Terus terang, saya tertawa (secukupnya..) ketika mulai ada upaya utk menakar 
"tangisan" SBY, kapan dia tidak menangis, dimana saja, utk tujuan menilai 
apakah tepat atau tidak. 

Itulah politik. Kalau kurang menangis dlm peristiwa bencana, dianggap tidak 
punya perasaan, tapi kalau dalam semua bencana, kecil atau besar, SBY menangis, 
nanti dikatain "presiden cengeng" (ingat film "Koboi Cengeng"?). Menangis 
karena alasan yg kurang pas itu cengeng!

Tapi kalau sudah sering menangis tangisan itu jadi tidak bermakna lagi, karena 
"inflasi". Tangisan murahan. Lalu disisi lain, masyarakat jadi msuka enilai, 
dlm peristiwa ini kok nggak menangis ya, dlm peristiwa itu kog menangis dia, 
kan seharusnya tidak perlu menangis. Cukup wajah sedih saja diperlihatkan. 
Presiden itu kok begitu ya? Menangis saja milih-milih peristiwa. Nggak adil 
dong. Menangis harus adil, kan selaku presiden berada di atas semua golongan. 
Tangisan kepala negara menjadi penghiburan bagi mereka yg kena musibah. Jadi 
musibah dimana saja di seluruh tanah air sudah sepantasnya presiden menangis 
dan disaksikan rakyat (siaran langsung dilakukan oleh TVRI, sipemersatu bangsa).

Di daerah saya, masyarakat Batak umumnya, bila ada saudara katakanlah ayah atau 
ibu meninggal dunia, lalu si anak tidak menangis (tidak keluar air matanya), 
dianggap kurang ajar. Perbuatan amoral. Sama dengan kisah dalam sebuah novel 
Kafka "The Outsider".

Begitu penting rupanya air mata itu. Airmata menjadi alat ukur paling sahih utk 
menilai tingkat empati seseorang.

Bangsa yg cengeng adalah bangsa yg bisa menghargai air mata.

-norman gt-


 

--- In [email protected], wirajhana eka <wirajh...@...> 
wrote:
>
> Saya juga ngga pernah lihat SBY menangis ketia 21 orang yang mati ketika
> peristiwa ZAKAT maut di PASURUAN
> di saat kejadian dan hingga saat ini [terakhir Sep 2008] pengusutan masih
> berlangsung.
> 
> 
> 
> 
> 
> 2009/7/3 Godlip Pasaribu <marnagan2...@...>
> 
> >
> >
> > Mengatakan SBY tidak menangis saat tsunami Aceh dan Gempa Jogja saja anda
> > sudah jelas sekali ngibulnya.
> >
> > Powered by Telkomsel BlackBerry®
>


Kirim email ke