Oleh BUDIMAN SUJDATMIKO
Mengapa dan atas sebab apa seorang pemimpin monumental dilahirkan oleh sebuah bangsa pada sebuah zaman? Simon Saragih mencoba membantu kita mencari jawabannya lewat bukunya "Ketekunan dan Hati Putih Barack Obama". Baru separuh perjalanan saya membacanya, saya terbantu menjawabnya ketika mulai membaca halaman 109 dari 374 halaman buku ini. Persis pada halaman itu, saya melihat monumen ke-Amerika-an dan kepribadian sekaligus diangkat ke panggung dunia, ketika Obama menjadikan riwayat dirinya sebagai awal pada pidato Konvensi Nasional Partai Demokrat pada 2004. Saat itu Partai Demokrat mencalonkan John F Kerry dan John Edwards sebagai presiden dan wakil presiden pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2004. Deklarasi kemerdekaan Dengan mengisahkan mengenai karakter multikultural dan multiras yang mengalir dalam tubuhnya, seolah Obama ingin mengatakan bahwa Deklarasi Kemerdekaan Amerika itu hidup dalam tubuh pribadi dan tubuh politiknya dengan menegaskan bahwa "semua orang terlahir dengan kesempatan setara" (Deklarasi Kemerdekaan Amerika). Akan tetapi, apakah dunia atau khususnya rakyat AS tidak pernah mendengar pidato-pidato hebat dari para politisi dan pahlawan-pahlawan mereka sehingga pidato Obama pada Juli 2004 di Boston itu dianggap monumental? Dunia tentu tidak kekurangan juru pidato yang memukau, bahkan meskipun mereka harus memolesnya dengan mengutip ungkapan-ungkapan gagah dari para petarung dunia maupun pionir perdamaian. Yang dimiliki Obama adalah dirinya merupakan konteks dan contoh yang paling mudah disepakati dari kebenaran premis-premis sederhana bangsa Amerika di awal-awal berdirinya. Premis-premis tentang kesetaraan, kebebasan, kemerdekaan, dan semacamnya yang sekian puluh tahun terakhir tampak terkubur oleh gedung-gedung pencakar langit keangkuhan modal keuangan global dan kekuatan-kekuatan dominasi kekerasan dalam politik luar negerinya. Politisi akar rumput Buku yang ditulis Simon Saragih ini menguraikan fakta-fakta kisah seorang dari ras minoritas Afro-Amerika yang menjadi korban diskriminasi ras. Saat bersamaan, Obama dilukiskan sebagai orang biasa, tetapi punya talenta besar dan cita-cita luar biasa. Obama dilukiskan sebagai bagian dari keluarga "orang kebanyakan" secara sosial ekonomi. Justru dalam buku ini dilukiskan dengan detail bahwa mimpi-mimpi sosial yang besar untuk bangsanya dan cita-cita pribadinya yang ambisius dimulai dari persentuhannya secara nurani, nalar bahkan fisik dengan kekumuhan, kemiskinan, kegelapan kulit, dan rasa sakit yang ditanggung orang-orang miskin di perkampungan kumuh Chicago. Itu dilakukannya baik setelah lulus dari Universitas Columbia maupun dari Universitas Harvard sebagai lawyer. Ini sebenarnya kisah sisipan yang agak aneh dari kisah kebanyakan lulusan Ivy League (istilah yang merujuk pada kumpulan yang eksklusif dan sering kali jumawa dari delapan universitas paling top di wilayah pantai timur AS di mana di antaranya adalah Columbia dan Harvard). Pekerjaannya sebagai aktivis sosial adalah mengorganisasikan dan membantu komunitas miskin perkotaan (urban poor), setelah dia meninggalkan pekerjaannya yang prestisius sebagai pengacara di Chicago (hal 58-80). Ini sebuah pilihan karier yang "sangat menyimpang" bagi seorang jago debat ulung dari Harvard Law School, yang pernah mencetak record mengalahkan juru debat dari Yale Law School sebanyak 63 kali! (hal 69). Sebagai seorang politisi pun, perjalanan Obama tidak dilaluinya dengan mulus. Sebagai seorang separuh hitam dengan nama berbau Arab, orang-orang sinis dari sayap kanan AS pasti akan mudah menjadikannya sebagai sasaran fitnah dan intimidasi. Konotasi dengan Islam yang terutama dikaitkan dengan apa yang disebut