Oleh NINOK LEKSONO

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/22/06454337/hercules.dan.masa.depan.tni.au



KOMPAS.com - Musibah yang dialami Hercules TNI Angkatan Udara, Rabu (20/5), 
termasuk ironi. Sebenarnya kita bisa berharap tidak perlu terjadi kecelakaan 
pada pesawat yang dijagokan sebagai pesawat yang bisa diandalkan ini.

AU Inggris (RAF)—seperti dikutip situs Aviation Safety Network—membuat rekam 
jejak pesawat ini dan menemukan bahwa terjadi satu kecelakaan setiap 250.000 
jam terbang selama 40 tahun terakhir, membuat C-130 ada di belakang Vickers 
VC-10 dan Lockheed Tristar yang tidak pernah mengalami kecelakaan terbang.

Sejarah Hercules selama berdinas di TNI AU sendiri juga diwarnai dua nuansa. Di 
satu sisi, riwayatnya mengundang kagum dan rasa hormat. Di sisi lain, ia juga 
diliputi oleh kecelakaan dramatis.

Tidak sedikit bencana alam tidak saja di Tanah Air, tapi juga di kawasan Asia, 
yang lewat tanpa didatangi oleh Hercules TNI AU dengan bantuan kemanusiaannya. 
Awal tahun ini saja, tepatnya 5 Januari, Hercules yang naas di Magetan (A-1325) 
terbang ke Manokwari untuk mengirim bantuan kemanusiaan bagi korban gempa, 
dengan di dalamnya ada sejumlah menteri.

Rombongan ke Manokwari juga diiringi Hercules lain (A-1320), dipiloti oleh 
Mayor Danu, yang mengangkut bantuan seberat 14 ton. Hercules juga mengirim 
bantuan untuk korban bencana badai di Filipina (2006) dan di Myanmar (2008).

Riwayat C-130 yang kini berdinas di Skuadron 31 Halim Perdanakusuma dan 
Skuadron 32 di Lanud Abdulrachman Saleh ini juga menggugah. Dikisahkan dalam 
buku Hercules Sang Penjelajah (Skuadron 31, 2003) dan 50 Tahun Hercules susunan 
T Tarigan Sibero (Dispen AU, 2004) bahwa Hercules bisa hadir di sini setelah 
Presiden Soekarno ketika melawat ke Amerika Serikat mendapat tawaran dari 
Presiden John Kennedy yang ingin berterima kasih setelah Pemerintah RI 
membebaskan pilot CIA, Allan L Pope, yang ditembak jatuh oleh Kapten Dewanto 
selama pemberontakan Permesta.

Berdasarkan masukan dari Menteri/Panglima AU Suryadarma, Presiden Soekarno pun 
membalas tawaran Kennedy dengan pancingan. "Sebetulnya saya sedang butuh 
pesawat angkut berat untuk memperkuat Angkatan Udara. Saya pernah mendengar 
tentang pesawat Hercules, seperti apa ya bentuknya?"

Kennedy pun lalu membawa Soekarno ke pabrik Lockheed di Burbank, California, 
dan diizinkan untuk membeli 10 pesawat Hercules tipe B, terdiri dari 8 kargo 
dan 2 tanker.

Musibah

Tak lama setelah tiba di Indonesia, misi pertama Hercules adalah operasi 
pembebasan Irian Barat. Dua C-130B terbang ke Irian pada 19 Mei 1962. Setelah 
itu, dalam pengabdiannya di TNI AU, sejumlah Hercules mengalami musibah.

Yang pertama adalah hilangnya Hercules C-130B dengan nomor registrasi T-1307 
pada misi Dwikora 1 September 1964. Lalu, 16 September 1965 T-1306 tertembak 
oleh pasukan darat sendiri di Long Bawang.

Masih ada kecelakaan yang melibatkan Hercules Patroli Maritim A-1322 di Sibayak 
pada 21 November 1985. Tetapi, yang amat menggetarkan adalah musibah yang 
terjadi seusai HUT TNI 5 Oktober 1991. Pesawat yang akan terbang mengangkut 
kembali 121 anggota Pasukan Khas TNI AU ke Bandung itu jatuh di Condet, Jakarta 
Timur.

Populasi Hercules TNI AU menyusut lagi dengan jatuhnya A-1325 di Magetan. Dalam 
edisi 2008 The Military Balance IISS disebutkan bahwa komposisi Hercules di TNI 
AU mencakup 8 unit C-130B, 2 unit KC-130B, 4 unit C-130H, dan 6 unit C-130H-30 
sehingga total ada 20 sebelum musibah Magetan.

TNI AU juga telah mengupayakan peremajaan Hercules. Seperti diberitakan situs 
Defence World (27/22/2008), Singapore Technology Engineering melalui anak 
perusahaannya, ST Aerospace, telah dipercaya untuk memudakan empat Hercules 
C-130B TNI AU dengan kontrak senilai 51 juta dollar AS. Dengan program ini, 
tipe B  diupayakan menjadi tipe H.

Semua upaya itu tentunya dimaksudkan untuk membuat komponen transpor TNI AU 
semakin tangguh. Tetapi, program retrofit atau peremajaan ini semestinya juga 
disertai dengan program pengurangan kecelakaan. Ini pula sebenarnya yang 
menjadi program KSAU demi KSAU.

Demikian terobsesinya TNI AU dengan upaya pengurangan kecelakaan sehingga TNI 
AU juga mencanangkan Peta Jalan menuju Kecelakaan Nol (Road Map to Zero 
Accident). Sayang bahwa kecelakaan bukannya makin surut, tetapi justru makin 
bertambah.

Komitmen politik

Pada masa Orde Baru, mendiang Presiden Soeharto yang memimpin Indonesia selepas 
era konfrontasi amat menenggang perasaan negara-negara tetangga, khususnya 
Malaysia dan Singapura, yang terkena dampak langsung politik konfrontasi. 
Karena itu pula anggaran pertahanan Indonesia relatif kecil, di bawah 5 persen 
produk domestik bruto.

Kini zaman telah berubah. Sejumlah perkembangan di kawasan seperti dialami 
sendiri oleh Indonesia sehubungan dengan isu Ambalat menuntut Indonesia untuk 
lebih realistis dalam merespons isu keamanan.

Sayang bahwa perekonomian Indonesia sejak krisis 1997 tak kunjung pulih 
meyakinkan. Pada sisi lain, rupiah yang telah susut nilainya hanya bisa melihat 
harga-harga alutsista yang bernilai puluhan, bahkan ratusan juta dollar, atau 
dalam rupiah menjadi ratusan miliar bahkan triliunan. Padahal, kebutuhan lain 
terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial masih 
mendesak.

Meski demikian, tetap harus ada komitmen politik dari pimpinan nasional 
terhadap pertahanan. Tanpa komitmen kuat pula, TNI AU dan angkatan lain, akan 
beroperasi tidak optimal karena menerbangkan pesawat pun dibutuhkan persyaratan 
minimal guna membuat penerbang bisa melaksanakan tugas-tugasnya dengan 
profesionalitas penuh dan hati mantap karena diliputi perasaan sejahtera.



Sumber : Kompas Cetak



Kirim email ke