Saya tidak pernah mengatakan harus sekolah tinggi atau berilmu tinggi,paling tidak kita paham dan sadar bahwa setiap pernyataan harus bisa dipertanggung jawabkan. Itu kalau mau diskusi yang berbobot, bukan diskusi kelas gosip. Hati dan kejujuran jelas penting, tapi kalau merasa dengan hati saja sudah cukup dan tidak merasa perlu menambah ilmu, sebaiknya "mandeg pandito" kalau meminjam kata dari daerah asal mbah Marijan..
--- Pada Kam, 23/7/09, prabowo bobbie <[email protected]> menulis: Dari: prabowo bobbie <[email protected]> Judul: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Saya Memberi Nilai Sembilan Terhadap Pernyataan Presiden SBY Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 23 Juli, 2009, 9:29 AM Untuk bisa menafsirkan dan mengatakan benar dan salah atas sesuatu hal, tidak perlu ilmu yang memadai dan terlalu tinggi, tidak harus sekolah tinggi dan mempunya ilmu tertentu. Yang penting memakai Kejujuran dan Hati Nurani,..... itu saja cukup. Sumbernya kan sudah jelas, "pidato" presiden sekitar jam 1 siang di Metro TV atau TVone hari Jum'at tanggal 17 Juli 2009 ( Jangan memakai transkrip pidato yang dibagikan beberapa hari kemudian ). Kalau diperlukan "ilmu dan pengetahuan yang memadai" hanya untuk untuk menafsirkan pidato tersebut ? terus buat apa pidato yang akan bisa ditafsirkan ber-macam2 seperti sekarang ini ? Yang salah yang pidato atau yang mendengarkan ? Sekarang bilang pidatonya dipelintir dan bagi2 transkrip pidato tersebut, dan bilang tidak menuduh siapa2... "Sing becik ketitik, sing ala ketara" - memakai kata2 dari daerah asal mbah Marijan.
