Konflik dan Bisnis Militer: Darah di Tengah Kemilau Emas Freeport
Brad Adams,
Direktur Eksekutif Human Rights Watch (HRW) Regional Asia, dalam
pemaparan hasil penelitian tentang bisnis militer di Indonesia,
menyebutkan, praktik bisnis di Freeport akan mendorong munculnya
kecenderungan perilaku di kalangan militer untuk mencari keuntungan,
seperti yang terjadi di Papua selama ini. Dalam kurun waktu dua tahun
berproduksi sejak 1973, PT. Freeport yang dulunya perusahaan tambang
kecil berhasil mengantongi perolehan bersih US$ 60 juta dari tembaga
yang ditambang. Itu belum termasuk hasil ikutan seperti emas dan perak.
Juga belum termasuk penemuan lokasi tambang baru pada 1988 di
Pegunungan Grasberg yang mempunyai timbunan emas, perak, dan tembaga
senilai US$ 60 juta miliar. Ironisnya, dengan kekayaan sebesar itu,
kemiskinan, dan kerusakan lingkungan meningkat pesat disekitar
pertambangan PT. Freeport. JUBI — PT. Freeport di Papua telah berhasil
mengeruk keuntungan hingga miliaran dollar pertahun. Sejak berdiri,
kecaman atasnya datang silih berganti.


PT. Freeport beroperasi di
Papua sejak April 1967. Perusahaan asal Amerika Serikat yang menguasai
cadangan emas dan tembaga kedua terbesar di dunia itu memulainya dengan
kontrak karya I. Freeport melakukan eksplorasi dilahan yang
diperkirakan mengandung cadangan bijih emas terbesar, 2,5 miliar ton.
Dalam perjalanannya, sepanjang 1992 hingga 2002, Freeport telah
berhasil melambungkan produksinya hingga 5,5 juta ton tembaga, 828 ton
perak dan 533 ton emas. Pada 1998, perusahaan ini bahkan berhasil
menghasilkan agregat penjualan sebesar 1,71 miliar pon tembaga dan 2,77
juta ons emas. Dengan penghasilan itu Freeport mengantongi keuntungan
triliunan rupiah sepanjang tahun.

Dalam kurun waktu dua tahun
berproduksi sejak 1973, PT. Freeport yang dulunya perusahaan tambang
kecil berhasil mengantongi perolehan bersih US$ 60 juta dari tembaga
yang ditambang. Itu belum termasuk hasil ikutan seperti emas dan perak.
Juga belum termasuk penemuan lokasi tambang baru pada 1988 di
Pegunungan Grasberg yang mempunyai timbunan emas, perak, dan tembaga
senilai US$ 60 juta miliar. Ironisnya, dengan kekayaan sebesar itu,
kemiskinan, dan kerusakan lingkungan meningkat pesat disekitar
pertambangan PT. Freeport.

Pencemaran lingkungan selanjutnya
menjadi persoalan serius. Penambangan oleh Freeport telah menghasilkan
galian berupa potential acid drainase (air asam tambang) dan limbah
tailling (butiran pasir alami hasil pengolahan konsentrat). Sehari-hari
Freeport memproduksi tidak kurang dari 250 ribu metrik ton bahan
tambang. Material bahan yang diambil hanya 3%. Inilah yang diolah
menjadi konsentrat kemudian diangkut ke luar negeri melalui pipa yang
dipasang ke kapal pengangkut di Laut Arafuru. Sisanya, sebanyak 97%
berbentuk tailing. Aktivitas ini mengakibatkan, fenetasi hutan daratan
rendah seperti Dusun Sagu masyarakat Kamoro di Koprapoka, dan beberapa
dataran rendah di wilayah Timika hancur.. Parahnya lagi, terjadi pula
perubahan iklim mikro akibat penambangan terbuka.

