Mengaum mungkin saja tapi bahkan jika itu bisa dilakukan oleh Boediono
kelak, auman Boediono akan dianggap sebagai auman macan yang paling
tidak menakutkan. Mungkin pula auman itu akan dilakukan Boediono sembari
menunduk dan mengangguk, "Nuwun sewu Pak SBY."

Anak Macan
SALAH satu alasan Susilo Bambang Yudhoyono memilih Boediono sebagai
calon wakil presidennya, kata seorang politikus, karena Yudhoyono ingin
aman (lihat "SBY Tidak Pilih Hatta Karena Khawatir Nasib Demokrat
pada 2014" detikcom, 13 Mei 2009). Ini sebetulnya bahasa lain dari
ketidakmauan mengambil risiko. Sebuah sikap yang sejauh ini selalu
dilekatkan kepada Yudhoyono, selain predikat peragu dan selalu ingin
dinilai paling bersih.

Hitungan Yudhoyono, kata politikus tadi jika dia memilih Hatta Rajasa
sabagai calon wakilnya dalam Pemilu 2009, maka dalam lima tahun
mendatang bisa saja Hatta akan maju sebagai calon presiden. Begitu juga
Hidayat Nur Wahid. Padahal di pemilu lima tahun yang akan datang itu,
Yudhoyono sudah tak bisa lagi ikut berkompetisi sementara partainya juga
tak memiliki kader kuat yang dikenal luas oleh publik.

Kata politikus tadi, singkat kata, Yudhoyono tak hendak memelihara anak
macan. Ini idiom yang maksudnya kurang lebih, tak mau mengambil risiko.
Dalam konteks Yudhoyono memilih calon wakil presidennya itu,
pertanyaannya adalah benarkah Hatta dan Hidayat memang anak macan yang
perlu diwaspadai dan karena itu misalnya mereka harus "tak
dipelihara" dengan tidak memilih keduanya sebagai calon wakil
presiden?

Macan adalah binatang pemburu dan pemangsa. Jika mengaum, konon, jantung
manusia yang paling perkasa sekali pun bisa berdegup kencang meski
sebetulnya, sangat jarang ada kasus macan memangsa manusia, kecuali dulu
pernah terjadi di Afrika. Di Sumatera memang ada kasus macan yang
menerkam manusia tapi tidak memangsanya. Macan yang menerkam itu pun
sebetulnya bisa dikatakan terpaksa karena habitatnya mulai susut
dirampok manusia.

Mungkin memang benar, ada manusia yang secara sadar memelihara anak
macan tapi adakah kejadian jika si anak macan itu kelak tumbuh besar
lalu menerkam pemeliharanya? Macan sirkus, kebanyakan dipelihara sejak
kecil dan di banyak Taman Safari, macan dipelihara sejak bayi bahkan
dikembangkanbiakkan. Adakah karena itu, lalu terdengar kabar si
pemilihara atau si pawang diterkam oleh macan termasuk anak macan yang
kemudian tumbuh besar itu?

Tentu saja ini bukan soal macan dan anak keturunannya. Hatta dan Hidayat
pun jelas bukan macan. Mereka orang terdidik yang sejauh ini tahu
bagaimana harus berbicara dan bersikap. Ini hanya soal pilihan Yudhoyono
yang telanjur dibuat sedemikian berakrobat, baik oleh dia maupun
orang-orang di sekelilingnya.

Lalu dengan menolak Hatta dan Hidayat, lantas memilih Boediono, orang
mungkin akan menilai Yudhoyono tidak berani mengambil risiko, peragu dan
sebagainya. Padahal yang juga harus dipahami dalam konteks itu,
Yudhoyono sebetulnya hanya orang yang terlampau mementingkan kekuasaan.
Hanya memikirkan bagaimana supaya dirinya tetap bisa berkuasa dan
kekuasaannya sebisa mungkin tidak bisa diganggu. Kalau dalam pemilu kali
ini terpilih lagi, dengan begitu dia punya waktu banyak untuk menyiapkan
penggantinya yang bisa maju menjadi presiden dalam Pemilu 2014.

Boediono karena itu dipilih oleh Yudhoyono bukan hanya karena dianggap
sebagai orang yang paling sedikit resistensi politiknya melainkan karena
yang paling penting Boediono tidak punya potensi menerkam Yudhoyono dan
Demokrat di masa yang akan datang. Mengaum mungkin saja tapi bahkan jika
itu bisa dilakukan oleh Boediono kelak, auman Boediono akan dianggap
sebagai auman macan yang paling tidak menakutkan.

Mungkin pula auman itu akan dilakukan Boediono sembari menunduk dan
mengangguk, "Nuwun sewu Pak SBY."

Tulisan ini juga bisa dibaca di www.rusdimathari.wordpress.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke