http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/01/03481187/70.persen..perokok.menengah.bawah


Jakarta, Kompas - Saat ini lebih dari 70 persen dari 60 juta perokok di 
Indonesia adalah mereka yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah.

"Ada lingkaran setan antara merokok, kemiskinan, malanutrisi, dan kebodohan. 
Anak-anak juga menjadi korban. Rokok itu pintu gerbang kehancuran bangsa," kata 
mantan Menteri Kesehatan Prof Farid Anfasa Moeloek saat peluncuran buku 
berjudul Tembakau: Ancaman Global di Jakarta, Selasa (30/6).

Buku yang diterjemahkan dari karya John Crofton dan David Simpson ini disunting 
oleh Muherman Hasan, dokter ahli paru- paru. John Crofton adalah tutor dari 
Muherman Hasan selama 20 tahun untuk upaya pemberantasan tuberkulosis (TB).

Kini konsumsi rokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia setelah China 
dan India. Semula Indonesia nomor lima. Tidak heran jika lebih dari 60 juta 
orang membelanjakan uangnya untuk membeli rokok. Mereka rata-rata menghabiskan 
11 batang rokok per hari.

Secara nasional belanja bulanan untuk rokok pada keluarga perokok menempati 
urutan terbesar kedua (9 persen) setelah beras (12 persen).

Yang lebih memprihatinkan, dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006, 
kelompok keluarga miskin terbukti mempunyai proporsi belanja rokok yang lebih 
besar (12 persen) daripada kelompok terkaya yang hanya 7 persen.

"Belanja bulanan rokok pada keluarga miskin tahun 2006 setara dengan 15 kali 
biaya pendidikan dan sembilan kali biaya kesehatan. Jumlah tersebut setara 
dengan 17 kali pengeluaran untuk daging, dua kali lipat untuk membeli ikan, 
serta lima kali lipat untuk beli susu dan telur," kata Tulus Abadi, anggota 
Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Survei tahun 1999-2003 pada lebih dari 175.000 keluarga miskin di perkotaan 
menunjukkan, tiga dari empat kepala keluarga (78,8 persen) adalah perokok 
aktif. Belanja mingguan membeli rokok menempati peringkat tertinggi (22 
persen), jauh lebih besar daripada pengeluaran makanan pokok beras (19 persen). 
Sementara itu, pengeluaran untuk telur hanya 3 persen dan ikan hanya 4 persen.

Perilaku merokok kepala rumah tangga berhubungan erat dengan gizi buruk, yaitu 
prevalensi anak sangat kurus, berat badan rendah, dan anak sangat pendek.

"Studi sejenis pada 2000-2003 pada lebih dari 360.000 rumah tangga miskin di 
perkotaan dan pedesaan membuktikan kematian bayi dan anak balita lebih tinggi 
pada keluarga yang orangtuanya merokok daripada yang tak merokok," ujar Tulus. 
(LOK)

Kirim email ke