sekedar pengetahun  ttg Mafia Berkeley  , di cuplik dr kolomnya Kwi Kian Gie



Kekuasaan dan landasan atau pondasi kebijakannya 
yang konsisten selama 53 tahun berawal pada 
Pemerintah Soeharto yang urut-urutan kronologis sejarahnya sebagai berikut.

Kebijakan ekonomi pemerintah Soeharto diawali 
dengan konperensi di Jenewa antara Tim Ekonomi 
Indonesia yang dipimpin oleh Prof Widjojo 
Nitisastro bersama-sama dengan para ekonom dari 
UI, yang dalam suasana konperensi di Jenewa itu 
lahir sebutan “Berkeley Mafia”. Tidak jelas siapa 
yang menemukan istilah ini. Ada yang mengatakan 
pemimpin counterpart delegasi Indonesia, David 
Rockefeller. Istilah ini dikemukakan dengan nada 
yang sangat menghargai terhadap "the top economists of Indonesia".

Inzinkanlah saya mengutip gambaran yang diberikan 
oleh John Pilger, yang pada gilirannya mengutip 
kata-kata Jeffrey Winters sebagai berikut : 
“Dalam bulan November 1967, menyusul 
tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil 
tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation 
mensponsori konperensi istimewa di Jenewa yang 
dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan 
Indonesia. Para pesertanya meliputi para 
kapitalis yang paling berkuasa di dunia, 
orang-orang seperti David Rockefeller. Semua 
raksasa korporasi Barat diwakili : 
perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General 
Motors, Imperial Chemical Industries, British 
Leyland, British American Tobacco, American 
Express, Siemens, Goodyear, The International 
Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja 
adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh 
Rockefeller disebut "ekonoom-ekonoom Indonesia yang top".

"Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan 
'the Berkeley Mafia', karena beberapa di 
antaranya pernah menikmati beasiswa dari 
pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di 
Universitas California di Berkeley. Mereka datang 
sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal 
yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. 
Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara 
dan bangsanya, Sultan menawarkan : …… buruh murah 
yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang besar".

Di halaman 39 ditulis : "Pada hari kedua, ekonomi 
Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ‘Ini 
dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata 
Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern 
University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang 
sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad 
Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen 
konperensi. 'Mereka membaginya ke dalam lima 
seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di 
kamar lain, industri ringan di kamar lain, 
perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang 
dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan 
sebuah delegasi yang mendiktekan 
kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh 
mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan 
para pemimpin korporasi besar ini berkeliling 
dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : 
ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan 
mereka pada dasarnya merancang infra struktur 
hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak 
pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, 
di mana modal global duduk dengan para wakil dari 
negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat 
dan merancang persyaratan buat masuknya investasi 
mereka ke dalam negaranya sendiri.

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan 
tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk 
dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat 
nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat 
bagian terbesar dari bauksit Indonesia. 
Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang 
dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di 
Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah 
undang-undang tentang penanaman modal asing yang 
dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto 
membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima 
tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali 
dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter 
Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang 
anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, 
Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, 
Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia".

Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad 
Simpson, Jeffrey Winters dan John Pilger tentang 
suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya 
sebuah konperensi yang merupakan titik awal 
sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia selanjutnya.  

Kirim email ke