Laporan Wartawan Persda Yon Daryono dari Belanda

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/06/18/10311048%20/mahasiswa.ri.luncurkan.satelit.di.belanda.2010


DELFT, KOMPAS.com — Kemampuan mahasiswa Indonesia di luar negeri ternyata cukup 
membanggakan nama Tanah Air. Dwi Hartanto, mahasiswa master di Universitas 
Teknologi Delft (TU Delft), Belanda, rencananya akan meluncurkan nanosatelit 
yang dinamakan Delfi-n3Xt pada pertengahan tahun 2010. 

Sebelumnya, nanosatelit Delfi-C3 juga berhasil diluncurkan pada tahun 2008. 
Nanosatelit ini diklaim sebagai satelit pertama buatan mahasiswa di Belanda 
yang berhasil mengorbit bumi.

Rahmadi, Wakil Sekjen PPI Belanda, menyampaikan informasi tersebut kepada 
Persda network melalui surat elektronik seusai Kolokium PPI Delft (KOPI Delft) 
yang rutin diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda, pekan 
lalu. "Dwi memaparkan riset pembuatan nanosatelit, mulai dari desain, 
fitur-fitur yang disyaratkan, serta misi peluncurannya," ujar Rahmadi.

Menurutnya, keberhasilan salah satu mahasiswa asal Indonesia seperti Dwi patut 
diapresisasi. Pasalnya, dunia riset memang semestinya terbangun oleh tiga pilar 
besar, yaitu institusi pendidikan, pemerintah, dan industri.

Pada kesempatan itu pula, kolega Dwi, Aryo Primagati, yang saat ini bekerja 
sebagai insinyur telekomunikasi pada ISIS (Innovative Solutions In Space), 
sebuah perusahaan kecil yang didirikan alumni TU Delft yang pernah terlibat 
pada proyek nanosatelit Delfi-C3, mengatakan bahwa riset pembuatan nanosatelit 
sangat cocok dijadikan proyek penelitian dalam skala universitas. Selain desain 
yang lebih sederhana pada ukuran yang lebih kecil, dana yang dibutuhkan juga 
jauh lebih kecil dibandingkan satelit konvensional.

Sekadar perbandingan, Aryo mengatakan bahwa untuk membangun dan meluncurkan 
sebuah satelit normal diperlukan biaya jutaan euro (puluhan hingga ratusan 
miliar rupiah) dengan waktu pengembangan 5-10 tahun. Adapun untuk nanosatelit, 
seperti Delfi C3 atau Delfi-n3Xt, hanya diperlukan waktu satu sampai dua tahun 
pengembangan dengan biaya sekitar 100 sampai 200.000 euro (sekitar Rp 1,5 
sampai Rp 3 miliar).

Pada akhir sesi presentasi KOPI Delft kali ini, Dedy Wicaksono, peneliti 
pasca-doktoral di TU Delft, memaparkan visi dan ambisi mereka bersama untuk 
menggagas sebuah proyek nanosatelit untuk mahasiswa Indonesia yang diberi nama 
INSPIRE (Indonesian Nano-Satellite Platform Initiative for Research and 
Education).

Mengingat, sebenarnya Indonesia telah merintis dunia riset antariksa sejak 
dekade 1960-an. Ide yang dibawa oleh Dedy bersama koleganya adalah membuat 
suatu konsorsium yang terdiri dari berbagai universitas di Indonesia, 
lembaga-lembaga penelitian pemerintah, dan tentunya rekanan dari dunia industri 
sebagai sponsor pendanaan.

Senada dengan Dedy, Aryo pun menilai misi peluncuran INSPIRE 1 hendaknya tidak 
terlalu mensyaratkan misi yang terlampau sulit. Pada kenyataannya, selain 
sebagai satelit komunikasi radio amatir, misi Delfi-C3 yang utama adalah 
sebagai technology demonstration and development. Mengenai masalah pendanaan, 
kiranya perlu dicari solusi yang terbaik. Salah satu yang sudah direncanakan 
adalah mengajukan proposal proyek INSPIRE ke berbagai pihak terkait di Tanah 
Air.

Acara Kolokium PPI Delft atau sering disingkat KOPI Delft ini adalah acara 
rutin dwi mingguan yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, 
Belanda. (yondaryono, persdanetwork)


Kirim email ke