Yth Bpk Halim, Terima kasih atas 'renungannya'.....Begini Pak,dalam profesi saya, sebelum menjalani profesi , saya disumpah dengan "Sumpah Hipocrates' yang salah satu bunyinya adalah akan menghormati setiap bentuk kehidupan mulai saat pembuahan ...... artinya saya harus menghargai setiap bentuk kehidupan apapun itu 'bentuknya' !
Tetapi ternyata dalam hidup ini, 'praktek' tidak selalu sesuai dengan teori....hidup ini tidak hanya hitam putih, tetapi juga ada *grey area* dan warna-warni lainnya.... NMT dengan keyakinannya merasa berhak atas kematian pihak lain dan bahkan ybs pun merasa berhak atas kematiannya sendiri!....artinya, ybs melebihi 'kewenangan atas Yang Punya Kehidupan'.........! *Sayangnya *lagi, ybs juga mendidik banyak pihak lain untuk mengikuti keyakinannya ini sehingga sekian kehidupan dengan sengaja dipungkasi..... ! Saya mengatakan rakyat Indonesia mendapatkan 'kado' atas kematiannya karena hampir mustahil meminta pertangungajawaban ybs atas sekian kematian pihak yang tidak bersalah dengan diadili dan kemudian dihukum.(Ybs benci negara tertentu, kenapa tidak langsung ngebom di negara tsb? Juga apakah semua rakyat negara yang dibencinya tsb layak 'dimatikan' atas kebijakan pengelola negerinya yang dianggapnya sewenang-wenang? Bayangkan ........salah satu korban tak langsung bom JW Marriot kemarin di antaranya adalah seorang ibu yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya ....... sehingga bayi tersebut tidak akan pernah melihat bapaknya! Saya pun membayangkan bagaimana istri alm Ibrohim yang kini harus menghidupi empat anak-anaknya sendirian.....ybs kini harus bertanggung jawab atas 'akibat' pilihan suaminya! ) Maksud saya, dalam konteks NMT memang pilihannya hanyalah 'kematian' karena memang itu pilihan yang dikehendakinya! *Lha wong* bom pun 'ditanam' di tubuhnya *je, *bagaimana mengharapkan ybs ditangkap hidup-hidup! Juga fakta menunjukkan, sekian orang level 'bawahannya' sudah pernah dipenjara pun mengulangi perbuatannya.....bisa dibayangkan *nggak* Pak, bila NMT tertangkap hidup-hidup lalu dipenjara? Mungkin di LP ybs akan buka mengkader sekian penghuni atau yang di luar LP dengan 'kelas privat' dan 'jarak jauh' ! Jadi, dalam konteks NMT, kematian adalah pilihannya! Ada *blessing in disguse *atas pilihannya ini, karena *gamblingnya* terlalu besar untuk menangkapnya hidup-hidup! Jangan khawatir Pak, saya mencintai kehidupan.....bahkan saya sering di akhir email saya , saya menuliskan kalimat....'yang mencintai nilai-nilai kehidupan' .....dan sejenisnya. Saya pribadi *nih*....senantiasa mencoba mengamalkan sila-sila dalam Pancasila meski masih dalam konteks yang paling sederhana dan saya juga yakin, mayoritas rakyat Indonesia meskipun ada yang tidak hapal sila-silanya, juga mengamalkannya.........karena sila-sila Pancasila sudah tertanam dalam kehidupan rakyat kita! *Sayangnya*, juga masih banyak 'oknum' yang menghasutnya dengan menanamkan bahwa hanya pemikirannya yang benar......dan *sayangnya* lagi.....ingin menyeragamkan pemikiran di negeri yang indah dan penuh warna-warni ini! Salam, Wati 2009/9/19 halim hd <[email protected]> > > > setiap berita tentang kecelakaan apalagi kematian, > membuat saya selalu merunduk, dan memojokan diri. > saya nggak tahu, mau bilang apa. saya hanya mau > menyimpan dalam hati saya, ada batas waktu yang > memang mesti dilintasi oleh setiap orang, walaupun > dia berusaha untuk melawannya. > dan hari lebaran, idul fitri, rasanya sebuah peristiwa > yang membuat saya selalu merasa gembira; bisa > bertemu dengan teman lama yang pulang kampung, > bisa kongko dengan lebih ceria; bisa berbagi walau > hanya secangkir kopi dan sepotong kuwe kiriman > tetangga lainnya. idul fitri selalu membangkitkan > rasa silaturahim yang mungkin sudah menajdi > rutin, kumal dan penuh dengan basa basi. saya > kira, idul fitri bisa menjadi bahan refleksi kita tentang > penderitaan, seperti juga natal. > dan azahari, dan noordin, rasa-rasanya bukanlah > "hadiah' untuk idul fitri. sebagai seorang sekuler, > yaaa, sekuler, saya menganggap cara pandang > yang meletakan kematian azahari dan noordin > beserta rekan-rekannya sebagai "hadiah" rasanya > menjadikan idul fitri terasa pahit, kelam, gulita. > saya setuju, bahwa azahari, noordin, dan rekan- > rekannya, atau siapapun yang melakukan tindakan > kekerasan, teroris atas nama apapun juga perlu > disingkirkan. > tapi, jika kita bergembira atas nama apapun terhadap > kematian, pemusnahan, rasanya perlu bagi siapapun > (apalagi mengatasnamakan rakyat indonesia!!) untuk > kembali mempertimbangkan dan merenungkan > "kemanusiaan yang adil dan beradab".
