Sketsa ke-4 Kematian David Hartanto
Gagap Mulut Intel Soh Che Ing Menjawab Hartono
Sabtu 21 Maret 2009 saya mengunjungi kediaman keluarga Hartono Widjaja,
orang tua Alm. David Hartanto, mahaiswa jenius asal Indonesia yang mendapatkan
beasiswa studi di NTU, Singapura. Penggemar Rendang dan Lindung Cah Fuma itu
terindikasi kuat dibunuh. Verifikasi lanjutan seorang literary citizen
reporter.
KAWASAN pemukiman di bilangan Tubagus Angke, Jakarta Utara di pagi menjelang
siang di Sabtu itu terasa terik. Kali Tubagus Angke, mengalir di kiri jalan
menuju kediaman Hartono Widjaja itu airnya hitam laksana oli bekas
kendaraan. Tak habis pikir saya, mengapa Pemda DKI, banyak membiarkan kali
tidak mengalir. Tahun lalu saya menuliskan perihal Kali Mati di Pademangan,
Jakarta Barat. Awal 2009 ini konon sudah ada pihak Australia membantu
mengalirkaan Kali Mati. Tak masuk di akal, apakah kali di bilangan Tubagus
Angke itu, juga harus menunggu tangan asing, baru mengalir?
Tidak jauh dari kali berair hitam legam, sebuah perumahan dengan gerbang
berpagar tinggi, masing-masing jalan blok juga berpagar tinggi. Di sebuah
pertengahan jalan di sebelah kanan, di Perumahan Permata Indah I, sebuah mobil
Honda Jazz tampak di garasi. Hartono Widjaja membukakan pagar rumahnya. Ia
mempersilakan masuk ke ruang tamu. Saya diperkenalkan kepada William, kakak dan
Ny. Tjhay, ibunda David.
Kesedihan masih menggantung di mata Ny. Tjhay. Di meja sudah tersedia dua
gelas kecil dingin aqua. Tak lama kemudian, Ny. Tjhay ke ruang dalam rumahnya.
Kemudian ia datang dengan sebuah apel segar yang sudah dikupas, dibelah empat
potong.
Tidak ada apa-apa, saya belum bisa memasak. Ingatan masih ke anak saya. Ini
kali saya baru pegang pisau, ujar Ny. Thjai. Itu artinya, sejak anaknya
berpulang pada 2 Maret 2009 lalu di Singapura, dapur keluarga ini enggan
berasap.
David itu anak yang tak pernah mau pegang pisau.
Mengupas buah saja tidak pernah dilakukannya seumur-umur.
Mata ibu dua anak itu menerawang. Ia membayangkan berita yang menuding
anaknya menusukkan pisau ke Profesor Chan Kap Luk, dosen peneliti, pembimbing
skripsi penelitian David.
Ia memperlihatkan kepada saya buku tulis bersampul kertas kotak-kotak merah
hitam berlapis plastik. Di buku itu Ny. Tjhai, mencatat jadawal dan mata kuliah
David dari semester I hingga VIII.. Karena saya ingin menelusuri mata kuliah
dan pelajaran yang diambil David, saya butuh sekali catatan mata kuliah
tersebut. Ny. Thjai lalu ke ruang dalam lagi. Tak sampai sepuluh menit, ia
sudah kembali ke ruang tamu, memberikan selembar catatan kepada kepada saya.
Tulisannya rapi. Melalui catatan bagus itu, Ny. Tjhay memonitor anaknya yang
berkuliah di negeri jiran itu.
Saya jadi paham, jam berapa waktu yang tepat meneleponnya, ujar Ny. Tjhay.
Di Smester I, David mengambil mata kuliah; Mathemaic, Life Sciences,
Material Science, Principles of Economics. Smester II; Efecctive
Communication, Mathematic 2, Computing, Physics, Chemestry, Living With
Mathematics.
Pada Smester III, mata kuliahnya sudah lebih teknis; Cerenit Analysis, Semi
Cundustor Fundamentals, Data Structur & Alogarithms, Menchanic & Relativity,
Signal & Systems, Engineering Mathematics 1. Semester IV dan V, kian spesifik.
Dan Smester VI, sosok David, yang acap kali menang dalam lomba matematika, dan
menjadi salah satu wakil Indonesia mengikuti Olimpiade Matematika tingkat dunia
ke Merida, Meksiko, pada 2005 lalu.
