Oleh Mardi Luhung

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/19/03112511/tukang.cuci



Perkenalkan. Namaku Tukang Cuci. Pekerjaanku tukang cuci. Hidupku tukang cuci. 
Dan sebagai tukang cuci, aku mencuci semua yang perlu untuk dicuci. Biar 
bersih. Biar cling. Tak ada daki. Tak ada kotoran. Dan tak membuat bagi yang 
memakainya menjadi malu. Lalu membenamkan mukanya ke dalam bak kamar mandi. 
Mencoba mengusir rasa malunya itu.

Tapi, tunggu, tunggu dulu. Meski aku tukang cuci, aku bukan sembarang mencuci. 
Aku hanya mencuci pakaian istriku. Istriku yang kini telah menjelma ikan paus 
yang gemuk. Yang punya mata tajam. Yang saking tajamnya mampu melihat 
barang-barang renik. Meski dalam kegelapan. Kegelapan yang aku gunakan bercinta 
dengannya.

"Mas, Mas, apa yang terselip di telingamu itu?"

Begitu katanya saat asyik- asyiknya bercinta. Dan dia meraba telingaku. 
Terkejut. Sebab, dia menemukan sumpal kecil. Sumpal kecil yang menutup 
pendengaranku. Akh, dia marah. Matanya yang tajam makin menajam. Dan bruk! Dia 
membanting aku. Lalu, seperti anak kecil, dia pun menangis tak karuan.

"Mas, Mas, sudah benci pada suaraku, ya? Gila, gila, gila!"

Dan dengan sebat, dia pun membuka lemari pakaian. Dia keluarkan semua 
pakaiannya. Juga boneka-boneka kecilnya. Lalu menginjak-injaknya. Dalam 
pandanganku, saat menginjak-injak itu, dia bukan seperti orang marah. Tapi, 
orang menari-nari. Ya, ya, bayangkan, apa aku tak ketawa, ketika melihat ikan 
paus yang gemuk menari-nari? Ha, ha, ha, hampir saja aku mencibirnya. Tapi, 
cepat aku tahan. Aku tak mau berhantam dengan dia malam-malam.

Dan paginya, seluruh pakaian istriku berserakan. Kotor. Lecu dan mengenaskan. 
Sedangkan istriku, seperti biasa, cuma tidur di atasnya. Telentang. Dan giginya 
menggerentam. Seperti catutan yang mengkriuk. Dan diam-diam, seperti biasa, aku 
punguti pakaian-pakaian yang berserakan itu. Dan kembali lagi menjalani hidupku 
sebagai tukang cuci. Tukang cuci.

"Apa ada yang lebih ganjil dari gajah yang memakai kaus?" Jawabnya: Tak ada! 
Itu teka-teki gendeng. Segendeng ukuran kaus istriku ini. Dan lihat! Gede 
sekali ukurannya, bukan? Apa dobel L? Apa tripel L? Apa kuartet L? My God. 
Barangkali tak akan terukur. Maka tak perlulah untuk dijawab. Yang jelas, kini 
aku harus mencucinya. Mencuci dengan bersih.

"Mas, Mas, ini kaus kesayanganku. Terutama sulaman kembang merahnya. Jangan 
rusak, ya?"

Memang, sejak remaja istriku paling suka kembang merah. Dan kesukaannya ini 
sering membuat aku gelagapan. Bayangkan, semua barang yang ada di rumah (entah 
milikku atau miliknya) mesti ada kembang merahnya. Walau ukurannya kecil dan 
tersembunyi. Jadinya, jangan heran jika diam-diam aku membenci kembang merah 
itu. Masak di kaus singletku ada kembang merahnya. Di kerah bajuku ada. Dan, 
dan di celana dalamku pun ada.

