Oleh AB Kuniawan/Try Hariyono
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/09/03360667/dirancang.antigempa.tahan..100.tahun




Berdirinya Jembatan Suramadu merupakan tonggak sejarah baru dalam pembangunan 
konstruksi prasarana perhubungan di Indonesia. Jembatan antarpulau sepanjang 
5.438 meter yang akan diresmikan Rabu (10/6) besok itu bukan hanya yang 
terpanjang di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara.

Sebagai jembatan yang menghubungkan dua pulau, sesungguhnya Suramadu 
(Surabaya-Madura) merupakan yang kedua setelah rangkaian jembatan Barelang 
(Batam Rempang Galang) yang selesai dibangun tahun 1997. Enam jembatan dengan 
berbagai tipe yang menghubungkan tujuh pulau kecil di Propinsi Kepulauan Riau 
ini, merupakan landmark keberhasilan dan kemandirian anak bangsa dalam 
membangun jembatan antar pulau.

Sebelum Suramadu dibangun, sempat timbul keragu-raguan, apakah mungkin 
membangun jembatan di daerah patahan dan gempa? Bagaimana dengan tiupan angin 
di laut Selat Madura yang terkenal kencang, apakah tidak akan memengaruhi 
konstruksi jembatan?

Penelitian pun akhirnya dilakukan secara mendalam selama tahun 2003-2004. 
Penelitian yang lebih bersifat technical study dilakukan terhadap 12 item yang 
kebanyakan berupa parameter tanah.

Dari sisi seismic hazard analysis, misalnya, diperoleh kesimpulan, di sekitar 
lokasi jembatan tidak ditemukan suatu patahan aktif. Berdasarkan katalog gempa 
juga tidak ditemukan gempa dengan magnitude di atas 4 skala Richter sehingga 
kondisi di sekitar lokasi jembatan cukup stabil.

Kajian mendalam juga dilakukan terhadap kontur dasar laut, arus air laut, serta 
pengaruh pasang terhadap jembatan. Ternyata semuanya sangat memungkinkan untuk 
dibangun jembatan yang menghubungkan dua pulau. Adapun untuk angin, berdasarkan 
kajian ternyata angin yang melintang kecepatannya sekitar 3,6 kilometer per jam 
sampai maksimal 65 kilometer per jam.

Tahan gempa

Jembatan Suramadu yang pemancangan tiang pertamanya dilakukan pada 20 Agustus 
2003 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri saat ini bisa tahan terhadap 
guncangan gempa sampai 7 skala Richter. Jembatan ini pun dirancang dengan 
sistem antikorosi pada fondasi tiang baja.

Karena menghubungkan dua pulau, teknologi pembangunan Jembatan Suramadu 
didesain agar memungkinkan kapal-kapal dapat melintas di bawah jembatan. Itulah 
sebabnya, di bagian bentang tengah Suramadu disediakan ruang selebar 400 meter 
secara horizontal dengan tinggi sekitar 35 meter.

Untuk menciptakan ruang gerak yang lebih leluasa bagi kapal- kapal, di bagian 
bentang tengah Suramadu dibangun dua tower (pylon) setinggi masing-masing 140 
meter dari atas air. Kedua tower ini ditopang sebanyak 144 buah kabel penopang 
(stayed cable) serta ditanam dengan fondasi sedalam 100 meter hingga 105 meter.

"Total panjang tower sekitar 240 meter. Ini sesuatu yang belum pernah dilakukan 
sebelumnya," kata Direktur Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum 
Hermanto Dardak.

Kuat 100 tahun

Secara keseluruhan, pembangunan Suramadu menghabiskan sekitar 650.000 ton beton 
dan lebih kurang 50.000 ton besi baja. Tak heran, dinas pekerjaan umum 
mengklaim Suramadu sebagai megaproyek yang menghabiskan dana total mencapai Rp 
4,5 triliun. Jembatan ini dirancang kuat bertahan hingga 100 tahun atau hampir 
menyamai standar Inggris yang mencapai 120 tahun.

Karena berada di tengah lautan, Suramadu berpotensi terkendala faktor angin 
besar yang potensial terjadi di tengah lautan. Untuk memastikan keamanan 
kendaraan yang melintas di atas Suramadu, Departemen Pekerjaan Umum akan 
membangun pusat monitoring kondisi cuaca, khususnya angin.

"Jika kecepatan angin sudah mencapai 11 meter per detik atau sekitar 40 
kilometer per jam, jembatan harus ditutup untuk kendaraan roda dua demi 
keselamatan pengendara," ujar Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

Jika kecepatan angin bertambah hingga 18 meter per detik atau sekitar 65 
kilometer per jam, jalur untuk kendaraan roda empat akan ditutup. Langkah ini 
semata-mata untuk keselamatan dan kenyamanan pengendara. Adapun konstruksi 
jembatan akan tetap aman karena Jembatan Suramadu dirancang tetap kokoh meski 
ditempa angin berkecepatan lebih dari 200 kilometer per jam.

Bukan cuma kuat dari terpaan angin, Jembatan Suramadu juga didesain mampu 
menopang kendaraan sesuai standar as atau axle di daratan. Dengan demikian, 
Suramadu diperkirakan mampu menahan beban dengan berat satu as kendaraan 
sekitar 10 ton.

Cukup lima menit

Setelah diresmikan besok, diperkirakan Jembatan Suramadu akan dilintasi 
8.000-9.000 sepeda motor per hari serta sekitar 4.000 kendaraan roda empat per 
hari.

Jumlah ini berdasarkan perhitungan sebelumnya, kendaraan yang melintasi 
Ujung-Kamal dengan menggunakan kapal feri sekitar 2,4 juta sepeda motor per 
tahun (62 persen) serta 1,5 juta kendaraan roda empat per tahun (38 persen).

Selain bakal padat, jembatan ini pun pasti akan sangat membantu masyarakat 
karena waktu tempuh Surabaya-Madura bisa dipersingkat. Jika sebelumnya 
menggunakan feri dibutuhkan waktu sekitar 30 menit, sekarang dengan menggunakan 
Suramadu cukup ditempuh lima menit.

Sempat tersendat

Pembangunan Suramadu dalam perjalanannya sempat menemui kendala dana. 
Terhambatnya pencairan dana menyebabkan pembangunan approach bridge atau 
jembatan pendekat sisi Surabaya sepanjang 672 meter tersendat September 2008. 
Pemerintah Provinsi Jawa Timur akhirnya menalangi dana pembangunan melalui Bank 
Jatim sebesar Rp 50 miliar sebelum dana pinjaman dari Bank Exim of China 
sebesar 68,9 juta dollar AS cair.

 

Studi pembangunan yang kurang sempurna menyebabkan perkiraan biaya pembangunan 
juga meleset, seperti tiang pancang jembatan yang awalnya hanya didesain 
setinggi 45 meter akhirnya bertambah menjadi sekitar 90 meter. Karena itu, dari 
estimasi awal nilai kontrak sebesar Rp 4,2 triliun, biaya pembangunan akhirnya 
membengkak hingga Rp 4,5 triliun.

Pembiayaan pembangunan Suramadu 55 persen ditanggung pemerintah, sedangkan 45 
persen sisanya pinjaman dari China. Dari total biaya pembangunan Suramadu 
sebesar Rp 4,5 triliun, sekitar Rp 2,1 triliun di antaranya harus berutang 
kepada China.

Mahalnya pemikiran dan biaya pembangunan Suramadu diharapkan mampu menumbuhkan 
geliat ekonomi Tanah Air, terutama Jawa Timur.

(Yuni Ikawati)



Kirim email ke