Ia juga sudah melakukan praktek kerja lapangan.
Ia magang di Panasonic, Singapur, ujar ibunya.
Di saat akhir hayatnya, David yang mengambil studi Electrical and
Electronical Engineering, jurusan Infocomm itu, sudah berada di Smester VIII.
Ia mulai merampungkan mata kuliahnya,. Di Smester VIII itu, hanya tinggal
menyelesaikan dua mata kuliah saja: Engineers and Society dan Digital Video
Processing. Dengan mata kuliah yang sedikit, maka banyak waktu bagi David
menyelesaikan riset bagi tugas akhirnya.
Riset yang dilakukannya sangat berkait kuat ke studinya di penghujung 2008
lalu. Pada November 2008, David mengambil mata kuliah DSP System Design, Human
Resource Management, Objec Oriented Programing, Engineers Systems, Image
Procsesing, Software Engineering, Web Aplication Design.
Di kertas lembaran proyek akhir David tertulis: Multiview aquisitions from
Multi-camera configuration for person adaptive 3D display. Proyek dengan Nomor:
A3026-81, itu memiliki summary: Multi cameras willbe used to obtain
multiviews of scene. Syarat mengambil topik ini: Strong Mathematical Skills and
C/C++ programing. Untuk risetnya itu, David dirujuk ke laboratorium EEE3,
Information System Research Lab (Loc: S2-B3a-06) di NTU, Singapura itu.
Catatan di atas sekaligus mengoreksi judul yang kurang lengkap tetang tugas
akhir David yang sudah pernah saya tuliskan di Sketsa ketiga saya.
Selain menguasai program komputer C/C++, David juga sedang getol menguasai
aplikasi Open CV, ujar Wllliam, kakak David.
William yang kini bekerja di perusahaan konsultan informatika, adalah lulusan
Informatika di Universitas Bina Nusantara, Jakarta.
Lima tahun lalu saya getol mencari kawan anak muda yang berkemampuan basis
program komputer C/C++. Saya ingin membuat mobile game untuk handset CDMA
global, untuk membuat konten beraplikasi BREW, yang disiapkan oleh Qualqomm.
BREW mensyaratkan kemampuan dasar program C++. Kala itu saya kesulitan
mencarinya. Banyak pihak belum paham akan peluang usaha mobile content. Padahal
saya ingin membuat game lomba monyet menurunkan kelapa. Teknisnya setelah
animasi 3D game jadi, animasi dan games play itu harus pula diprogram ke BREW,
agar bisa berjalan di handset CDMA dengan baik.
Pengembang konten seperti perusahaan JAMDAT, dari membuat game 3D bowling
untuk CDMA saja, dalam bulan pertam di 6 tahun lalu, sudah mengantungi US 1,2
juta sebulan. Perusahaan itu kini tumbuh berkembang pesat. Bahkan games
skate-boarding- nya yang 3D, sudah di-bundling dengan handphone LG, yang dapat
dimainkan cukup dengan menggerakkan maju atau mundur handset atau miring kanan
dan kiri handset, dengan mudah menggerakkan games.
Maka dugaan saya, yang di tulisan Sketsa ke-3 soal David lalu, bagaimana
kemampuan 3D visual, animasi, dengan pemahaman kamera, menjadi suatu yang
menguat, menajam dalam telaah David. Dengan dua mata kuliah yang sisa, banyak
waktu baginya berkutat di depan komputer, membuat sebuah penemuan baru dan atau
terobosan baru.
SEBAGAIMANA IMLEK di tahun yang berjalan, David sengaja pulang libur ke
Jakarta pada penghujung Februari 2009 lalu. Layaknya lebaran bagi umat Muslim,
berkumpul dengan keluarga, makan bersama sambil memanjatkan doa, panjang umur,
murah rezeki, Gong Xi Fat Cai, bagi sesama. Keluarga David memanfaatkan kumpul
bersama Imlek tahun ini di kediaman neneknya di bilangan Mangga Besar Jakarta
Barat.
David itu penggemar rendang, ujar Ny. Tjhai.
Sebelum balik ke Singapura, keluarga sempat membelikan David kemeja putih
lengan panjang, untuk persiapan kelak wisuda.
Ia tidak pernah mengenal merek. David memilih baju yang enak dipakai saja,
ujar Hartono Widjaja, ayahnya.
