Perubahan masyarakat kota metreopolis yang membuat rasa
tidak lagi peka dan cenderung egois, bukan individualis.
Saya pikir ini harus di akui.
Trilogi Pembangunan Orba yang mengedepankan pertumbuhan
stabiulitas dan pertumbuhan ekonomi , akhirnya memngubah
perilaku masyaraktnya. {rita adalah sebuah kasus yang menyentak
dan semoga belajar.
Siang ini barusan di Max ada film yang more or less sama,
intinya mengakkan rasa keadilan masyarakat yang akhirnya
masyarakat Tenesse BERGOTONG ROYONG membantu
meskipun harus menentang pemerintah. Ini film yang katanya
negara liberal lhoh..................................... :-$ Bagaimana hal
itu bisa terjadi? peran media masa yang jujur memungkinkan
itu terjadi.
Gotong royong itu yang hilang dan harus ditumbuhkan kembali
karena merupakan jati diri bangsa. Maka , kesadaran bersama
harus dibangun bila ingin membangun kembali Bangsa secara
berkesinambungan dan bukan hanya seumur ritual politik lima
tahunan. Media masa yang jujur dan cerdas jelas ikut berperan
besar dalam perhelatan besar membangun bangsa ini.
Adyanto Aditomo wrote:
>
>
> Kelihatannya ada "kecelakaan" dalam pengelolaan RS. OMNI Internasional
> Serpong ini.
> Caranya menangani komplain pasien sangat tidak profesional.
> Kalau membaca visi dan misi RS. Omni Internasional, seharusnya
> peristiwa gugatan terhadap pasien Ibu Prita tidak perlu terjadi,
> karena Ibu Prita bukannya komplain atas kualitas pelayanan RS. OMNI,
> tetapi justru mengucapkan terimakasih atas pelayanan yang telah diberikan.
>
> 1. Ada 2 hal pokok yang dikeluhkan oleh Ibu Prita, yaitu:
> A. Terjadinya eror atas hasil Lab sehingga Dokter salah dalam
> melakukan diagnosa.
> Soal terjadinya kesalahan atau ketidak akuratan hasil Laboratorium,
> itu bisa saja terjadi pada laboratorium atau rumah sakit dimanapun di
> dunia ini, karena penyebab terjadinya eror atas hasil laboratorium
> bisa oleh 1001 macam penyebab.
> Solusi yang terbaik: mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas
> ketidak nyamanan pasien.
> Sebagai kompensasinya, biasanya pasien dibebaskan dari biaya
> pemeriksaan dan rawat inap pada hari tersebut.
> Untuk rawat inap pada hari selanjutnya, bisa dibicarakan ulang tentang
> untung ruginya berobat jalan atau rawat inap.
>
> B. Komunikasi yang buruk antara Dokter dan Pasien.
> Kelihatannya dokternya tidak ditraining tentang sopan santun dalam
> menghadapi pasien serta tidak paham atas hak dan kewajiban Dokter dan
> Pasien.
> Biasanya kualitas dokter semacam ini adanya di daerah yang pasiennya
> dari kalangan bawah dengan pendidikan yang rendah.
> Saya beberapa kali bertemu dengan dokter dengan kualitas semacam ini
> di daerah, dimana kalau ditanya cenderung marah dan bilang: "Sudah,
> gak perlu banyak tanya. Soal sakitnya apa dan obatnya apa itu urusan
> saya sebagai dokter dan anda sebagai pasien gak usah banyak tanya dan
> harus nurut kalau mau sembuh. Saya tidak punya waktu untuk jelaskan
> itu semua, karena masalahnya rumit".
>
> Pihak manajemen RS. OMNI bukannya menindak para dokter yang tidak
> profesional tersebut, malah membela habis - habisan seluruh kesalahan
> dokter tersebut dengan resiko RS. OMNI bangkrut bila tindakannya tidak
> mendapat simpati dari masyarakat.
>
> 2. Peran Humas yang tidak profesional.
> Humas RS OMNI yang seharusnya menjadi penengah sengketa antara Pasien
> dan Dokter, ternyata tidak berfungsi secara profesional.
> Kelihatannya pihak manajemen RS. OMNI gagal merekrut tenaga Humas yang
> handal dan profesional, sehingga masalah yang sebetulnya sangat
> sederhana penyelesaiannya menjadi sangat rumit dan tidak manusiawi.
> Kesan kuat yang muncul di masyarakat adalah : RS. OMNI sebagai pihak
> yang kuat dalam modal dan pengaruhnya terhadap Aparat Hukum berupaya
> menindas masyarakat lemah yang merasa tidak puas atas pelayanan yang
> diberikan oleh RS. OMNI.
>
> 3. RS. OMNI beresiko bangkrut.
> Karena masyarakat luas dan juga para pemimpin politik
> (DPR, Mentri, Presiden) dan pimpinan birokrasi (Dirjen Pelayanan
> Kesehatan, Jaksa Agung, Kapolri, dsb) di negri ini menilai apa yang
> dilakukan oleh RS. OMNI terlalu berlebihan dan tekesan untuk unjuk
> kekuatan terhadap pasien yang tidak puas atas pelayanannya, maka Rumah
> Sakit Omni saat ini beresiko bangkrut, baik akibat diboikot oleh
> masyarakat luas atau ijin operasinya dicabut oleh pihak yang berwenang.
> Bagi pemilik modal, itu adalah resiko dari kebijakan yang dia buat
> dalam menentukan spesifikasi tenaga profesional di Rumah sakit tersebut.
> Tetapi bagi karyawan yang tidak terlibat dalam kasus tersebut, ini
> merupakan "kiamat" karena bisa membuat mereka tiba - tiba menjadi
> pengangguran.
> Segala jerih payah mereka hancur sia - sia.
> Tidak ada Rumah Sakit lain yang mau menerima mereka.
>
> Kasus ini rasanya bisa menjadi pelajaran bagi para pengelola usaha di
> negri ini, baik modalnya dari Dalam Negri atau Asing, untuk dapat
> melayani publik yang nota bene adalah Pelanggannya, secara
> profesional, sehingga Pelanggan maupun Pemilik Modal dan juga
> Karyawan bisa tersenyum puas.
> Jika banyak kasus seperti RS. OMNI di negri kita ini, niscaya
> perkembangan bisnis di Indonesia bisa menjadi sangat buruk, karena
> masing - masing pihak terlalu curiga dan tidak memiliki kepercayaan
> antara satu dengan yang lainnya.
>
> Salam,
>
> Adyanto Aditomo