Kembali ke Bangku Sekolah
Selasa, 13 Juli 2009 19:39 WIB
Tahun ajaran baru telah dimulai kembali. Anak-anak harapan bangsa mulai hari
Senin kembali masuk sekolah untuk menuntut ilmu, setelah sekitar tiga pekan
menikmati liburan kenaikan kelas.
Kesibukan segera terasa kembali. Para orangtua mempersiapkan semua kebutuhan
yang diperlukan putra-putri mereka agar bisa menuntut ilmu dengan baik.
Keberuntungan seperti itu sayangnya tidak didapatkan sama oleh semua anak. Bagi
mereka yang hidup berkecukupan, maka dengan mudah kebutuhan sekolah itu
terpenuhi. Tetapi bagi keluarga yang tidak mampu, maka mereka harus berangkat
ke sekolah dengan segala keterbatasannya.
Ketika sang anak pintar dan cerdas, bukan masalah besar segala keterbatasan
itu. Dengan kecerdikannya, banyak yang bisa dilakukan untuk menutupi kekurangan
itu dan mereka tetap bisa bersaing dengan anak-anak yang lain. Namun ketika ia
tidak tergolong anak yang pintar, maka keterbatasan itu menjadi beban tambahan
untuk bisa mengejar ketertinggalannya.
Kalau kita coba kelompokkan, setidaknya ada empat kelompok anak-anak kita.
Kelompok pertama adalah kelompok anak yang berada dan pintar. Kedua, kelompok
anak yang berada namun tidak pintar. Ketiga, kelompok anak yang tidak berada,
tetapi pintar. Dan kelompok keempat adalah kelompok anak yang tidak berada dan
juga tidak pintar.
Demi pembentukan anak-anak yang berkualitas di masa mendatang, perhatian
sepantasnya kita tujukan kepada kelompok keempat. Mengapa? Karena mereka yang
pasti tertinggal dalam proses pendidikan. Dan jumlah mereka relatif lebih besar
dibandingkan dengan tiga kelompok yang lain.
Pendidikan gratis sembilan tahun bukan jawaban dari persoalan ini. Mereka
memang tidak harus membayar untuk mengikuti pendidikan, namun kebutuhan sekolah
tidak hanya itu. Mereka butuh buku tulis, mereka butuh buku pelajaran, mereka
butuh sarana pendidikan, mereka butuh biaya transportasi, mereka butuh gizi
yang memadai.
Masalah ini memang tidak terlepas dari persoalan kemiskinan yang masih masif.
Itu terlihat dari banyaknya anak-anak yang memilih untuk menjadi pengemis di
perempatan-perempatan jalan atau membantu orangtuanya bekerja daripada memilih
pergi ke sekolah.
Di tengah dunia yang berlari cepat dan persaingan yang begitu ketat, mereka
pasti tidak akan bisa ikut berkompetisi. Mereka pasti hanya bisa menjadi
penonton dan korban dari persaingan apabila kita biarkan.
Inilah yang harusnya membangkitkan kesadaran kita untuk mencari jawabannya.
Bukan perkara yang mudah memang, tetapi itulah realita yang kita hadapi.. Kita
tidak bisa seperti burung onta yang memasukkan kepalanya ke dalam pasir
seakan-akan tidak ada masalah, tetapi harus mencari jalan keluar karena tidak
mungkin kita membiarkan mereka menjadi beban di masa mendatang.
Yang terpenting harus dilakukan dalam pendidikan terhadap kelompok anak-anak
yang seperti ini adalah jangan sampai mereka dihadapkan kepada situasi frustasi
dan membuat mereka menjadi fatalis. Apalagi ketika dihadapkan kepada kehidupan
yang serba wah, yang bisa membuat mereka gelap mata.
Rasa kesetiakawanan dan senasib sepenanggungan itulah yang harus kita juga
hidupkan dalam proses pendidikan kita. Harus mulai dibangun kesadaran terutama
kepada anak-anak yang lebih beruntung untuk peduli kepada sesama saudaranya
yang tidak mampu.
Kita ingatkan lagi pesan baik yang pernah disampaikan tokoh pendidikan Prof
Arief Rachman. Bahwa pendidikan jangan hanya melahirkan anak-anak yang pintar
semata, tetapi anak-anak yang punya hati, punya empati, mempunyai ahlak yang
baik, berbudi luhur, dan sadar bahwa keberhasilan itu dicapai dengan kerja
keras, bukan dengan jalan pintas.
Kita harus menghindarkan mereka dari perilaku buruk yang lebih menonjol saat
ini. Perilaku dari sebagian besar masyarakat yang begitu mendewa-dewakan yang
namanya materi, sehingga melahirkan perilaku yang korup. Orang tidak dihargai
karena karyanya, tetapi lebih dipuji karena kegelimangan hartanya, tidak peduli
dari mana harta yang melimpah itu didapatkan.
Kita menyambut baik orientasi pemerintah yang akan lebih mengutamakan sekolah
kejuruan daripada sekolah umum. Pembagian yang lebih awal bukan hanya baik
untuk tidak menghambur-hamburkan sumber daya yang terbatas, tetapi sejak awal
mengajarkan kepada anak-anak didik, khususnya yang sudah memasuki sekolah
menengah atas, untuk memilih jalur ke pendidikan yang lebih berorientasi kepada
pekerjaan ataukah memilih jalur menekuni keilmuan.
Di antara ke dua pilihan itu tidak ada yang baik dan buruk. Semua baik
sepanjang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Indonesia ke depan bukan hanya
membutuhkan ilmuwan-ilmuwan yang baik, manajer-manajer yang berkualitas, tetapi
juga orang-orang yang bisa mempraktikkan ilmu menjadi sesuatu yang berguna bagi
kehidupan masyarakat banyak. Kita tidak hanya membutuhkan orang-orang yang
berpikir, tetapi juga orang-orang yang bekerja.
Karena itu kita bukan hanya membutuhkan sekolah-sekolah kejuruan, tetapi
sekolah kejuruan yang baik. Sekolah kejuruan yang bisa menghasilkan orang-orang
yang dibutuhkan dan bisa langsung dikaryakan oleh dunia usaha.
Sekolah kejuruan bukan hal yang baru dalam sistem pendidikan kita. Hanya saja
kita tidak pernah menanganinya secara benar, sehingga satu per satu sekolah
kejuruan itu mati, karena anak-anak yang dihasilkan tidak cocok dengan
kebutuhan yang ada di lapangan.
Semoga kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Justru sebaliknya mengambil
pelajaran dari kesalahan masa lalu, bagi kemajuan pendidikan dan pembentukan
manusia Indonesia berkualitas di masa mendatang.
Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/
[Non-text portions of this message have been removed]