Keluarga ini pun menyempatkan diri makan malam di restoran Angke, yang ada di
kawasan jalan di seberang Gajah Mada Plaza. Seperti biasa, David lahap
menyantap Lindung Cah Fuma. Sebuah masakan belut dimasak tumis dengan sayur
fuma, lalu ditaburi pemanis tapai ketan hitam.
Keesokannya David berangkatlah kembali kuliah. Keluarga melepas kepergiannya
dengan doa, secepatnya sukses kuliah, pulang membawa bekal ilmu.
BAJU PUTIH putih lengan panjang yang dibeli di Mangga Dua itu masih tersimpan
rapi di kamar David di asrama mahasiswa NTU itu. Tiga toples kue Nastar, yang
dibawanya dari Jakarta sepulang Imlek itu, masih tersisa dua toples. Bungkus
Pop Mie, masih terlihat di wadah sampah kamarnya. Itulah keadaan kamar David
yang disimak keluarganya ketika mendadak berangkat mengurus jasad David ke
Singapura, pada 2 mareta 2009 lalu.
Usai dari kamar David, keluarga ini menuju General Hospital, Singapura, di
mana jasad David di semayamkan. Hanya keluarga, mereka bertiga saja yang
diperbolehkan melihat jasad David.
Yang menemati juga cuma satu orang saja, satu polisi Singapura, ujar
Hartono.
Sosok yang menemani melihat jasad David itu adalah, Soh Che Ing, Senior
Investigation Officer, Ivory Polisce Division, HQ, Singapura. Saya telah
menyimpan nomor kontaknya.
Bersama polisi itu saya perhatikan jasad anak saya.
Dagunya utuh. Giginya utuh. Pipinya juga utuh tidak cacad.
Tidak ada gambaran rahang rusak macam jatuh dari lantai tinggi.
Hanya bibir kiri robek, tak terlihat bengkak, ujar Hartono.
Dalam keadaan bertanya-tanya tentang wajah anaknya, Hartono tersentak
melihat leher David yang dijejali plester tiga baris.
Dalam bahasa Mandarin, ia bertanya ke agen polisi Soh Che Ing.
Wo ere ce (David) cing sang wei sem mo yu hen tuo Tie pu?
Kira-kira bila diterjemahkan, mengapa, kok, leher anak saya malah diplester
seperti ini?
Soh Che Ing, terlihat gagap menjawab.
Saya perhatikan wajah polisi itu, ia tak mengira akan pertanyaan saya, ujar
Hartono.
Inilah indikasi berikutnya keanehan kematian David, yang oleh Rektor NTU, Su
Guaning, hanya enam jam setelah kematin David, langsung disosialisasikan bahwa
David bunuh diri melompat dari lantai empat kampus, setelah menusuk Profesor
Chan Kap Luk, dosen pembibing tugas akhirnya. Dan keanehan berikutnya, asisten
Profesor Chan bernama Zhou Zheng, empat hari stelah kematian David, ditemukan
mati gantung diri.
Menurut Hartono, ada kawan mahasiswa yang mendengar keterangan saksi mata -
- sekaligus meralat keterangan di Sketsa ke tiga saya , bahwa yang mendapatkan
keterangan dari ibu saksi mata itu bukanlah Hartono langsung, tetapi seorang
mahsiswa NTU - - David sempat berlari dan berteriak, They want to kill me...
Jika, indikasi-indikasi keanehan kematian David ini kian menebal saja, di
tengah media mainstream cenderung mengutip saja keterangan pemerintah
Singapura, maka tidak ada alasan bagi saya untuk menunda pergi ke Singapura,
sebagai seorang literary citizen reporter, melakukan verifikasi, apalagi
dukungan dari berbagai pihak kini bermunculan, antara lain dari Persatuan
Pewarta Warga Indonesia (PPWI), yang sampai membuka dompet donasi bagi
keberangkatan saya.
Di tengah hiruk-pikuk kampanye politik di negeri ini, urusan satu nyawa
manusia bisa jadi seakan terlewatkan. Akan tetapi magnitude kematian David,
anak super cerdas, dengan segenap risetnya yang terindikasi bernilai ekonomi
tinggi, adalah naif namanya dibiarkan menguap ditelan angin saja.***
Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com
[Non-text portions of this message have been removed]