Oleh Samuel Mulia

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/22/0145005/cermin


Katanya saya itu harus becermin supaya jangan terlalu pongah dan
supaya lebih melihat kenyataan. Maka suatu hari, sehabis Jakarta
diguyur hujan dan langit masih menyisakan kelabunya plus angin yang
menderu cukup keras, saya bertelanjang di depan cermin.

Kebetulan satu bagian dari dinding di ruang tamu apartemen sudah saya
cerminkan. Tinggi dan melebar. Dengan demikian, saya dapat melihat
diri seutuhnya. Kalau kurang kerjaan, atau lagi "kesurupan", saya
menari-nari di depannya. Minggu lalu, meniru Madona, lain waktu
meliuk-liuk seperti ular.

Pada usia nyaris senja, badan saya masih cukup tokcer menyaingi Madona
dan ular, goyangnya juga tak kalah dengan goyang Mbak Inul. Kaki masih
jelita. Jenjang, lincah, dan tertata. Untuk pertama kalinya nurani
saya membela. "Still rocking, girl."

Saya teriak, "Huh? Kok girl?"

Ia bersuara lagi, "Udah deh, goyang aja terus."

Evaluasi raga

Di depan cermin itu semua tampak jelas. Tak ada yang tersembunyi.
Ketelanjangan itu, aktivitas agar saya bisa melihat bentuk tubuh
secara proporsional. Supaya saya tahu bagaimana berpakaian dengan
benar, bukan menipu, bukan selalu bersembunyi melalui saran yang
disebut banyak orang dan majalah. Supaya saya bisa tahu "dosa-dosa"
saya. Bukan hanya dengan mudah mengenakan warna gelap untuk mengelabui
dan menutupi banyak dosa itu. Yang saya maksud dosa adalah perut
buncit, lemak di bagian perut atas, paha yang pas untuk dipakai
pemukul saat main kasti.

Dengan bertelanjang di depan cermin, saya bisa menentukan bentuk
busana seperti apa yang harus saya kenakan, aksesori apa yang akan
melengkapi penampilan itu agar menjadi komposisi menarik dalam
penampilan, bahkan siluet busana seperti apa yang cocok untuk bentuk
tubuh saya yang seperti jarum pentul. Jarumnya adalah tubuh dan
pentulnya adalah kepala saya. Nurani saya menyindir lagi. "Cocok loh,
Mas, buat orang-orangan sawah. Pancen aman sawahnya."

Cermin itu ternyata juga membantu membuka borok supaya bisa
disembuhkan. Tentu, kalau mau. Misalnya saja, melihat perut buncit.
Saya berdiam diri, melihat dengan teliti, merenung sekian menit, tatap
terus cermin dengan kebuncitan itu, maka biasanya nurani saya akan
bersuara. "Kok ya bisa kayak gentong. Apa yang sudah saya makan?"

Untuk bisa merenung dalam ketelanjangan, selain kemauan, nurani yang
gampang menjerit seperti punya saya juga sangat diperlukan. Kalau
bebal susah.

Saya pernah punya nurani bebal. Kalau sudah begitu, melihat perut
buncit responsnya jadi berbeda. Begini, "Wis huebat … perutnya sudah
buncit. Tak seperti zaman mahasiswa dulu. Kere tur kuru (miskin dan
kurus). Sekarang … weh … dah kaya. Wis tho. Te o pe be ge te. Makan
uenak, hati gembira, pacar banyak."

Kalau di tengah kebebalan nurani, masih ada sisa yang tidak bebal dan
yang sisa itu berbisik begini, "Gak olahraga?" Maka, nurani yang bebal
dan yang dominan membalas lagi, "Huh? Apa? Olahraga? Apaan, tuh?"

Evaluasi mental

Dengan raga tanpa secuil kain itu saya dapat melihat bentuk kepala,
melihat ruang antara leher dan badan yang masih oke, meski tidak jenjang.

Kembali melihat wajah, ternyata alis saya tumbuh di tengah dan tidak
di ujung tulang hidung. Ah … hidung saya ternyata besar banget. Nurani
saya berkicau soal hidung. "Batangnya memang kecil, tapi nek …
ujungnya duong. Ampyun."

Kebesaran lubang hidung itu saya warisi dari Ibu. Turun terus ke
bawah, wah ternyata lebih hancur.

Lengan saya lurus seperti gagang sapu. Kurus banget. Tulang dada
terlihat jelas. "Gak perlu rontgen ya, bo," nurani itu bernyanyi lagi.

Kemudian perut saya cukup oke. Pinggang? Jangan ditanya. Meliuk,
ramping. Itu yang tampak depan. Yang belakang? Benar-benar hancur.
Bokong tepos. " Hi-hi-hi...."

Yang tertawa itu nurani saya. Dia tahu mengapa bokong saya begitu.
Pundak saya jauh dari mulus, tak beda dari muka saya. Sebelas, dua
belaslah.

Pada suatu hari saya ke butik, tak perlu disebutkan namanya, nanti ada
yang tersinggung. Nurani saya mencoba memancing, "Lokal apa
internasional?"

Saya membalas, "Shut up."

Susah memang jadi jujur. Ada harga yang harus saya bayar dan harganya
enggak kuat saya bayar. Salah … jujur itu enggak susah, saya yang
takut dengan risikonya. Jadi, kelihatan susah.

Nah, sampai di butik saya tertarik dengan salah satu pakaian yang
ditawarkan, kemudian saya mencoba dan masuk ke ruang ganti. Setelah
pakaian itu dikenakan saya menghadap cermin. Kok tiba-tiba saya merasa
kurus sekali dan menjadi semampai? Apa iya diet dan olahraga yang saya
jalani itu sedahsyat titipan kilat dan mi instan? Saya berputar-putar
di depan cermin dan tak memercayainya. Tetapi, apa boleh buat saya
suka dengan pakaian itu dan saya beli.

Beberapa waktu kemudian saya bertemu dengan teman-teman. Salah satu
dari teman saya itu punya pengalaman seperti saya. "Lo mau tau enggak,
cermin yang dipakai itu memang menguruskan lo. Itu punya efek
melangsingkan. Jadi, di depan cermin seperti itu kita kelihatan lebih
kurus dan slim."

Setelah pertemuan itu, saya kembali ke apartemen. Terus langsung
menghadap cermin besar itu yang menjadi salah satu dinding ruang tamu.
Saya menciumnya betubi-tubi, saya berterima kasih karena cermin di
rumah saya tak membohongi saya, ia membuka saya apa adanya. Saya tak
pernah tertipu karenanya, ia bicara jujur, sehingga saya tahu apa yang
harus saya lakukan.

Cermin saya bukan seperti foundation yang dipakai untuk menutup kulit
hitam supaya lebih putih dan menutup bercak supaya tak kelihatan.

Cermin saya memang sepertinya enggak tahu diri, menusuk saya, tetapi
saya sekarang lebih memilih ditusuk daripada dibohongi. Dan, saya
belajar dari cermin di butik itu, kalau saya berbisnis mungkin
membohongi tak boleh masuk agenda strategi pemasaran saya. Saya hanya
harus benar dalam membuat produk yang saya tawarkan. Itu saja.

"Eh … by the way … butiknya duong namanya apa? Kan supaya akyu gak
ketipyu seperti kamyu," nurani saya mencoba-coba lagi. Saya berteriak
makin keras, "Syaaat… appp."

Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup

Kirim email ke