Oleh Toto Subandriyo
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/16/00255364/bangsa.tak.sadar.bencana


Bencana alam selalu datang silih berganti melanda negeri ini. Mulai
dari gempa dan tsunami, tanah longsor, kekeringan, demam berdarah
dengue, diare yang meluas, wabah flu burung, letusan gunung api,
semburan lumpur panas dari perut bumi, kebakaran hutan, hingga banjir
yang melumpuhkan jalur pantura beberapa waktu lalu.

Kita juga diingatkan oleh lembaga Geoscience Australia tentang
kemungkinan terjadinya bencana dahsyat yang menimpa Indonesia.
Berdasarkan kajian ilmiah lembaga itu, wilayah Asia Pasifik menghadapi
sebuah era bencana alam dalam skala besar yang bisa menewaskan sampai
satu juta orang pada satu waktu. Indonesia, Filipina, dan China
mempunyai risiko terbesar.

Semua itu seharusnya menyadarkan bahwa bangsa ini ada di pusat ring of
fire, area tempat bertemunya lempeng-lempeng tektonik yang dikelilingi
gunung api-gunung api paling aktif di dunia. Kita juga berada di
wilayah tropis dengan pergantian dua musim ekstrem, musim hujan dan
kemarau. Pada kondisi ini, bencana alam dan pandemi berbagai jenis
penyakit amat mungkin terjadi.

Namun, bencana yang selalu melanda dan selalu membawa kerugian sosial,
ekonomi, bahkan korban jiwa manusia yang tak sedikit itu
mengindikasikan kepada kita betapa bangsa ini tak memiliki kesadaran
untuk antisipasi bencana. Belum ada konsep sistemik, integratif, dan
komprehensif untuk tujuan itu.

Sebatas kompilasi

Indonesia termasuk di antara 168 negara di dunia yang telah
meratifikasi Kerangka Kerja Aksi Hyogo 2005-2015: Membangun Ketahanan
Bangsa dan Komunitas terhadap Bencana.

Kerangka kerja ini menekankan pentingnya identifikasi cara-cara untuk
membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana. Semua
negara dan aktor-aktor lain telah sepakat untuk mencapai hasil-hasil
yang diharapkan dalam 10 tahun ke depan, yaitu penurunan secara
berarti hilangnya nyawa dan aset-aset sosial, ekonomi, dan lingkungan
karena bencana yang dialami komunitas dan negara.

Meski telah empat tahun berjalan, Rencana Aksi Nasional Pengurangan
Risiko Bencana (PRB) yang disusun pemerintah masih sebatas kompilasi
berbagai masukan, belum berbentuk standar rencana strategis. Evaluasi
yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap kinerja PRB
Pemerintah Indonesia Agustus 2008, nilainya jeblok. Dari lima
prioritas aksi yang direkomendasikan, nilai rata-rata yang diperoleh
Indonesia hanya 2,0 (skala penilaian 0-5).

Meski Badan Nasional Penanggulangan Bencana sudah terbentuk, tetapi
belum ditindaklanjuti hingga tingkat provinsi/kabupaten/kota. Lembaga
bentukan masyarakat untuk penanggulangan bencana dinilai masih
bersifat sporadis, terbentuk saat terjadi bencana, sedangkan
kelangsungannya masih dipertanyakan.

Meski sejumlah produk undang-undang kebencanaan sudah lahir, hal itu
belum dijabarkan dalam bentuk peraturan yang lebih operasional. Sistem
peringatan dini bencana banjir, tanah longsor, dan gunung meletus,
masih buruk. Satu-satunya peringatan dini yang dinilai baik hanya pada
ancaman tsunami.

Kearifan lokal

Mau tidak mau, suka tidak suka, bangsa ini harus menjadi bangsa sadar
bencana. Antisipasi datangnya bencana harus menjadi bagian tak
terpisahkan dari pola hidup dan aktivitas keseharian masyarakat.
Budaya akrab lingkungan, antisipasi, dan mitigasi bencana harus sudah
tertanam sejak usia dini melalui pendidikan di berbagai jenjang
pendidikan formal.

Kita dapat memetik pelajaran dari kisah Tilly. Saat bencana tsunami
melanda pantai barat Thailand tahun 2004, gadis kecil dari Inggris itu
berhasil menyelamatkan banyak orang berkat pelajaran tentang tsunami
dari gurunya di sekolah. Gerakan ”kecil menanam, tua memanen” dan
penetapan bulan Desember sebagai ”bulan menanam”, harus dijadikan
sebagai gerakan nasional yang terkoordinasi dan berkelanjutan, bukan
sekadar acara seremonial.

Kita juga perlu memelihara kearifan lokal (local wisdom) yang sudah
lama dimiliki masyarakat. Masyarakat Bali memiliki adat yang melarang
menebangi pohon; mereka yang melanggar mendapat sanksi dari masyarakat
adat. Orang Jawa dulu punya kebiasaan membuat kolam kecil (blumbang)
di halaman rumah. Selain berfungsi sebagai resapan air, kolam itu juga
bernilai ekonomis untuk memelihara ikan.

Orang Jawa juga memiliki sarana komunikasi tradisional berupa
kentungan. Jika sarana komunikasi itu ditabuh terus- menerus (titir),
pertanda bencana banjir akan melanda wilayah mereka. Warga di
sepanjang aliran Sungai Ciliwung, Jawa Barat, selalu meneriakkan kata
”ca’ah... ca’ah... ca’ah...” secara estafet dari hulu ke hilir sebagai
peringatan datangnya banjir.

Kini, semua kearifan lokal itu sepertinya memudar. Pohon di hutan
dibabat habis, resapan air di halaman rumah dipenuhi beton. Akibatnya,
intensitas banjir dan tanah longsor kian meningkat.

Bukankah semua ini merupakan bentuk tindakan bunuh diri secara ekologis?

Toto Subandriyo Alumnus IPB dan MM Unsoed; Aktivis Lembaga Nalar
Terapan (LeNTera), Tegal, Jateng

Kirim email ke