sebagai "terorisme", ayah kandung dan ayah tirinya yang Muslim, kedekatannya di kala muda dengan kalangan Sosialis, persahabatannya dengan sesama pengajar di Universitas Chicago, Professor Bill Ayers, yang namanya sering dikaitkan dengan kelompok kiri garis keras AS pada akhir tahun 1960-an, menjadikannya sebagai sasaran empuk propaganda hitam. Propaganda hitam tersebut berasal baik dari lawan-lawannya dari Partai Republik, maupun juga dari Hillary Clinton yang menjadi pesaingnya dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat. Ada satu pertanyaan di halaman 282 dari buku ini, yaitu: "Jika Para Orator Ini Jatuh, Mengapa Obama Tidak?" Buku ini mencoba merangkum komentar orang-orang mengenai kualifikasi-kualifikasi yang menyelamatkan Obama sehingga tidak terperosok menjadi politisi dan tukang pidato yang pas-pasan. Di antaranya adalah penjelasan bahwa faktor kecemerlangan otak adalah yang menjadi alasannya. Namun, pendapat lain mengatakan bahwa riwayat hidup yang memukau itulah yang menyebabkan dia menjadi pribadi yang menarik. Kepribadian yang diriasi dengan sifat rendah hati dan tidak meremehkan orang lain. Jim Margolis, ahli strategi kampanye menegaskan bahwa "kombinasi dari banyak hal" yang "terbungkus dalam keotentikan"-lah yang menghadirkan Obama sebagai sebuah kebaikan yang nyata mengenai sosok pemimpin (hal 283). Namun, menurut saya, hanya setelah membaca tuntas buku ini sampai hal 359, maka jawaban atas pertanyaan: "mengapa dan atas sebab apa seorang pemimpin monumental dilahirkan oleh sebuah bangsa pada sebuah zaman?" baru bisa kita temukan. Berpidato dari Hati Setelah menyimak riwayat hidup dan pidato-pidato penting Obama, saya diingatkan bahwa kata-kata yang berani dan indah tidak bisa menyulap seorang pengecut menjadi pemberani. Karena konteks kebenaran kata-kata, pertama-tama tergantung dari siapa yang mengucapkannya. Cerita hidup Obama adalah konteks dari teks yang kerap diucapkannya dengan elegan itu. Obama tampak sangat legitimate ketika dalam pidato-pidatonya dia kerap kali mengutip Abraham Lincoln, Presiden AS antiperbudakan yang dikaguminya. Sikap dirinya atas diskriminasi ras selalu konsisten. Meskipun sering diasosiasikan sebagai Afro-Amerika, Obama tidak mau terjebak ke dalam pemihakan yang tak seimbang terhadap kulit hitam. Itu yang menyebabkan daya kata-katanya punya tuah. Bagi Obama, argumen pertama bagi sebuah visi politik tidaklah terletak pada logika atau permainan bahasa, melainkan pada alur tindakan politik dan pribadi pada masa lampau. Memang ada sebuah buku yang ditulis oleh Shel Leanne (Presiden Wishel Corporation, yaitu sebuah perusahaan pengembangan kepemimpinan) berjudul Say It Like Obama: The Power of Speaking With Purpose And Vision yang merangkum aspek-aspek teknis berpidato ala Obama. Namun, membaca buku tersebut tanpa menyelami kekuatan yang terdahsyat dari pidato Obama (yaitu riwayat hidup dan kepribadian Obama sendiri), maka kita seperti ditakdirkan menembakkan selongsong peluru yang kosong. Mencapai sasaran tanpa bisa mengubah apa pun. Memindahkan begitu saja kutipan dan teknik berpidato para pemberani ke mulut seorang pecundang, itu sama seperti menangkap dan memasukkan seekor burung dari surga yang kicaunya merdu ke dalam sangkar. Seseorang akan kehilangan sorak kicau indahnya karena hanya seekor burung yang bisa ditangkapnya, tetapi tidak bersama sungai dan angkasanya, seperti pernah diingatkan oleh penyair Ralph Waldo Emerson. Simon Saragih hendak membagi hikmah tentang "sungai dan angkasanya Obama" dengan kita semua melalui buku ini. (Budiman Sujatmiko, Pegiat Politik PDI Perjuangan) http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/22/00582820/persenyawaan.nurani.nyali.dan.jiwa.bangsanya