Letaknya persis di depan. Jadinya, kalau aku berkaca lucu sekali. Celana dalam 
laki-laki kok ada kembang merahnya? Huh, jika begini aku benar-benar kelihatan 
konyol. Dan celakanya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak berkutik. Aku 
hanya dapat meredam marah. Dan takut untuk berkaca dalam kondisi setengah 
telanjang. Padahal, sejak kecil, aku paling suka memperhatikan lekuk-lekuk 
tubuhku.

"Mas, Mas, kembang merah itu lambang cinta?"

Cinta? Wau, aneh juga pikiran istriku ini. Kembang merah kok lambang cinta? Apa 
tak ada lambang lain? Kompor kek? Sepatu kek? Atau duit? Ya, aku lebih setuju 
jika duit adalah lambang cinta. Sebab, apa sih di dunia yang tak bisa dibeli 
duit? Semua bisa dibeli! Bahkan, apa saja yang dulunya lebih penting dari duit, 
kini mesti bertekuk-lutut. Klepek-klepek di depan duit. Klepek-klepek seperti 
ikan kena oli atau kena sampah.

Oya, ngomong-ngomong tentang sampah; karena banyaknya kembang merah di rumahku, 
aku merasa itu seperti sampah. Sampah kembang merah. Yang menyumbat saluran 
got. Lalu, membuat kampung jadi banjir. Dan orang-orang kebingungan. Cuma bisa 
nangkring di genting. Sambil membayangkan: "Akh, seandainya punya duit, kami 
akan membeli rumah di gunung. Biar jauh dari banjir?" Ha, betul kan? Apa aku 
bilang. Duit itu sangat penting. Dan layak dijadikan sebagai lambang cinta. 
Termasuk, cinta untuk membeli rumah yang jauh dari banjir dan hidup yang 
nangkring di genting.

Selanjutnya, aku akan mencuci rok bawahan istriku. Seperti ukuran kausnya yang 
tak terukur, ukuran rok bawahannya pun begitu. Bahkan, ini adalah ukuran yang 
tak semua toko membuatnya. Sebab, di samping membutuhkan kain yang panjang. 
Juga tak semua perempuan gemuk mau membeli rok bawahan hasil toko. Mereka takut 
membuka kekurangan dirinya di depan pelayan toko.

Tapi, hal di atas tidak terjadi pada istriku. Dengan kepercayaan yang tinggi, 
dia tetap membeli rok bawahan di toko. Dan meski semua ukuran yang besar dia 
coba, hasilnya tetap saja. Jarang yang pas. Apakah itu kurang besar 
pinggangnya. Sempit pahanya. Atau, jika ada, maka kebetulan tak ada gambar 
kembang merahnya. Jadinya, ketika saat belanja tiba, aku sering malas 
mengantarnya.

"Mas, mulai malu jalan sama aku, ya? Mas, mau mencari daun muda, ya? Jika 
begitu, kembalikan aku ke orangtuaku!"

Aduh, aku mau ngomong apa lagi. Mengembalikan ke orangtuanya? Ini soal yang 
juga makin gila. Sebab, orangtua istriku saat ini mengalami musibah. Rumahnya 
telah tergenang lumpur panas. Yang keluar dari pengeboran minyak yang gagal. 
Jadinya, orangtua istriku pun kini hidup di penampungan. Dan tiap hari hanya 
berencana untuk unjuk rasa. Agar pengeboran minyak yang gagal itu mau mengganti 
rumah mereka yang tergenang.

Rumah yang dibeli secara nyicil. Nyicil 15 tahun. Dan saat ini, baru berjalan 
tujuh tahun. Kasihan. Kasihan sekali orangtua istriku. Badan mereka kurus 
drastis. Dan di mata mereka, selalu terbayang kekesalan. Wah, aku tak tahu, 
bagaimana tambah susahnya jika istriku yang gemuk itu mesti kembali lagi ke 
mereka. Jangan-jangan akan tambah kesal. Dan tambah mengutuki keadaan yang tak 
jelas ini.

