http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/04/18/16553621/Perempuan.Masih.Terjajah

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945, namun sayangnya 
sampai saat ini perempuan Indonesia masih terjajah dan menjadi kaum 
termarginalkan. "Masih banyak masalah yang menimpa kaum perempuan. Kaum 
perempuan banyak yang mengalami kekerasan, dipoligami, penjualan perempuan dan 
masih banyak lagi," terang Irma Alamsyah Djaya Putra, di dalam diskusi film 
dokumenter Noem Mji Maar Kartini, di Jakarta (18/4).

Ia juga menerangkan, bahkan di parlemen, perempuan masih menjadi kaum 
minoritas, yakni baru sebanyak 16 persen anggota DPR dari kaum perempuan dan 
sisanya diisi kaum pria. "Bias gender masih begitu kental, kesempatan perempuan 
untuk mendapat pendidikan kadangkala masih terbatas," katanya.

Menurut Irma, kasus yang paling banyak menimpa perempuan adalah mengenai 
kekerasan. "Banyak perempuan yang menjadi korban KDRT, dan mereka tak berdaya 
melawan hal itu. Tapi KDRT tidak hanya terjadi di negara berkembang, di Belanda 
ada sebanyak 40 persen ada KDRT. Itu data dari Departemen of Justice Belanda," 
terang dia.

Hal senada juga disampaikan oleh Yuda Iriang, ketua Yayasan Gerakan 
Pemberdayaan Perempuan mengatakan 70 persen penduduk miskin di Indonesia 
bertempat tinggal di pedesaan. "Mayoritas dari kaum miskin itu adalah 
perempuan, sehingga wajar kalau disebut wajah kemiskinan adalah perempuaan. 
Yuda juga menerangkan budaya patriaki di Indonesia yang kuat, semakin 
menyudutkan kaum perempuan. "Perempuan sering dipaksa untuk bersedia 
dipoligami, dengan iming-iming akan masuk surga. Dari mana aturannya, akan 
masuk surga jika mau dimadu," kata dia.

Dengan kondisi seperti itu, Yuda memesankan pada kaum perempuan harus siap 
menghadapi tantangan baru, dan harus dapat menemukan jawaban yang baru juga. 
"Kalau perempuan sekarang dapat menghadapi tantangan itu, maka good governance 
akan tercipta. Good governance bukan hanya dari pemerintah dan DPR," tandasnya.


RDI 

Kirim email ke