Say No To Puyer, Stop Polypharmacy And Back To Guideline/EBM

http://puyer.wordpress.com


LAPORAN IPTEK
Kontroversi Puyer dan Polifarmasi
Rabu, 4 Maret 2009 | 05:39 WIB 






Oleh IRWAN JULIANTO

Obat telah lama menjadi bahan perdebatan yang tak berkesudahan. Konsumen boleh 
saja adalah "raja" dalam menentukan pilihan untuk hampir semua jenis barang dan 
jasa yang akan dibelinya, kecuali untuk soal obat: ia harus memasrahkan pilihan 
dan nasibnya pada ujung pena dokter.



Sejarah telah menunjukkan, otoritas meresepkan obat yang diberikan kepada 
profesi kedokteran terbukti kerap disalahgunakan. Ini menimbulkan pengobatan 
yang irasional dan merugikan konsumen. Ivan Illich adalah salah satu kritikus 
terkemuka yang berani mengungkap fakta buruk dunia medis di negara maju maupun 
miskin yang justru mengubah "kesehatan" menjadi "kesakitan".



Awal dekade 1980-an jejak Illich diikuti para kritikus lain, seperti Dianna 
Melrose (menulis buku Bitter Pills-Medicines and the Third World Poor, 1982), 
Milton Silverman (Prescription for Death-The Drugging of the Third World, 
1982), Charles Medawar (The Wrong Kind of Medicines, 1984), hingga John 
Braithwaite (Corporate Crime in the Pharmaceutical Industry, 1984). Mereka 
umumnya membongkar praktik-praktik penyuapan terhadap para dokter yang 
dilakukan oleh industri farmasi lokal hingga yang multinasional.



Sayangnya, para aktivis prokonsumen ini dan gerakan konsumen sedunia gagal 
menekan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengatur peresepan obat yang 
rasional. Alih-alih mengulang keberhasilan gerakan konsumen internasional 
menekan WHO dan Unicef mengatur pemasaran susu formula hingga tahun 1981 kedua 
badan PBB ini menerbitkan Kode Pemasaran Pengganti ASI, Dirjen WHO Halfdan 
Mahler asal Skandinavia yang sosialis tahun 1986 malah diganti oleh Dr Hiroshi 
Nakajima asal Jepang yang pernah bekerja di sebuah industri farmasi 
internasional.



Sejak itu gerakan konsumen untuk peresepan obat yang rasional kehilangan 
gereget. Apalagi dekade 1980-1990-an masyarakat dunia dipusingkan oleh pandemi 
AIDS. Kontrak-mengontrak industri farmasi dan dokter pun berjalan seperti 
biasa, bahkan kian parah. Obat-obat pun makin banyak diresepkan secara 
berlebihan (polifarmasi) dan tak rasional. Perusahaan farmasi swasta nasional 
lebih leluasa mengontrak para dokter karena margin keuntungan yang besar dari 
pembuatan "obat-obat jiplakan" atau me-too drugs (Kompas, 22/11/2000).

"Caveat venditor"



Di tengah-tengah suasana ketidakberdayaan konsumen dan kokohnya hegemoni kuasa 
pena dokter ini, tiba-tiba stasiun televisi RCTI bulan Februari lalu 
meluncurkan rangkaian liputan "Polemik Puyer" yang menghebohkan. Yang digugat 
dalam liputan eksklusif itu adalah praktik peresepan dan pembuatan puyer yang 
sudah menjadi tradisi berpuluh tahun di Indonesia. Sayangnya, liputan yang 
begitu spektakuler sempat direduksi menjadi kontroversi higienis tidaknya 
pembuatan puyer. Padahal, soal yang lebih substansial adalah masalah keamanan 
puyer (terutama bagi bayi dan anak-anak), rasional tidaknya dalam peresepannya 
karena mayoritas puyer adalah campuran banyak jenis obat (polifarmasi).



Adalah dokter spesialis anak, dr Purnamawati S Pujiarto, SpAK yang pertama kali 
mengungkapkan betapa praktik peresepan polifarmasi banyak diberikan untuk 
pasien anak-anak dengan sakit yang umum, seperti diare, panas, batuk-pilek, dan 
masalah infeksi saluran pernapasan. Kebetulan polifarmasi itu diberikan dalam 
bentuk puyer. "Ada anak usia belasan bulan dengan demam karena flu diberi resep 
campuran sampai 12 jenis obat, termasuk antibiotik dan obat penenang," tuturnya.



Padahal, menurut Purnamawati, 95 persen anak dengan sakit yang umum cukup 
diberi satu-dua macam obat saja. Polifarmasi bukan saja merupakan pemborosan 
biaya kesehatan, juga dapat menimbulkan efek samping yang dapat berbahaya bagi 
bayi atau anak-anak kecil.



Kini dengan semakin terdidiknya para orangtua muda, seyogianya para dokter dan 
apoteker lebih berhati-hati dalam meresepkan dan menyiapkan obat bagi bayi dan 
anak-anak.



Ketika Kompas mengunjungi Markas Sehat yang dikelola Yayasan Orangtua Peduli di 
Jatipadang, Jakarta Selatan, Minggu (1/3) petang, terlihat betapa para orangtua 
muda kini makin kritis terhadap rasional tidaknya peresepan yang dilakukan para 
dokter. Dalam masa serba internet seperti saat ini, seruan "konsumen 
berhati-hatilah" (caveat emptor) sudah harus berganti menjadi "produsen atau 
penyedia jasa berhati-hatilah" (caveat venditor).



Ahli farmakologi klinik FKUI, Prof Dr Rianto Setiabudy, ketika dihubungi 
semalam menyatakan, puyer dan polifarmasi adalah dua hal yang secara 
substansial berbeda. "Hanya memang selama masih ada kebiasaan memberikan obat 
berupa puyer, maka itu menjadi persembunyian yang aman bagi polifarmasi yang 
tidak rasional. Puyer hendaknya tidak dijadikan sebagai cara pemberian obat 
yang rutin," katanya.



Prof Rianto menyarankan kebiasaan meresepkan puyer polifarmasi harus 
dihilangkan perlahan-lahan. "Kalau dikatakan tidak ada yang salah dengan puyer, 
maka 5-10 tahun ke depan budaya puyer akan tetap ada di Indonesia. Padahal, 
negara-negara yang lebih miskin daripada Indonesia sekarang sudah tidak memakai 
puyer," ujarnya.



Betul bahwa dokter tetap mempunyai otoritas meresepkan obat, tetapi kebiasaan 
peresepan (prescribing habit) yang tak rasional dalam bentuk polifarmasi harus 
ditinggalkan. Apalagi jika itu dilakukan secara sengaja karena mengejar imbalan 
dari industri farmasi. Menurut Prof Rianto, kalau itu karena kurangnya 
pengetahuan dokter tentang obat-obatan, kompetensi dokter masih bisa 
dikembangkan oleh organisasi profesi kedokteran.



Kini memang adalah era ilmu kedokteran dan farmasi rasional yang berbasis 
bukti, bukan "seni" meracik obat lagi.



http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/04/05395340/kontroversi.puyer.dan.polifarmasi


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke