Dalam diskusi ‘Sastra dan Pemberadaban’ yang diselenggarakan
oleh Bale Satra Kecapi, Kompas dan Bentara Budaya, Putu Wijaya menyebutkan
bahwa pemberadaban sangat potensial dimainkan oleh sastra tetapi juga agama,
pendidikan dan ilmu pengetahuan. 

 

Menurut saya Putu agak kurang tepat menempatkan pendidikan
di dalamnya. Bukan karena pendidikan tidak pokok dan penting untuk
pemberadaban, tetapi lebih karena pendidikan adalah salah satu proses atau
sarana untuk menjadikan ketiganya sastra, agama, ilmu pengetahuan ‘bekerja’
untuk perberadaban.

 

Demikian ketimbang menempatkan agama atau religi, menurut
saya lebih tepat digunakan religiositas. Karena religiositas lebih dalam dan
luas dari pada agama, seperti dikatakan oleh Romo Mangun (Sastra dan
Religiositas, Kanisius 1988) agama lebih menunjukkan kelembagaan kebaktian
kepada Tuhan atau kepada “dunia atas” dalam aspeknya tang resmi, yuridis,
peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya serta keseluruhan organisasi tafsir
Alkitab dan sebagainya yang melingkupi segi-segi kemasyarakatan. Sedang
religiositas menurutnya lebih melihat aspek yang “didalam lubuk hati”, riak
getaran hati nurani pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi
orang lain, karena menapaskan intimitas jiwa. 

 

Tentunya ini bagi saya penting pula untuk mengakomodir pula
sistim kepercayaan (kejawen misalnya), agama bumi atau orang-orang yang tidak
mempercayai agama tetapi percaya atas eksistensi keTuhanan, atau bahkan
orang-orang ateis yang bisa jadi adalah orang-orang dengan religiositas yang
tinggi. Catatan menarik juga diberikan Mangunwijaya ketika mengutip pengarang
roman dan cerpen Inggris terkenal Graham Greene, “There is far more religious
faith in (communist) Russia
than in (Christian) England.

 

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/02/catatan-lepas-dari-diskusi-sastra-dan.html

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke