Yth Rekan milis,

Kalimat penutup Bung Mula Harahap,seram juga yaitu "ideologi partai adalah uang 
dan kekuasaan,apa saja bisa terjadi".
Sesuatu hal yang perlu dihindari agar Indonesia tidak seseram itu "uang dan 
kekuasaan".

Kekuasaan seharusnya menjadi sarana untuk bisa melaksanakan sesuatu yang terasa 
dampaknya oleh rakyat.
"Power is the ability to make something happen in" Indonesia yaitu rakyatnya 
makin sejahtera,cerdas dan damai harmonis.
Kalau tidak bisa membuat menjadi kenyataan, maka silahkan mundur secara 
terhormat.

Jadi koalisi harus sepakat tentang program yang akan dilaksanakan sampai 
berhasil dan bukan sekedar kekuasaan dan uang.

Sebagai contoh, program pemberdayaan ekonomi rakyat yang didukung oleh KUR dan 
PNPM harus lebih diperhatikan pelaksanaannya agar bisa segera 
sukses,pelaksananya tidak setengah-setengah, begitu pula dana untuk KUR dan 
PNPM agar dipertinggi porsinya,karena kebijakan yang tidak disertai sumber daya 
dan dana hanyalah impian belaka.
Perlu dipelajari kekuatan dan kelemahan dalam pelaksanaan program dan 
dilanjutkan dengan perkuat yang baik dan hilangkan kelemahannya mulai dari 
perencanaan hingga hasil.
Pokoknya setiap tahap perencanaan harus dilihat kriteria untuk sukses sehingga 
betul bisa mendapatkan UKM dan ekonomi rakyat yang berdaya saing secara 
berkelanjutan diseluruh kepulauan di Indonesia dan nanti menyusul ke kawasan 
regional/global,sambil menunggu ekonomi dunia untuk pulih kembali.

Intinya himbauan bagi Presiden SBY yang kalau terpilih kembali adalah mohon 
agar program KUR dan PNPM, jangan sampai setengah hati seperti sekarang ini.
Sudah tentu sambil membenahi hal lain yang juga merupakan prioritas bangsa.

Selamat bagi Caleg dan DPD yang sukses terpilih dalam pemilu 2009 ini,semoga 
visi dan misi buat bangsa dapat diemban sebaik-baiknya,dan bukan hanya untuk 
uang dan kekuasaan semata.

Salam Hormat,
Bakri Arbie.




--- On Fri, 4/10/09, Mula Harahap <[email protected]> wrote:

From: Mula Harahap <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Berandai-andai dengan Hasil Quick Count
To: [email protected]
Date: Friday, April 10, 2009, 11:57 AM











    
            
            


      
      

Pasca kemenangan Demokrat ini, perpolitikan Indonesia menjelang pemilu  
presiden menjadi menarik untuk diamati:



Demokrat yang memperoleh 20% suara pemilih itu tidak membutuhkan lagi koalisi 
dengan partai mana pun kalau hanya untuk meloloskan calon presidennya yaitu 
SBY. Partai itu hanya membutuhkan koalisi untuk mengamankan politik Presiden 
(dalam hal ini SBY) di DPR selama 5 tahun ke depan. 



Dan dengan popularitas yang sedemikian tinggi yang diperoleh SBY maka Demokrat 
menjadi lebih bebas dalam mencari calon wakil presiden yang akan dipasangkan 
dengan SBY. Mereka sedang berada di atas angin. Partai-partai lainlah yang akan 
merapat ke mereka. Demokrat tidak memerlukan figur "vote getter". 



Belajar dari pengalaman 5 tahun ini, dan dalam posisi partai yang sedang berada 
di atas angin, maka calon wakil presiden yang diperlukan Demokrat adalah sebuah 
figur yang tidak terlalu merepotkan SBY. 



Besar kemungknan SBY akan mengambil Akbar Tanjung. Tapi Akbar Tanjung diambil 
bukan dalam kapasitas sebagai yang resmi diusulkan Golkar. Kejadiannya sama 
seperti dulu ketika SBY mengambil Jusuf Kalla. Tapi dalam hal ini, belajar dari 
pengalaman, SBY tentu akan berupaya mencegah Akbar agar tidak menjadi Ketua 
Umum Golkar lagi. Dengan lain perkataan, SBY akan memiliki wapres yang tidak 
terlalu kuat di partainya (Golkar), tapi di fihak lain masih bisa diandalkan 
untuk "mengamankan" kawan-kawan separtainya di DPR.



Karena Jusuf Kalla tidak lagi dilirik sebagai calon wakil presidennya SBY, maka 
tentu saja ia tidak ingin membawa Golkar masuk dalam koalisi dengan Demokrat. 
Tapi para elit Golkar yang "gatal" dan sudah terbiasa memegang kekuasaan itu 
tentu saja tidak akan "happy" dengan situasi tersebut. Cepat atau lambat Golkar 
akan mengadakan munas dan Jusuf Kalla akan dicampakkan dengan alasan kegagalan 
dalam pemilu legislatif. Ketua umum yang baru (entah siapa pun) itu pasti akan 
"merapat" ke kubu Demokrat demi memperoleh beberapa jabatan menteri. Dan SBY 
atau Demokrat pun pasti akan menyambut baik tawaran itu.



Partai-partai yang lain, seperti PKS, PKB, PAN dan PPP juga tentu akan memilih 
"merapat" ke kubu Demokrat. Bagi Demokrat ini tentu bukan persoalan. Dengan 
melakukan koalisi dengan sebanyak mungkin dari partai-partai tersebut (baca: 
memberikan kepada mereka 1 atau 2 pos menteri) kebijakan Presiden di DPR sudah 
bisa diamankan.



Yang menghadapi persoalan besar adalah PDIP. Jangankan untuk mencari figur 
calon wakil presiden yang sekaligus bisa menjadi "vote getter" dalam pemilu 
presiden mendatang, meloloskan Megawati sebagai presiden pun mereka masih 
membutuhkan koalisi dengan partai lain (perolehan PDIP hanya 14%). Tapi yang 
menjadi persoalan ialah, partai mana yang mau berkoalisi dengan PDIP yang calon 
presidennya (Megawati) sudah jelas bakal kalah menghadapi SBY? Semua partai 
tentu akan memilih berkoalisi dengan SBY/Demokrat yang punya masa depan sangat 
cerah.



Besar kemungkinan bahwa calon presiden yang memenuhi syarat dan bisa diloloskan 
oleh DPR hanyalah SBY. Dengan lain perkataan hanya akan ada satu salon tunggal. 
(Entah bagaimana UU mengatur pemilu bila calon presiden hanya ada satu).



Atau kemungkinan yang lain adalah: Gerindra dan Hanura akan berkoalisi dengan 
Megawati. Memang, kedua partai itu sangat menyadari, bahwa koalisi yang mereka 
lakukan itu adalah koalisi para "loser" yang tidak akan bisa menjamin 
kemenangan calon presiden mereka. Tapi mereka melakukan koalisi ini lebih 
sebagai sebuah persiapan untuk pemilu legislatif dan presiden di tahun 2014.



Tapi di tahun 2014 calon presiden yang harus "dijual" tidak mungkin lagi 
Megawati. Prabowo-lah yang akan dijual. Yang menjadi pertanyaan ialah, apakah 
sebuah koalisi oposisi dari 3 partai yang dipimpin oleh Megawati, Wiranto dan 
Prabowo akan bisa berjalan langgeng? 



Dalam perpolitikan seperti di Indonesia, dimana yang menjadi ideologi 
partai-partai adalah uang dan kekuasaan, apa saja bisa terjadi.



Mula Harahap




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke