"Tentang pernyataan Bung Verdi "teori akan selamanya jadi teori" saya tetap kepada pendirian saya bahwa teori bisa terbukti salah dan tidak dianggap lagi teori. Contohnya teori atom Dalton. " -- Apabila Anda mengatakan bahwa teori yang (telah) terbukti salah akhirnya disebut "Mitos", lalu memberi contoh <dalam kata-kata Anda sendiri> "teori atom Dalton", jadi Mengapa- Anda masih menyebutnya "-->teori<--- atom Dalton"? Mengapa tidak "Mitos atom Dalton?"
- "Bung Verdi bisa saja merasa keberatan mitos dalam dunia ilmu pengetahuan (khususnya sains) kalau dikategorikan sebagai bagian dari sains. Itu karena Bung Verdi sudah hidup dijaman sains modern, tapi kalau Bung Verdi hidupnya dijaman sebelum orang menemukan ...." - Saya tidak pernah keberatan mengenai istilah. Yang saya perhatikan adalah bagaimana hal - yang direpresentasikannya kemudian dipahami. Tentu Saja saya sedang berbicara mengenai "Modern Science". Konteks perdebatan ini, adalah tentang Modern Sains. -- Sains adalah pemahaman mengenai dunia natural dengan cara empiris, teoretikal, dan praktis yang di dapatkan melalui metodogi Sains. Metodologi Sains sendiri baru Ada setelah (dan sepanjang) masa revolusi sains, bersamaan dengan era renaissance eropa, yaitu masa-masa Copernicus, Kepler, Newton dan Galileo; Masa-masa sebelum revolusi Sains, tidak disebut "Sains", melainkan Pra-Sains; karena Syarat utama dari Sains adalah Metodologi. Walaupun Aristoteles sudah menggunakan metode empirik, tapi dia belum menggunakan metodologi Sains. Sains sendiri baru disebut "Ada"--terutama--setelah masa Galileo. Sebelumnya hanya ada 2; Filsafat dan Agama. Jadi pada (dan setelah) masa Galileo-lah, baru ADA yang disebut "Metodologi Sains", dan "Sains" itu sendiri, sebagai sebuah bagian yang mandiri--terpisah dari filsafat. Jadi ketika berbicara "Sains", dan "Metodologi Sains", atau "Expanding Universe", dan sebaginya, sudah- tentu kita bicara dalam bingkai "Modern Sains". -- "Tentang debat kusir apakah bertuhan karena "percaya" atau karena "tahu". Bagaimana anda tahu alam semesta terbentuk dan kapan? Apa anda melihatnya sendiri waktu terbentuk?" - Perihal ini sudah saya post sejak posting pertama. Melihat dengan mata kepala sendiri--Tentu tidak. Para saintis yang "melihat" nya, bukan proses "terbentuknya" tapi- masa setelah momen rekombinasi -- pertama kali ada atom dan molekul pertama sehingga mengizinkan photon bergerak dalam "order" seperti sekarang ini. Seperti yang sudah saya post di awal, semakin jauh mata melihat, semakin jauh ke- masa lalu kita melihat. Bahkan kalau misalnya Anda duduk berdekatan dengan seseorang satu bangku sekalipun, Anda hanya melihat orang itu pada saat nol koma nol kali sepuluh pangkan minus sekian puluh detik yang lalu; Bahkan tidak ada yang di sebut saat ini, karena setiap orang atau setiap binatang atau setiap benda hanya bisa melihat, atau mengalami masa lau orang/binatang/benda lain di luar dirinya. Jadi semakin jauh kita meneropong, semakin jauh ke masa lalu kita melihat. Para Saintis meneropong begitu jauh pada deep-field (ruang kosong di sudut jauh alam semesta)- hingga mencapai titik TERTUA di alam semesta. Dan apa yang terlihat adalah apa yang ditampilkan di situs WMAP sekarang ini: Sisa-sisa radiasi dari suatu waktu saat ikatan atom pertama (Hydrogen) baru terbentuk (belum ada yangl lain), berupa Cosmic Microwave Background. -- BIG BANG bisa dipahami sebagai 2 hal:--> BIG BANG sebagai fakta observasi (Expanding universe--yang mematahkan Static Universe) dan BIG BANG sebagai teori Origin of the Universe. BIG BANG yang pertama adalah bagaimana "Expanding Universe" dikenal, model "non-static" universe yang diajukan Alexander Friedmann (Atas sesuatu yang "ditinggalkan" Einstein untuk "memaksa" rumusnya memenuhi static-model) yang kemudian diobservasi oleh Edwin Hubble. BIG BANG yang kedua adalah Teori BIG BANG, sebagai teori awal alam semesta. Keduanya, walaupun berkaitan, tapi tidak semerta-merta hal yang sama-- Saintis