Sebuah lembaga
audit lingkungan independen Dames & Moore melaporkan pada tahun
1996, dan disetujui oleh pihak Freeport, ada sekitar 3,2 miliar ton
limbah yang bakal dihasilkan tambang tersebut selama beroperasi. Hasil
investigasi The New York Times (NYT) tentang limbah tambang
Freeport-McMoran di Papua juga demikian. Menurut laporan Freeport
sendiri, limbah itu luasnya 8 km persegi. Pada beberapa tempat
kedalamannya mencapai 275 meter. Terhadap teguran dari berbagai NGO
lingkungan hidup, termasuk Ex Menteri LH Sonny Keraf, Freeport hanya
mengatakan, limbah tersebut tidak berbahaya.

Sejumlah agensi,
konsultan perusahan asuransi yang dipakai Freeport, menyebutkan, limbah
itu telah menyebabkan “massive die-off” pada vegetasi disepanjang
sungai. Sampel-sampel juga menunjukkan, air sungai mengandung racun
yang cukup untuk membunuh organisme sungai yang sensitif. Kemunculan
tumbuhan berwarna hijau terang sepanjang beberapa kilometer di tepi
sungai telah menunjukkan kandungan tembaga dari limbah telah mencemari
sungai.
PT. Freeport Indonesia (PT. FI) adalah bukti kekuatan
ekonomi global. Dalam beberapa pendapat, seperti dimuat sejumlah media,
disebutkan, selama 40 tahun lebih beroperasi, PT Freeport telah merusak
tak hanya pegunungan Grasberg dan Erstberg, tapi juga telah merubah
bentang alam seluas 166 km persegi di daerah aliran sungai Ajkwa,
mencemari perairan di muara sungai dan mengkontaminasi sejumlah besar
mahluk hidup.


Konflik Dimulai
Kemewahan dan dampak Freeport
memang tiada duanya. Atas segala aktivitas tambang itu, Freeport
menghadirkan pengamanan super ketat tentara dan Polisi yang dibayar
jutaan dolar pertahun. Pengamanan ini, dalam beberapa waktu, kerap
dijadikan bisnis. Seorang sumber di Timika menyebutkan, bisnis militer
dipertambangan Freeport tidak bisa dipandang sebelah mata. “Bayangkan
saja, ‘permainan’ yang dilakukan Freeport, pemerintah Timika, pengusaha
di Timika dan Militer pada perang dua suku Amugme dan Dhani pada tahun
2007 silam,” ujarnya.

Saat itu bisnis militer yang dijalankan
adalah dengan mengantar para penambang dari kedua suku menggunakan truk
tentara. Mereka dikenai jutaan rupiah per kepala. Rata-rata truck
memuat 30 orang. Dari bisnis ini, militer meraup untung hingga miliaran
rupiah. Penambang adalah mereka yang harus membayar denda secara adat
usai berperang. Jumlahnya ratusan. Mereka mencari emas diwilayah
penambangan Freeport dan kemudian dijual pada pengusaha emas di Timika.

Pendapat
sumber tersebut sejalan dengan Poengky Indarti, Direktur Hubungan
Eksternal Imparsial. Dalam sebuah kesempatan pekan kemarin, Poengky
mengatakan, sejumlah insiden berdarah di Timika, termasuk penembakan
terakhir seorang WNA Australia di kawasan operasional PT. Freeport
Indonesia, lebih banyak terkait perebutan bisnis jasa keamanan antara
militer dan polisi. Menurutnya, sejak dikeluarkan Keputusan Presiden
Nomor 63/2004 tentang pengamanan objek vital nasional, keamanan
diserahkan kepada pihak internal. Di Tembagapura, diserahkan kpada PT.
Freeport dan kepolisian. “Dahulu keamanan Freeport diserahkan kepada
TNI hingga dua batalyon,” katanya.

Menurut Poengky, Freeport
merupakan perusahaan strategis. Dia penyumbang pajak terbesar dan
mendukung dana otonomi khusus. Freeport juga memberikan sumbangan dana
keamanan yang besar sehingga timbul persaingan dan gesekan antara Polri
dan TNI. Meski belakangan, hal ini dibantah pihak Kodam XVII
Cenderawasih bahwa militer tidak terlibat. Menurut Poengky, pernyataan
itu harus dibuktikan dan diselidiki di pengadilan.

