Kalau di negara US, saya lihat semua tulisan di label products dari
China, selalu tertulis made in China dan nggak ada tulisan made in
Tiongkok.

Untuk istilah "Indo", sepengetahuan saya, itu adalah arti kata dari
orang2 Indonesia yang mixed dengan Western's.

Selama mereka menyebut tanpa bermaksud menghina, merendahkan orang2 yang
Chinese descent, menurut saya tidak masalah.  Ada orang yang masih suka
menghina para keturunan tsb, dan tanpa disadari mereka telah menghina
Tuhan - karena semua manusia adalah ciptaan Tuhan.

Bisa juga karena tingkah orang2 tsb yang selfish, jadi semua terkena
imbasnya.  Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Lily


--- In [email protected], "andreas.wicaks...@..."
<andreas.wicaks...@...> wrote:
>
>
> Bapak Indradya dan Ibu Irma, atau mungkin pembaca lain yang sedang
bingung,
>
> Masalah "Cina" dan "Chaina" ini terjadi akibat politik bahasa pada
masa awal Orde Baru di tahun 1967
>
> Pada masa Orde Lama, tidak ada negara yang disebut dengan "Cina." Yang
ada adalah "Tiongkok." Demikian juga dalam penyebutan dalam bahasa
Indonesia, yang ada adalah "Tionghoa" dan "Tiongkok."
>
> Jadi pada masa orde lama, sebutan untuk "Cina" adalah Tiongkok atau
Tionghoa.
>
> Tetapi akibat peristiwa 30 September 1965, Pemerintah Orde Baru
mengeluarkan Surat Edaran Presidium Kabinet RI No SE-06/PresKab/6/1967
Tanggal 20 Juni 1967, yang berisi tentang pelarangan penggunaan istilah
Tiongkok dan Tionghoa, dan menggantinya dengan "Cina."
>
> Surat edaran ini juga aneh kenapa presiden perlu mengeluarkan surat
edaran yang mengatur penggantian penyebutan negara.
>
> Seorang pakar kajian Indonesia dari Cornell University, James Siegel,
pernah menulis tentang arti kata "Cina" dalam bukunya yang berjudul
"Solo in the New Order." Siegel menulis bahwa arti kata "Cina" dalam
konteks Indonesia itu sama dengan sebutan "Chink" dalam bahasa Inggris
untuk menyebut orang Tionghoa di Amerika, serta sebutan "Negro" untuk
menyebut Afro-American. JAdi istilah itu berkonotasi negatif serta ada
nada penghinaan. Hal ini mungkin berbeda dengan negara Malaysia
misalnya, di mana istilah "Cina" bisa diterima, karena tidka ada muatan
sosial maupun politis. Sama halnya dengan "Negro," di Perancis (Negre)
dan di Spanyol (Negro), istialh tsb tidak menjadi masalah. Tetapi
berbeda dengan di Amerika Serikat, di mana istilah tsb mempunyai
konotasi penghinaan.
>
> Politik bahasa inilah yang digunakan oleh Orde Baru untuk "menghukum"
orang Tionghoa yang dituduh ikut serta dalam peristiwa G 30 S.
>
> Pada tahun 1990-an ketika pemerintah Indonesia dan Tiongkok menjalin
hubungan diplomatik, dengar-dengarnya masalah yg cukup alot dibicarakan
adalah penyebutan negara Tiongkok. Indonesia tetap bersikeras untuk
memakai "Cina" Sedangkan China bersikeras untuk menggantinya dengan
istilah yang sebelumnya dipakai, yaitu "Tiongkok." Karena tidak ada
kesepakatan, akhirnya dimbail jalan tengah, yaitu memakai istilah
Inggris. TEtapi dalam situs resminya dalam bahasa Indonesia, Chinese
Embassy memakai istilah Tiongkok.
>
> Menurut Arief Budiman, seorang Tokoh Indonesia yang tetap konsisten
dengan memakai "Tiongkok" dan "Tionghoa" adalah Mochtar Lubis. Dan salah
satu koran yang memakai istilah Tiongkok dan Tionghoa adalah Koran Jawa
Pos.
>
> Masalahnya bagi kita sekarang ini adalah mengapa sih kita tidak mau
menyebut orang dengan nama yang mereka inginkan? Kalau mereka ingin
disebut "Tiongkok" atau "Tionghoa," mengapa kita bersikeras menyebutnya
dengan "Cina." Bukankah kita juga berkeberatan jika penduduk Malaysia
menyebut orang Indonesia sebagai "Indon?" Dan kita lebih suka disingkat
dengan "Indo?"
>
> Mungkin sudah saatnya juga Surat Edaran Presidium Kabinet RI No
SE-06/PresKab/6/1967 yang menggunakan politik bahasa untuk penghinaan
itu dipertimbangkan untuk dicabut juga, seperti yang disuarakan oleh
beberapa organisasi Tionghoa.
>
> Mungkin perlu kita renungkan bagaimana perasaan kita kalau pemerintah
Malaysia dan Singapura mengeluarkan surat resmi yang menyatakan bahwa
"Indon" adalah singkatan resmi untuk "indonesia"
>
> Andreas.

Kirim email ke