Bun g Eko Kertajaya, Kita harus memaklumi bahwa mayoritas rakyat kita dalam mengambil keputusan strategis, terutama dalam memberikan suara di Pilkada dan Pemilu, cenderung hanya berdasarkan pengamatan sepintas dan sumir. Kampanye para calon Pemimpin Politik, baik di Pilkada maupun di Pemilu (termasuk Capres dan Cawapres) cenderung memanipulasi ketidak tahuan dan kebodohan rakyat dengan menyatakan bahwa merekalah yang paling gigih berjuang untuk kesejahteraan rakyat. Isu mempertentangkan Ekonomi Liberal, Ekonomi Kebangsaan dan Ekonomi Kerakyatan gak jelas ujung pangkalnya. Semua cenderung manipulatif. Menyedihkan memang. Tapi ini adalah potret bangsa kita. Rasanya sia - sia saja bangsa ini menyelenggarakan Pilkada dan Pemilu dengan mengorbankan biaya dan energi yang luar biasa besar, tetapi hasilnya tidak mampu untuk membuat bangsa ini menjadi yang lebih baik. Pertanyaannya adalah: Bagaimana caranya mendidik bangsa kita agar menjadi bangsa yang cerdas??? Salam, Adyanto Aditomo
--- Pada Sen, 25/5/09, EKO KERTAJAYA <[email protected]> menulis: Dari: EKO KERTAJAYA <[email protected]> Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Pro-kontra SBY-Boediono Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 25 Mei, 2009, 8:33 AM lho khan sudah lama penyakit kronik ini ada. ini buah proses pendidikan yg mengutamakan hasil2 scr instant. sulit utk menentukan pilihan berdasarkan analisis2 yg kritis dan rekam jejak yg memadai. metode ilmiah hanya sebatas digunakan utk penulisan2 dan di laboratorium2 intelektual. sedikit sekali digunakan dlm ranah2 praksis kemasyarakatan. keputusan langsung diambil berdasar pengamatan sepintas dan sumir. sungguh memprihatinkan.