masih melakukan Observasi untuk melengkapi observasi2 yang mendukung atau mematahkan pemahaman bahwa keduanya adalah hal yang sama. - "Kalau tidak pernah melihatnya sendiri dan tidaak pernah membuat penelitian sendiri yang didokumentasikan dan dipublikasikan lantas kenapa bilang "tahu"?" - Ketika saya bicara tentang "tahu" dalam hal ini, adalah dalam bingkai "pengetahuan" (Knowledge), yang didapat dari Sains (Ilmu Pengetahuan). Pengetahuan bisa didapatkan (1) melalui pengalaman atau pendidikan tentang pemahaman praktis akan suatu subyek. (2) Apa yang diketahui mengenai fakta-fakata dalam sebuah bidang tertentu, atau secara keseluruhan. (3) kesadaran yang didapatkan dari pengalaman akan suatu fakta atau situasi. FAKTA itu sendiri dapat ditransmisikan melalui media; Buku, Koran, Film, Internet,-- Yang harus dilakukan adalah mengetahui mana FAKTA yang valid, dan tidak. Setiap Saintis akan mendapatkan FAKTA yang valid dari sumber yang menyediakan sejumlah kriteria tertentu untuk layak menjadi sumber informasi: Saya (Bukan Saintis) mengikuti langkah tersebut. - "Bukankah kalau kita bukan pakarnya apalagi bukan penemu teorinya lebih jujur bilang "percaya" dengan dasar teori-A atas dasar pengetahuan yang dibaca/dipelajari dan bukti-bukti yang dikemukannya. Jadi dalam buku-buku sains pun kata 'diyakini" atau "diperkirakan" bukan kata yang haram untuk digunakan karena sains masih berkembang dan akan terus berkembang" - Apakah ada kata "diyakini" atau "diperkirakan" dalam jurnal sains? Saya ->belum<- melihatnya. Kalau di koran, di majalah, atau di website, dimana saintis berusaha "menterjemahkannya" kepada bahasa umum, atau common sense, mungkin saja, tapi dalam sains sendiri, tidak. Pertama, harus Anda lihat dulu bahwa debat tentang "percaya", "tahu" dan "kira-kira" ini adalah respon yang ditujukan pada salah satu post yang mengatakan "sains mengira-ngira saja", yang seolah menggambarkan seperti kita mengira-ngira takaran kue, atau semacam itu. Yang saya coba luruskan dari awal adalah metodologi sains tidak seperti itu. (demi meluruskan miskonsepsi) Ini adalah contoh sebuah jurnal dari situs favorit saya (karena gratis!) yang memuat jurnal sains. Bisa dicoba di-find- apakah ada kata "Believe", "approx" atau semacam itu ... - http://www.plospathogens.org/article/info:doi/10.1371/journal.ppat.1000278 - Kenapa saya bisa yakin? Karena dari sma dulu saya sudah dilatih menggunakan disiplin pembatasan masalah dan metodologinya. Jadi mengapa "kata" saja begitu penting? Karena itu bukan sekedar "kata", tapi melatar-belakangi hal yang paling fundamen dari Sains: Obyektifitas--"Percaya" dan "Yakin" adalah Subyektifitas seseorang yang dalam Sains akan membuat sesuatu menjadi Bias.. - "kata 'diyakini" atau "diperkirakan" bukan kata yang haram untuk digunakan karena sains masih berkembang dan akan terus berkembang"" - Memang Sains akan terus berkembang, tapi itu tidak membuatnya harus menjadi tidak Obyektif. Sains mengatakan "Mengetahui" fakta-fakta atas sesuatu atau "Memahami" bagaimana fakta-fakta atas sesuatu tersebut berinteraksi atau bekerja dalam dunia natural. Tapi apa yang diketahui oleh Sains itu, tidak pernah ditawarkan sebagai "KEBENARAN" alias "THE TRUTH" alias "HAKEKAT". Jadi apa yang diketahui Sains tentang sejumlah fakta tersebut, atau bagaimana Sains memahami fakta-fakta tersebut bekerja dalam dunia natural, MASIH BISA BERUBAH. Bukan fakta-nya yang berubah, tapi PEMAHAMANNYA. - "Kalau anda mau tahu sikap saya tentang agama, hanya ada dua katadalam pendirian saya "tahu" atau "tradisi". Percaya itu hanya konsekuensi dari "tahu". Karena tahu maka jadi percaya. Tapi kalau tidak tahu atau belum tahu maka tidak usah percaya." - Saya tidak akan mendebat subyektifitas seseorang. Yang menjadi masalah adalah ketika hal tersebut digunakan untuk membuat proposisi "Untuk Percaya membutuhkan Sains". (lihat post yang saya komentari). Karena ada logika sederhana yang membuat proposisi itu menjadi false: -Contoh: -- Apakah orang mengetahui kalau Tuhan itu Ada? Sebab, karena tidak mungkin mengetahui Tuhan itu Ada atau tidak, maka apakah Karena tidak Tahu Tuhan itu Ada atau Tidak membuat orang jadi Tidak Percaya? -- Lebih jauh lagi, adalah hal paling fundamental dari Sains, adalah "Tahu" atau "mengetahui" adalah sebuah proses kognitif yang membutuhkan hal yang paling dasar: "Reasoning." -Contoh Reasoning: -- "Diketahui" dari kitab suci bahwa Tuhan "Ada" dan Omnipotent (Maha tahu, Maha pengasih/sayang, dsb) -- "Diketahui" dari kitab suci bahwa Tuhan punya kriteria untuk memasukan orang ke Neraka atau Surga.. -- "Diketahui" dari kitab suci bahwa seseorang bisa mengubah takdir tersebut, tergantung amal perbuatan. -- Sekarang reason-nya:--> -- Apakah Tuhan sudah tahu kemana orang ini nanti akan masuk? Surga, atau Neraka? (reason - maha tahu) -- Apakah saat ini orang itu bisa mengubah-ubah pengetahuan Tuhan tersebut? (Kalau orang tersebut bisa mengubahnya, berarti Tuhan tidak tahu kemana orang tersebut akan pergi nantinya.) -- Apabila Tuhan sudah Tahu dari awal kemana seseorang akan masuk (Surga atau Neraka), artinya apapun yang dilakukan orang itu sekarang tak akan bisa mengubahnya, yang berarti percuma memberinya kesempatan hidup di dunia, karena Tuhan Sudah Tahu kemana nantinya ia akan pergi. (reason - maha penyayang) -- Jadi reason-nya, Tuhan belum tahu?-- atau Tuhan tidak pengasih/penyayang? -- Tentu saja sifat Omnipotency Tuhan jadi paradox ketika melibatkan reasoning--fundamen dari Sains. Tapi apakah ini membuat orang jadi Tidak Percaya? Tidak. Karena dari itu, Untuk percaya tidak butuh Sains. -- " Tapi ketika tuhan itu berpredikat nggak main-main dan bukan basa-basi "Penciptan dan Penguasa alam semesta beserta isinya" maka segala ayatnya tentang hal yang berkaitan dengan sains WAJIB BENAR." -- Saya sudah contohkan di atas, jadi bagaimana Anda dapat memasukan hal yang paling fundamental dalam Sains tersebut untuk mendukung apa yang Anda tulis?--bila Anda ingin membenarkan (Menjustifikasi) ayat-ayat Tuhan menggunakan Sains? Padahal Paradox itu tidak perlu terjadi, karena Sains sendiri tidak menawarkan Kebenaran atau Hakekat dari sesuatu (Paling tidak sampai saat ini).. Jadi bagaimana ia dapat membenarkan ayat-ayat Tuhan? -- "Kalau seseorang sudah bisa menyimpulkan untuk dirinya bahwa ayat tuhan bertentangan dengan fakta saintifik maka sikap agnostik macam Darwin adalah lebih realistik." ' "jadi terhadap ayat-ayat yang masih jadi perbenturan dengan sains dan masih belumjelas jawabnya terutama buat diri saya sendiri maka sementara saya akan menerimanya atas dasar TRADISI, bukan PERCAYA." ' SALUT! Terus terang, saya sangat menghormati sikap bapak ini. (JUJUR. INI BUKAN PERNYATAAN POLITIS!) Saya mendapat kesan bapak sangat menghormati.Sains, dan saya sangat simpati dengan itu. Tapi ada usul yang coba saya ajukan. Untuk sikap seperti itu, saya mengusulkan bapak mencari dari dua arah: Sains, dan Agama. Agama, biar- bagaimanapun, adalah sebuah institusi dan umurnya telah ribuan tahun. Ada kemungkinan intrepertasi yang dila- kukan, mengingat tidak ada metodologi tertentu yang "fix" sejak saat diturunkannya, punya Bias. Kalau Islam, misalnya, bapak bisa menelaah metodologi Hadits pak Nazaruddin Umar, misalnya. Kalau yang lain saya tidak tahu. -- Itu cuma usul pak. Selamat mencari hakekat. ________________________________ From: Sulaeman_H. <[email protected]> To: [email protected] Sent: Saturday, February 21, 2009 6:50:48 Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Hentikan Perdebatan Soal Teori Darwin ! (1). Tentang pernyataan Bung Verdi "teori akan selamanya jadi teori" saya tetap kepada pendirian saya bahwa teori bisa terbukti salah dan tidak dianggap lagi teori. Contohnya teori atom Dalton. Bahkan yang selama ini sesuatu itu kita bisa sebut-sebut fakta ada juga yang bisa jadi fakta salah sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penelitian. Mengenai mitos. Bung Verdi bisa saja