"Sudahlah. Ayo, kita berangkat!" selaku pada istriku. Selaan yang aku pikir 
sangat penting daripada dia kembali ke orangtuanya yang ada di penampungan. Dan 
istriku ketawa. Memang, meski kini telah menjelma ikan paus yang gemuk, tapi 
ketawanya tetap manis. Dan ketawa itulah yang dari dulu sampai kini membuat aku 
jatuh hati padanya. Ketawa yang lebih indah daripada matahari sore.

Lain itu, yang perlu juga aku tambahkan, aku paling tidak suka ketika mencuci 
rok bawahan istriku ini. Sebab, di samping berat, juga menggunakan bahan yang 
tebal dan kasar. Dan jika diucek seperti menyentak. Dan bahan yang tebal dan 
kasar ini sangat tak pantas untuk dipakai perempuan. Hanya pantas digunakan 
para serdadu. Para serdadu yang menenteng senjata api itu.

Para serdadu, yang belakangan pernah salah menembak. Apakah itu menembak 
keluarganya. Teman seregunya. Atau orang-orang kampung yang bisanya cuma 
berladang jagung. Ah, mengapa bisa terjadi seperti ini? Padahal, jika jujur, 
serdadu kan tugasnya melindungi. Melindungi yang lemah. Dan yang selalu 
dikalahkan. Tapi, mengapa kini terjadi seperti itu? Seperti tidak memiliki 
kelurusan pekerti?

Barangkali, apa yang sedang terjadi perlu segera dibicarakan. Dicari sisi 
masalahnya. Dan jika sudah ketemu, bawalah ke rumahku. Aku bersedia mencucinya 
sampai bersih. Mencuci dengan namaku. Dengan hidupku. Ya, ya, akulah si tukang 
cuci. Dan aku mesti mencuci. Khususnya mencuci rok bawahan istriku yang 
berbahan tebal dan kasar ini. Seperti tebal dan kasarnya seragam para serdadu. 
Yang belakangan pernah salah menembak.

Dan, aduh, inilah kutang istriku yang aku cuci. Warnanya kuning. Ada gambar 
kembang merah. Kembang merah kecil-kecil. Yang dari kejauhan, seperti rantai 
mungil. Dan sebagai kutang orang gemuk, buntalan di kedua sisinya seperti bukan 
buntalan biasa. Malah seperti sepasang bola basket yang menggantung. Bola 
basket yang seukuran dua kali lipat dari ukuran yang biasa.

Dan untuk barang yang satu ini istriku memang mencintainya. Bahkan, saking 
cintanya, dia tak bosan membelinya. Mengumpulkan di lemari. Dan dipajang 
seperti memajang di gantungan-gantungan toko. Gila. Memang gila. Tapi, apa mau 
dikata, itulah salah satu hobi istriku. Hobi yang disebutnya: "Tanda keindahan 
tubuh perempuan...." Ha, ha, ha, bagaimana mungkin perempuan gemuk begitu 
percaya jika punya buah dada yang indah.

Tapi, biarlah jika itu maunya. Aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah ketika 
mencuci itu kutang, pikiranku melayang. Dan hinggap pada peristiwa yang pernah 
menghebohkan. Peristiwa tentang sebuah film. Film perselingkuhan dari seorang 
pemuka rakyat dengan seorang artis belia. Artis belia, yang belakangan mulai 
hilang dari sorotan media massa.

Dalam film yang berdurasi lima menit itu, si artis belia berdiri di pantai. 
Mengibar-ngibarkan kutangnya yang berwarna kuning. Dari kejauhan, si pemuka 
rakyat mendekat. Lalu keduanya berangkulan. Dan kutang si artis belia terlempar 
ke pasir. Film selesai. Dan kehebohan pun terjadi. Sebab, ternyata, film itu 
telah beredar dari ponsel ke ponsel. Dan keluarga si pemuka rakyat pun jadi 
bulan-bulanan gosip.

