Oleh I WIBOWO
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/22/02541826/china.dan.kita


China baru-baru ini mengungkapkan kemarahan kepada Amerika Serikat sehubungan 
dengan laporan tahunan Pentagon tentang militer China. Disebutkan bahwa China 
kini menjadi "ancaman" di Asia Timur, terutama Taiwan. Bukti yang dikemukakan 
adalah kenaikan anggaran pertahanan China yang terus naik dari tahun ke tahun 
(Kompas, 27/3).

Tentu saja Pemerintah China menolak tuduhan tersebut dengan mengajukan argumen 
bahwa pengeluaran sebesar itu masih pada tahap wajar untuk sebuah negara 
sebesar itu. Namun, AS masih membalas bahwa China sangat mungkin mengeluarkan 
anggaran yang lebih besar lagi karena China dianggap tidak transparan dalam hal 
yang satu ini.

Sebelum itu, hubungan China-AS sempat memanas ketika kapal-kapal China pada 10 
Maret 2009 memergoki kapal mata- mata AS, USNS Impeccable, di Laut China 
Selatan. China menuduh AS telah memasuki wilayah perairan mereka, sementara AS 
membela diri dengan mengatakan bahwa kapalnya masih berada di wilayah 
internasional. Situasi juga memanas, masing-masing melemparkan tuduhan dan 
kecaman.

Sengketa di Laut China Selatan tidak sampai meluas, tetapi hal ini 
memperlihatkan bahwa China mempunyai hak yang harus diakui di Luat China 
Selatan. AS perlahan-lahan—suka tidak suka—harus menerima kenyataan ini.

Sehari sesudah insiden dengan AS, China memprotes Filipina yang mengesahkan 
undang-undang perbatasan laut, yang mencakup Kepulauan Spratly (Nansha). 
Akibatnya, rencana pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Gloria 
Macapagal-Arroyo dan Sekretaris Jenderal Parlemen China Li Jianguo ditunda 
sampai waktu yang tidak terbatas.

Disegani dan ditakuti

China perlahan-lahan telah memperlihatkan diri sebagai sebuah kekuatan yang 
harus diperhitungkan, terutama di Asia Timur (Timur Laut plus Tenggara). Proses 
ini sudah berlangsung sejak masa pemerintahan George W Bush, yang memberikan 
perhatian lebih besar pada Timur Tengah. Selama delapan tahun China dapat 
dikatakan mengembangkan baik soft power maupun hard power yang dimilikinya. 
China menjadi kekuatan yang serentak disegani dan ditakuti.

Negara-negara di Asia Timur kini harus berhati-hati dalam (1) berhubungan 
dengan Taiwan, (2) berhubungan dengan Falun Gong, dan (3) berhubungan dengan 
Dalai Lama. China akan memakai imbauan, seruan, protes, hingga ancaman kepada 
negara-negara yang melanggar ketiga hal itu.

Laut China Selatan memang sedang dipetieskan. Tetapi hal ini juga tidak akan 
dibiarkan berlalu begitu saja kalau ada pihak-pihak yang berani 
mengutik-utiknya.

Sebuah artikel yang ditulis oleh Parag Kahnna di New York Times Magazine 
(27/1/2008) dengan jelas mengatakan bahwa dunia abad XXI akan dikuasai oleh Big 
Three, yaitu Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China. Negara-negara lain yang 
sering disebut emerging markets disebutnya sebagai second world yang bernasib 
menjadi tempat persaingan dan pertarungan Big Three tersebut.

Lebih jauh dikatakan bahwa tiap-tiap kekuatan itu akan beroperasi di wilayah 
mereka sendiri walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka juga akan saling 
menyusupi wilayah tersebut. Uni Eropa bergerak di Afrika dan Timur Tengah, 
Amerika di Amerika Utara dan Selatan, sementara China akan menancapkan 
kekuatannya (lunak maupun keras) di Asia Timur.

Analisis ini mirip dengan Robert Kagan, yang, kecuali Amerika, Eropa, dan 
China, masih memasukkan Rusia sebagai kekuatan, juga Jepang, India, dan Iran.

Dalam buku The Return of History and the End of Dreams (2008), Kagan 
menghitung, dunia akan dikuasai negara-negara itu. Negara-negara kecil lain 
tidak masuk hitungan. Tapi, baik Kahnna maupun Kagan sepakat bahwa pengaruh AS 
tidak lagi sebesar pada masa lampau. Amerika bukan lagi hegemon dunia walaupun 
masih berupa adikuasa (superpower).

Di sekitar Amerika ada yang disebutnya great powers yang tersebar di berbagai 
belahan dunia. Salah satunya adalah China, yang dilihat menjadi pemegang 
kekuatan nyata, kekuatan ekonomi maupun militer.

Sangat menarik dalam koran di China berbahasa Inggris, People's Daily, hal ini 
sedemikian ditekankan dalam tulisan Liu Hongmei, The US Hegemony ends, the era 
of global multipolarity enters (26/2). Penulis tampak amat bergembira, bahkan 
merayakan, atas surutnya kekuatan maupun kekuasaan AS saat ini. Bagi China, AS 
adalah penghalang terbesar untuk mencapai kemajuan karena kritik dan kecaman 
yang beraneka ragam.