merasa keberatan mitos dalam dunia ilmu pengetahuan (khususnya sains) kalau dikategorikan sebagai bagian dari sains. Itu karena Bung Verdi sudah hidup dijaman sains modern, tapi kalau Bung Verdi hidupnya dijaman sebelum orang menemukan metoda-metoda penelitian yang jauh lebih modern maka mitos itu tidak lain juga bisa dianggap teori. di jaman kuno Aristotle pada 4 abad sebelum Masehi banyak mencetuskan teori fisika dan lainnya . Kalau kemudian dijaman sekarang teorinya banyak yang tidak betul itu tetap dikatakan sains masa lalu. Jaman dahulu pengetahuan dan teknologi manusia masih terbatas, jadi ilmu sains jaman dulu memang bisa lahir dari mitos disamping dari pemikiran. Dijaman kini saja sains sudah dibedakan menjadi sains klasik dan sains modern. Padahal waktu Newton hidup teori mekanika dia justeru disebut sebagai teori modern. Jadi saya secara prinsip tidak keberatan menyebut sains kuno, sains klasik, sains modern. (2A). Tentang debat kusir apakah bertuhan karena "percaya" atau karena "tahu". Bagaimana anda tahu alam semesta terbentuk dan kapan? Apa anda melihatnya sendiri waktu terbentuk? Apakah jawaban anda karena fakta ataukah karena pengetahuan yang diperoleh setelah membaca teori sains yang yang dikemukakan pakar sains dunia dibidangnya? Kalau tidak pernah melihatnya sendiri dan tidaak pernah membuat penelitian sendiri yang didokumentasikan dan dipublikasikan lantas kenapa bilang "tahu"? Bukankah kalau kita bukan pakarnya apalagi bukan penemu teorinya lebih jujur bilang "percaya" dengan dasar teori-A atas dasar pengetahuan yang dibaca/dipelajari dan bukti-bukti yang dikemukannya. Jadi dalam buku-buku sains pun kata 'diyakini" atau "diperkirakan" bukan kata yang haram untuk digunakan karena sains masih berkembang dan akan terus berkembang dan bisa berubah. (2). Kalau anda mau tahu sikap saya tentang agama, hanya ada dua kata dalam pendirian saya "tahu" atau "tradisi". Percaya itu hanya konsekuensi dari "tahu". Karena tahu maka jadi percaya. Tapi kalau tidak tahu atau belum tahu maka tidak usah percaya. Untuk membaca doktrin saja perlu pengetahuan tidak sembarang orang bisa membacanya. Sebab itu dalam uraian saya sebelumnya saya sebutkan agama dan sains jangan dicampur karena memang agama bukan sains. Tapi ketika ada bagian ayat agama berbenturan dengan bidang sains maka jangan disekat pura-pura tidak tahu atau pura-pura bego, tapi direnungkan dan terus dikaji walau tidak pernah selesai sekalipun. Kalau tuhan seseorang adalah sesuatu yang di agungkan, dipuja, disembah, dicintai, dimulyakan dan ditaati tanpa pakai embel-embel titel "Sang Pencipta dan Pengusa Alam Semesta beserta isinya" maka sah-sah saja orang meyakini apapun tanpa harus mempertanyakan benar-salah. Tapi ketika tuhan itu berpredikat nggak main-main dan bukan basa-basi "Penciptan dan Penguasa alam semesta beserta isinya" maka segala ayatnya tentang hal yang berkaitan dengan sains WAJIB BENAR. Seorang profesor, Doktor yang pakar dibidang tertentu saja kalau pernyataannya salah akan dimaki dan dikritik hebat dipertanyakan kepakarannya, masa iya si Pencipta ngomong ilmu pengetahuan ngawur? Kalau tuhan ngomongnya tidak benar, kemungkinannya karena dia Tuhan palsu atau ayatnya dipalsukan atau manusianya yang tidak paham arti sebenarnya ayat tuhan. Jadi dimana letak ketajaman intelektual seseorang kalau dia bisa percaya begitu saja kepada sesuatu tanpa ada dasar pengetaahuan? Terlepas dasar pemikirannya kuat atau lemah, benar atau salah dalam pandangan orang lain, tapi memang beragama mesti punya dasar pengetaahuan. Kalau seseorang sudah bisa menyimpulkan untuk dirinya bahwa ayat tuhan bertentangan dengan fakta saintifik maka sikap agnostik macam Darwin adalah lebih realistik. Saya sendiri belum bisa menyimpulkan sejauh itu, jadi terhadap ayat-ayat yang masih jadi perbenturan dengan sains dan masih belum jelas jawabnya terutama buat diri saya sendiri maka sementara saya akan menerimanya atas dasar TRADISI, bukan PERCAYA. SH