Akh, anehnya, ternyata model kutang si artis belia itu tiba-tiba jadi terkenal. 
Banyak kutang keluaran baru yang mengambil contoh modelnya. Dan aku tak tahu, 
apakah ini model yang baik atau sebaliknya? Yang jelas, istriku pun membeli 
model kutang itu. Dan setiap aku mencucinya, aku selalu teringat pada film itu. 
"Kok bisanya perselingkuhan semacam itu terjadi? Dan kok bisanya rakyat 
memukakan orang seperti itu? Dan juga dihibur artis belia seperti itu?"

Ya, aku terus saja mencuci kutang kuning istriku ini. Kutang yang besar. Kutang 
yang jika dapat berbicara akan berbicara seperti ini: "Aku dibentuk dari 
keindahan. Semestinya aku tersembunyi. Dan semestinya juga aku hanya terbuka 
bagi yang memang layak untuk membuka. Tapi, apa mau dikata, roda terus 
berputar. Yang di atas kini di bawah. Dan yang rapat pun kini tak rapat lagi. 
Tak ada tempat bersembunyi."

Dan sampailah aku mencuci pada cucian yang mendebarkan. Yaitu celana dalam! 
Ahai, celana dalam istriku benar-benar luar biasa. Dan terus terang saja aku 
malu untuk bercerita. Masak rahasia pribadi dibuka-buka? Dan masak juga aku 
mesti mengelupasi topeng di muka ini? Topeng hitam. Putih. Ungu. Dan 
topeng-topeng yang selalu aku rapatkan agar tak menjadi kasak-kusuk yang busuk? 
Sekali lagi, aku benar-benar malu dan tak mau.

Tapi, meski begitu, dari ukurannya yang luar biasa ini, tentu ada saja yang 
punya pikiran yang bukan-bukan. Yang inilah. Yang itulah.

"Mas, Mas, jika telah selesai, tolong dijemur di depan rumah. Jangan kena sinar 
matahari!"

Aduh, kembali istriku berteriak dari dalam rumah. Dan di dalam rumah, seperti 
biasa, sehabis marah, istriku tak mau bangkit dari ranjangnya. Dia hanya 
tidur-tiduran sambil bermain dengan boneka-boneka kecilnya. Boneka-boneka yang 
hampir semuanya berupa binatang laut. Ada ikan. Ada cumi-cumi. Ada kura-kura. 
Dan semuanya itu diajaknya berbicara. Berteka-teki. Dan bernyanyi.

"Ayo, apa yang jika malam jalannya miring? Kura-kura bodoh sekali, ya? Yang 
agak pintar itu memang kepiting!"

Ha, ha, ha, siapa yang tidak ketawa melihat itu semua. Melihat perempuan gemuk 
asyik berceloteh di ranjangnya. Ranjang yang morat-marit. Ranjang yang kini 
seperti lautan luas tempat dia berkuasa dan bersemayam. Ya, ya, memang, jika 
sudah begini, istriku memang benar-benar menjelma ikan paus. Si ratu lautan 
yang gemuk. Si ratu lautan yang selalu dapat memerintah apa dan siapa pun. 
Termasuk juga memerintah aku. Suaminya. Si tukang cuci. Yang juga dipanggil 
tukang cuci. Sebab bernama Tukang Cuci. "Mas, Mas, jika sudah beres kemarilah, 
temui aku!"

Akh, kembali istriku berteriak. Dan kembali itu pula, sebelum aku menemuinya, 
aku memasang sumpal kecil di telingaku. Sumpal kecil yang dibencinya itu. 
Sumpal kecil yang selalu aku sapa begini: "Sumpal kecil, sumpal kecil, tetaplah 
berada di telingaku. Sebab, aku membutuhkanmu bukan untuk menutupi suara 
istriku. Tetapi, agar aku selalu terhindar dari suara-suara. Suara-suara yang 
tak bosan-bosan mendesakku agar aku segera berhenti dari kerja cuci-mencuci!"

Gresik, 2009

Kirim email ke