Sebuah buku yang saat ini sedang "meledak" di China berjudul Zhongguo bu 
gaoxing (China Tidak Senang). Para pembaca mendukung ketidaksenangan para 
pengarang terhadap semua kata maupun perbuatan AS. Kalau kekuatan Amerika benar 
berkurang dan menyusut, bagi para pengarang ini, kinilah saatnya giliran China 
untuk berkiprah di Asia Timur. Mereka pun mengacu pada masa Pax Sinica, yaitu 
masa keemasan zaman Dinasti Tang pada abad ketujuh, ketika pengaruh China 
membentang seluas Asia Timur.

Norma baru

Secara struktural, dunia memang telah menjadi multipolar (entah tiga, entah 
enam). Untuk wilayah Asia Timur (timur laut maupun tenggara), China jelas- 
jelas akan menjadi hegemon regional yang akan menetapkan rezim internasional 
yang berlaku. Misalnya, East Asian Community yang saat ini sedang diendapkan 
sangat mungkin akan dihidupkan lagi dengan China sebagai pemimpinnya. 
Perlahan-lahan Asia Timur akan memakai mata uang China, renminbi, sebagai 
sarana transaksi internasional dengan segala implikasi politisnya. Indonesia 
sudah menyatakan mendukung gagasan ini.

ASEAN maupun Jepang perlahan-lahan akan menjadi pemain biola kedua dalam 
konstelasi baru ini. Sementara itu, di Asia Tenggara, China saat ini sudah 
berhasil menancapkan pengaruhnya sehingga negara-negara anggota ASEAN tidak 
bisa berkutik ketika harus menghadapi kasus Myanmar. Keberhasilan pembangunan 
China diam-diam dijadikan acuan, bahkan norma, bagi negara-negara lain.

Indonesia saat ini dianggap sebagai pemain yang minor atau mungkin sebagai 
nonplayer sama sekali. Dalam beberapa ulasan ilmiah tentang hubungan 
internasional (Kahnna maupun Kagan, misalnya), Indonesia tidak pernah 
disebut-sebut. Namun, China kelihatannya masih memperhitungkan Indonesia, 
dengan mengikatkan diri dalam hubungan strategic partnership (sejak 2005). 
China memang memerlukan Indonesia sebagai sumber bahan mentah, mengingat posisi 
geografis Indonesia yang dekat dengan China. Di samping itu, pengiriman dari 
Indonesia tidak usah melewati Selat Malaka yang berbahaya itu.

Meski demikian, China kiranya juga melihat bahwa Indonesia masih memerlukan 
waktu yang amat lama untuk menjadi pemain yang bisa diperhitungkan. China saat 
ini masih bisa menekan Indonesia untuk tiga hal yang disebutkan di atas 
(Taiwan, Dalai Lama, Falun Gong), suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada AS 
atau Uni Eropa. Beruntung Indonesia dan China tidak bersinggungan di Laut China 
Selatan walaupun Kepulauan Natuna nyaris menjadi bahan sengketa.

Sambutan hangat

China sebenarnya sudah tanggap akan "ketakutan" yang mungkin timbul di antara 
tetangga-tetangganya. Pada tahun 2003 China pernah mengeluarkan sebuah 
pernyataan heping jueqi (bangkit dengan damai), yang mencoba untuk 
menyingkirkan perasaan negatif itu. Pernyataan ini mendapat sambutan hangat 
dari tetangga-tetangganya dan juga seluruh dunia. Kebangkitan China pada bidang 
ekonomi tidak akan menimbulkan ancaman bagi tetangga-tetangga dan dunia.

Namun, heping jueqi dinilai oleh para petinggi militer kurang cocok dengan 
kondisi China, terutama sehubungan dengan masalah Taiwan yang belum selesai. 
Maka, diciptakan pernyataan baru, heping fazhan (perkembangan yang diliputi 
damai), dan diresmikan pada Kongres Nasional XVII Partai Komunis China pada 
2007. Ini diiringi dengan pernyataan tentang heping shijie (dunia yang damai), 
keinginan China untuk membangun dunia yang damai. Namun, sambutan dari 
negara-negara di luar China tidak seantusias seperti saat heping jueqi 
dilontarkan.

Dalam menghadapi kebangkitan China, Indonesia kiranya memerlukan visi yang 
jelas. Kebangkitan China sebagai "hegemon regional" adalah suatu hal yang tidak 
terelakkan. Dalam banyak hal, kita harus mulai menyesuaikan diri dengan 
kehendak China. Sejauh mana kita mau menyesuaikan diri? Dalam hal apa saja 
menyesuaikan diri? Sering disebut-sebut tiga strategi (counterbalancing, 
bandwagoning, hedging), tetapi perlu kiranya ditemukan kemungkinan keempat yang 
lebih cocok dengan kondisi Indonesia dan kondisi internasional. 

I Wibowo Ketua Centre for Chinese Studies, FIB UI



Kirim email ke