Kepada Yth.,
Teman-teman Penikmat Sastra

Bale Sastra Kecapi kembali akan menyelenggarakan Serial Diskusi yang 
ke-16 dengan topik kali ini: "Sastra dan Pemberadaban". Acara yang 
diselenggarakan bersama Harian Umum Kompas dan Bentara Budaya 
Jakarta akan coba melihat peran sastra dalam hidup mutakhir kita. 
Semoga Sobat berkenan menyebarluaskan kepada sejawat atau teman-
teman di komunitas Anda. 

Mohon pemberitahuan ini juga dianggap sebagai undangan untuk 
menghadiri acara tersebut. Diskusi akan diikuti dengan acara buka 
puasa bersama. Terima kasih.


Geger Riyanto                                           
Koordinator     08561286005                                     
        


"Sastra dan Pemberadaban"


Salah satu persoalan mutakhir yang dihadapi bangsa Indonesia 
belakangan ini, bukan hanya soal krisis ekonomi, tapi juga perilaku 
sebagian kelompok masyarakat yang dengan ringannya melanggar kaidah-
kaidah etis-normatif, tradisi bahkan hukum formal. Berbagai sebab 
mungkin dapat ditengarai, salah satunya adalah, lemah dan 
melumpuhnya berbagai sektor pengembangan, pengajaran dan pewarisan 
nilai-nilai keadaban yang dimiliki negeri ini dalam sejarah 
kebudayaannya yang kuat. 
        Selain pendidikan, agama, atau tradisi, kesenian dan 
khususnya kesusastraan adalah agen atau sektor yang penting dalam 
proses pengadaban publik itu. Dalam sejarahnya, di skala lokal, 
nasional hingga global, sejarah menunjukkan bagaimana karya-karya 
sastra memainkan peran itu tidak sekadar sebagai klangenan. Namun 
justru menjadi misi utamanya, baik dalam bentuk, gaya, isi, hingga 
pemikiran yang melatarbelakanginya.
        Karya-karya sastra purba yang lahir di Yunani, India atau 
Cina, seperti Illiad-nya Homerus, Mahabharata-nya Wyasa, atau 
penyair-penyair Cina ratusan tahun sebelum masehi memperlihatkan hal 
itu dengan jelas. Sebuah jejak yang kemudian diikuti dengan tegap 
dan setia oleh para pujangga dan sastrawan dunia lainnya, di jazirah 
Arab, Persia, Eropa, Amerika hingga Afrika modern. Dari Shakespeare, 
Dante, Rumi, Al-Arabi, Tagore, Kawabata, hingga Borges atau Pamuk di 
belakangan hari.
        Begitu di tingkat nasional. Kita mengenal pengarang, sejak 
masa empu Prapanca, Amangkurat IV, Ronggowarsito, hingga Sutan 
Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Rendra dan Joko Pinurbo di masa 
mutakhir. Semua dengan secara sadar, secara intelektual, emosional 
dan spiritual, seperti mengemban misi melakukan "pengadaban" dengan 
cara menyebarluaskan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, budi sikap 
serta perilaku individual dan sosial, atau cara berpikir dan 
kreativitas yang indah. Adab disebarluaskan, dikembangkan, 
dipromosi, dan dijadikan ukuran.
        Namun, ketika masyarakat –dimana sastra itu berdiam, lahir 
dan tumbuh—ternyata berkembang menjadi asosial, bi-adab, kasar dan 
telengas seperti digambarkan mula di atas, apa kemudian sebenarnya 
terjadi? Sudahkah peran sastra yang historis dan legendaris itu 
sudah tiada, luntur, atau beralih rupa? Adakah sastra kalah atau 
takluk oleh proses-proses pengadaban yang lebih modern, seperti yang 
dilakukan televisi, radio, koran, billboard dan sebagainya? Atau 
sastra itu sendiri sudah berubah? Atau malah pengarangnya sudah 
memindahkan orientasinya? Dimana sebenarnya peran sastra secara 
nyata pada konstelasi hidup yang kian rumit hari ini? Kenapa para 
elit, petinggi dan khususnya decision makers di negeri ini semakin 
terasing dari pergaulan dan wacana sastra dan kesenian?
        Serial diskusi yang mengambil tema "Sastra dan Pemberadaban" 
ini rencananya akan diselenggarakan pada:       

Waktu           : Rabu, 25 Februari 2009, 15.00 WIB
Tempat  : Bentara Budaya Jakarta
                  Jl. Palmerah Selatan 17 Jakarta
Pembicara       : Thamrin Amal Tomagola (Sosiolog)
          Jakob Soemarjo (Pengamat Sastra)
          Putu Wijaya (Sastrawan)
Moderator       : Radhar P. Dahana


        Diskusi serial di atas diharapkan dapat diikuti oleh para 
aktivis sastra, sastrawan, pengamat, penikmat, wartawan, mahasiswa 
dan pihak-pihak lain dalam masyarakat sastra. 



Kirim email ke