Wahahaha, sohib sok pinter tapi keliru. Belajar dulu deh, hib. Trauma kaga ngerti, maka penjelasan pun menyesatkan. Asal njeplak. Seperti biasa, hihihi. Ini saya kuliahi lagi ya. Masih gratis kok, kaya kemaren-kemaren: Kalo Mano trauma sama perkosaan dan penyiksaan oleh pangeran botak, maka jika perbuatan serupa diperankan (acted) dan "dipanggungkan kembali" (re-enacted) di sinetron, mestinya mano akan semaput sambil histeris dan kejang-kejang atau paling tidak jerit-jerit. Ini namanya simptom adanya trauma. Kalo melihat luka-luka di tubuhnya tiap hari aja konon dia trauma, apalagi kalo dipajang buat sinetron, mestinya lebih traumatis lagi. Lha kok ini malah disambut dengan gembira? udah ngarti, hib? manneke
--- On Tue, 6/23/09, sohibmachmud <[email protected]> wrote: From: sohibmachmud <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: hasil visum manohara To: [email protected] Received: Tuesday, June 23, 2009, 8:39 PM sumber trauma bukanlah dalam memainkan peran dalam sinetron. sumber trauma manohara itu pangeran sadistik dari kelantan. nah kalau didekatkan dgn pangeran botak itu baru dia trauma. jadi tidak selalu menjauhkan sesuatu yg berhubungan dgn trauma sebagai therapy. bagaiamanapun tiap hari dia melihat bekas luka ditubuhnya. jadi memerankan peran dalam sinetron tidak menimbulkan trauma. malahan tuduhan berbohong, memaki2 agar mau divisum itu malah menimbulkan trauma baru. sohib
