Gila gelar & gelar yg membuat gila. Baiklah Pak Satryo, bila dahulu ada yg berujar, "Apalah artinya sebuah nama?" maka sekarang saatnya berkata, "Apalah artinya sebuah gelar?". Sesederhana itukah? :)
Salam, Patrick Hutapea > Agus Hamonangan wrote: > > > > > > Oleh Satryo Soemantri Brodjonegoro > > http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/24/02422099/penganggur.bergelar > > <http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/24/02422099/penganggur.bergelar> > > > > Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, penganggur yang sarjana telah > > mencapai lebih dari 600.000. Keadaan ini jauh lebih berbahaya daripada > > penganggur yang bukan sarjana karena dapat menimbulkan masalah sosial. > > > > Berbagai upaya telah ditempuh guna mengatasi hal ini, tetapi tiap > > tahun angka pengangguran meningkat. Beberapa pihak lalu mencari > > kambing hitam penyebab pengangguran massal tersebut. > > > > Tanggalkan gelar > > > > Masyarakat kita sudah terbius dengan kehausan akan gelar. Setiap orang > > ingin mempunyai gelar sebanyak mungkin, ada yang melalui pendidikan, > > ada yang membeli gelar. Seolah seseorang menjadi tidak berharga jika > > tidak mempunyai gelar. Hanya masyarakat miskin yang tidak mempunyai > > gelar karena tidak mampu membayar pendidikan dan tidak mampu membeli > > gelar. > > > > Perguruan tinggi menangkap gejala ini dengan menyediakan berbagai > > layanan untuk mendapatkan gelar, baik melalui pendidikan sebenarnya > > maupun seadanya, bahkan dengan menjual gelar. Perguruan tinggi > > membutuhkan uang, sedangkan masyarakat yang mampu akan rela membayar > > untuk mendapatkan gelar. Maka, terjadilah perpaduan yang menyesatkan. > > > > Mudahnya memperoleh gelar membuat masyarakat berduyun- duyun "lulus" > > dari perguruan tinggi dengan menyandang gelar tanpa dibarengi keahlian > > atau kompetensi. Ketika mencari peluang kerja, mereka tidak memenuhi > > syarat sehingga terjadilah penganggur bergelar. Seharusnya mereka > > segera menanggalkan gelarnya karena tidak bermanfaat sama sekali. > > > > Penjenjangan > > > > Perusahaan swasta dan industri menerapkan pola rekrutmen pegawai > > berdasarkan kemampuan/kompetensi, tidak semata- mata berdasarkan > > gelar. Para calon pegawai ketat diseleksi secara ketat melalui uji > > kemampuan/kompetensi disesuaikan jenis pekerjaan yang akan ditangani. > > > > Adapun untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS), seleksi hanya > > dilakukan terhadap gelar yang dimiliki calon pegawai, tanpa ada uji > > kemampuan/kompetensi. Karena sebagian besar masyarakat masih amat > > ingin menjadi PNS, mereka semua memburu gelar dengan berbagai cara, > > termasuk dengan memalsukan ijazah. > > > > Penjenjangan karier di PNS juga hanya memerhatikan masa kerja dan > > gelar. Bagi mereka yang sudah bergelar S-2 atau magister akan dapat > > dipromosi ke golongan lebih tinggi, bahkan bagi mereka yang sudah > > bergelar S-3 atau doktor dapat dipromosi ke golongan tertinggi. Badan > > Kepegawaian Negara dan Kantor Menneg PAN menganggap para penyandang > > gelar itu mempunyai kemampuan memadai. Padahal, kenyataannya mereka > > hanya memburu gelar melalui berbagai cara, termasuk cara tidak wajar, > > yaitu membeli gelar atau mengikuti kelas jauh, kelas eksekutif, kelas > > Sabtu-Minggu, kelas paralel, kelas ekstensi, dan berbagai macam nama lain. > > > > Lengkap sudah kekalutan yang ada di Indonesia ini tentang gelar. > > Masyarakat amat terbius dengan gelar, pendidikan hanya sebatas > > formalitas untuk memberi gelar para "lulusan" dan sistem kepegawaian > > kita terjebak gelar. > > > > Berikan contoh > > > > Bagaimana mengatasi hal ini? Mudah sekali. Mulai hari ini kita semua > > menanggalkan semua gelar yang tercantum di kartu nama, papan nama, > > foto, surat menyurat, undangan, panggilan pada acara resmi, dan lainnya. > > > > Mulai hari ini kita semua hanya menggunakan nama masing- masing yang > > sudah diberikan oleh orangtua sebagai suatu amanah. Nama sudah amat > > membanggakan seandainya kita memiliki keahlian, sedangkan gelar sama > > sekali tidak memberi nilai tambah terhadap keahlian. Jika semua orang > > tidak menggunakan gelar, termasuk para pemimpin, masyarakat akan > > menjadi lebih realistis dan tidak lagi terbius oleh gelar. > > > > Mudah-mudahan, setelah itu mereka semua mencari keahlian dan perguruan > > tinggi akan memberi keahlian kepada lulusan, dan akhirnya penganggur > > bergelar akan berubah menjadi pekerja ataupun pemberdaya yang andal. > > > > Satryo Soemantri Brodjonegoro Guru Besar Toyohashi University of > > Technology; Mantan Dirjen Dikti > > > > > > ------------------------------------------------------------------------ > > > > > > No virus found in this incoming message. > > Checked by AVG - www.avg.com > > Version: 8.5.409 / Virus Database: 270.13.112/2393 - Release Date: 09/24/09 > > 18:00:00 > > > > >
