapi pemimpin yang TRANSPARAN bagi Indonesia mendatang - yang terlihat JELAS dari dulu cara berpikir dan tujuan-tujuan pemikiran-nya demi masyarakat luas, yang sudah bekerja untuk masyarakat dari masa mudanya, dan juga memikirkan kepentingan rakyatnya terlebih dahulu, bukan untuk diri sendiri. Artinya MISI dan VISI kedepan jelas dan mudah dimengerti rakyat biasa. Salam, Yuli
--- On Mon, 2/9/09, Agus Hamonangan <[email protected]> wrote: From: Agus Hamonangan <[email protected]> Subject: [F-P-K] Satrio Piningit To: [email protected] Date: Monday, February 9, 2009, 11:10 PM Oleh Acil BIMBO http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/02/10/ 00424348/ satrio.piningit Ditangkapnya Satrio Piningit Weteng Buwono sempat mencuri perhatian kita. Istilah Satrio Piningit dikenal bukan hanya oleh masyarakat Jawa, tetapi lebih luas lagi. Satria Piningit dipercaya akan menuntun bangsa ini keluar dari situasi dan kondisi yang amat berat. Dia akan membawa kembali bangsa ini ke tatanan kemanusiaan yang benar dan keluar dari zaman edan. Pokoknya, sebuah negeri yang adil makmur, tata tentrem kerta raharja akan terwujud. Keberadaan Satrio Piningit ditutupi misteri, tidak terbuka siapa sebenarnya penyandang gelar itu. â€�Tetapi, munculnya pasti dari zaman edan,â€� kata teman saya yang paham seluk- beluk spiritual Jawa. Saat ini secara diam-diam banyak tokoh yang merasa dan mengaku-aku dirinya Satrio Piningit. â€�Itu sah-sah saja, waktu yang akan membuktikan!â€� katanya yakin. Lalu mengapa mereka tidak mau terbuka seperti Satrio Piningit dari Bekasi itu? Waktu Si Satria dari Bekasi itu ditangkap, saya bergegas ke toko buku untuk mencari buku ihwal Satrio Piningit ini. Ternyata ada beberapa buku. Saya membeli dua buku. Tetapi, nasib saya kurang baik sepertinya. Kedua buku itu isi dan versinya amat berbeda. Malah membuat saya bingung. Seorang satria dalam gambaran saya adalah pejuang yang jujur, berani, amanah pengabdiannya, tanpa pamrih, dan rela berkorban. Menemukan sosok satria saat ini amatlah susah, apalagi yang kita banyak saksikan malah para pembokong, pembohong, antikeadilan, dan pencuri uang rakyat. Mereka tentu saja musuh besar, walaupun berpenampilan bak satria. Makanya jika membayangkan satria yang selalu tampak dalam pelupuk mata saya adalah satria dalam dunia pewayangan, seperti Bima, Arjuna, atau Gatotkaca. Bahkan, ketika Imam Agus Solihin alias Satria Piningit dari Bekasi dikejar polisi, terlintas dalam pikiran saya seorang berbaju Gatotkaca mengintip dari balik gordijn ketakutan karena polisi datang. Ha..! Banyak yang sepakat, kita sepertinya saat ini kita berada di lingkaran zaman edan. Sebelum zaman edan ini kita pernah mengalami zaman normal, zaman keemasan. Saat itulah kita menyaksikan para pejuang kita, para pejuang dan para satria bangsa. Mereka adalah satria-satria andalan bangsa ini. Ke manakah kini para satria bangsa? Apakah sudah hilang pula sifat-sifat satria dari muka bumi Indonesia ini. Apakah kita menunggu Satria Piningit itu karena kerinduan yang membuncah munculnya satria-satria bangsa. Saya sendiri berpendapat tidak ada zaman edan. Punten, we alasannya amat pribadi, yaitu saya tidak mau dikelompokkan sebagai orang yang ikut edan. Saya masih berharap, dari bangsa ini akan muncul satriaâ€"tentu bukan sayaâ€"untuk menyelesaikan masalah bangsa ini. Bahkan, jangan-jangan Satria Baja hitam pun akan mendapat kesulitan untuk menyelesaikannya. Saya sering mengamati gambar para caleg dan berdoa: â€�Jadilah kalian satria-satria pembela kebenaran, pembela rakyat kecil, penumpas korupsi, pembasmi keserakahan.â€� Kalau mereka bisa begitu, rasanya kita tak usah menunggu Satria Piningit hadir. [Non-text portions of this message have been removed]