Seperti
Poengky, Yosepha Alomang, Direktris YAHAMAK (Yayasan Hak Asasi Manusia
Anti Kekerasan) di Timika juga mengatakan, dalam operasi, PT. Freeport
telah membuat masyarakat mengalami banyak goncangan. Mereka dibunuh,
disiksa dan diperkosa oleh aparat keamanan yang dibayar Freeport.
“Masyarakat adat di sekitar areal penambangan tidak merasakan hasil
dari tambang raksasa itu. Justru rakyat menjadi korban,” ujarnya..

Sampai
disini, Freeport akhirnya dianggap sebagai biang konflik. Penentu
bisnis militer dan sebagai alasan terjadinya kekerasan di Timika. Atas
persoalan ini, Brad Adams, Direktur Eksekutif Human Rights Watch (HRW)
Regional Asia dalam pemaparan hasil penelitian tentang bisnis militer
di Indonesia, beberapa waktu lalu, yang dilaporkan dengan judul “Too
High a Price: The Human Rights Cost of the Indonesian Military’s
Economic Activities” menyebutkan, praktik bisnis yang terus-menerus
dibiarkan tentu akan mendorong munculnya kecenderungan perilaku di
kalangan militer untuk mencari rente atau keuntungan (rent-seeking
behaviour).

Ini terjadi di sejumlah bisnis pertambangan, seperti
Exxon dan Freeport. Keterlibatan militer di dunia bisnis kerap pula
menimbulkan pelanggaran HAM. “TNI punya catatan suram di bidang HAM.
Dan pelanggaran-pelanggaran itu dipicu praktik bisnis militer yang
dilakukan dengan alasan untuk mencukupi kebutuhan institusi yang tidak
bisa dipenuhi oleh anggaran negara,” ungkap Adams.

Menurutnya,
komitmen para petinggi TNI harus diwujudkan dengan segera untuk
mengakhiri bisnis militer. Apabila tenggat waktu itu dipenuhi,
reformasi di bidang keuangan militer tentu akan menandai terjadinya
kemajuan besar ke arah reformasi struktural TNI.
Jika tidak, tentu
dipastikan, perusahaan yang dikuasai AS dengan 81,2 saham itu akan
selalu mengalami nasib buruk. Kekerasan dan pembunuhan pasti akan terus
terjadi sepanjang tahun. Mungkin inilah yang mendorong Arkilaus
Arnesius Baho, mantan Ketua Umum AMP Internasional, untuk mengatakan
Freeport adalah otak dibalik tumbuhnya benih-benih kekerasan terhadap
kedaulatan rakyat Indonesia. (Tim Jubi/JO)

Link:
http://politikana.com/baca/2009/10/25/konflik-dan-bisnis-militer-darah-di-tengah-kemilau-emas-freeport.html

http://arki-papua.blogspot.com/2009/10/konflik-dan-bisnis-militer-darah-di.html

 __________________________________

 SATU LANGIT-SATU MATAHARI-SENASIB 
___________________________________

Email: 
[email protected]
[email protected]
[email protected]
[email protected]

Blogspot:
http://arki-papua.blogspot.com

Facebook.
www.facebook..com/ARKILAUSARNESIUS.BAHO

***

DIATAS BATU INI SAYA MELETAKAN PERADABAN ORANG PAPUA, SEKALIPUN ORANG MEMILIKI 
KEPANDAIAN TINGGI, AKAL BUDI DAN MARIFAT TETAPI TIDAK DAPAT MEMIMPIN BANGSA 
INI, BANGSA INI AKAN BANGKIT DAN MEMIMPIN DIRINYA SENDIRI.
( Pdt. I.S.Kijsne Wasior 25 Oktober 1925 )


      Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! 
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke