Horas Bapatua, Susah bila saya yg didaulat untuk 'ngobrol' kepada Hotman Paris Hutapea. Saya nanti harus melakukan 'partuturan' (menceritakan hubungan kekerabatan) terlebih dahulu. Repot!
Belum lagi klo menyinggung soal adat! Bahh, pengetahuan saya tentang adat Batak masih sangat minim. Harus belajar banyak lagi ke Bapatua! Kenapa para pengacara itu susah mengamalkan 'pro bono'? Alasannya (mungkin) karena mereka sudah mendapatkan tiga keberhasilan/tujuan/pencapaian hidup versi Batak, yaitu: 'hamoraon' (harta & pendidikan), 'hasangapon' (status sosial & prestise), serta 'hagabeon' (keluarga & keturunan)! Bagi mereka yg merasa sudah 'sukses' itu, (mungkin) solidaritas sosial tak mendapat tempat lagi di nurani. Padahal, ada 'umpasa' (nasihat dalam budaya Batak) yang berbunyi: 'Masiamin-aminan songon lampak ni gaol, masitungkol-tungkolan songon suhat di robean.' E..matutu! (seperti pisang yang kulitnya tebal & seakan-akan berlapis-lapis serta bagaikan talas yg tumbuh dengan saling melilitkan diri di jurang yg terjal). Itulah yg harusnya kita amalkan bersama: solidaritas & bahu-membahu dalam menghadapi ketidakadilan. Ibu Silitonga yg mengalami koma selama tiga bulan, Engkau ada dalam doa saya! Salam, Patrick Hutapea --- In [email protected], Godlip Pasaribu <marnagan2...@...> wrote: > > Coba lae bilanglah sama si Hotman Paris Hutapea, kan kalau yang ngomong dongan sabutuha (teman semarga) mungkin dia nggak tersinggung. Jangan hanya kalau kasus besar atau orang terkenal baru kedengaran menggebu-gebu. Horas! > > "The habitual struggle to be always good is unceasing prayer." >
