Saya juga kadang berlinang air mata kalau mengingat bagaimana dulu harus terus sekolah supaya jadi sarjana, walau kondisi sangat sulit. Sementara sampai sekarang tidak yakin juga akan mampu menyekolahkan anak hingga lulus sarjana gara-gara biaya untuk urusan masuk dan sekolah di perguruan tinggi yang dengar-dengar sangat tinggi itu.
Usulan pak Jauzi, kebetulan sama denga pemikiran saya. HERAN terus, mengapa tidak bisa juga dibuat sistem perpajakan yang akan membuat sekolah dan berobat menjadi sangat ringan. Mengapa harus ringan, ya karena hanya dengan sekolah yang baik dan kesehatan yang baik, kita bisa berbuat. Kesan saya, perpajakan kita seolah sengaja dibuat untuk meringankan orang yang bisa punya penghasilan cukup tinggi. Siapa mereka itu, tentunya para pejabat negeri ini. Dan itu seolah untuk mempertahankan tahta dan harta mereka supaya terus bisa sampai keturunannya yang ke sepuluh, ANEH dan KONYOL. Pajak mobil, mengapa kita yang belum bisa juga buat mobil tidak menerapkan pajak hingga 300% misalnya untuk mobil pribadi baru. pajak itu diteruskan untuk memperbaiki sistem angkutan umum supaya layak dan murah. Pajak bumi dan bangunan ditinggikan dan dialihkan untuk memperbaiki jalan dan selokan. Pajak penghasilan dibuat meningkat untuk penghasilan yang meningkat, dan uang itu dialihkan ke sekolah dan berobat murah. Pengalihan uang pajak tentu tidak semudah itu, tetapi intinya buatlah pajak itu tinggi sesuai dengan tingginya kemampuan orang yang bisa membayar pajak tinggi itu. Inti dari ini adalah demi ingatnya orang, bahwa mereka bisa berpenghasilan lebih dari yang lain itu juga karena yang lain boleh dibilang bekerja dengan penghasilan yang tidak sesuai beban kerjanya. Dan kalau ada yang belum bisa bekerja, maka itu tanggungjawab orang yang sudah bekerja. andry --- In [email protected], Achmad Jauzi <achmad_ja...@...> wrote: > > Om Firdaus...Logikanya nggak bisa dan nggak akan bisa dengan sistem seperti > sekarang...Kecuali ada keajaiban, kalau ada keajaiban...Emak pun bisa naik > haji... > > Suka tidak suka, objektif saja, dalam hal ini jaman Eyang lebih baek daripada > jaman sekarang...Jaman Eyang perguruan tinggi negeri sangat terjangkau...Anak > siapapun jika lulus PTN bisa jadi sarjana karena uang kuliah sangat murah > (belum lagi beasiswa yang sangat gampang diperoleh)...Dengan kondisi serba > mahal seperti sekarang, jangankan anak penjual teh botol...Kalaupun hidup > dalam kondisi sekarang, orang tua saya juga tidak mampu menyekolahkan seluruh > anaknya ke perguruan tinggi (negeri sekalipun, apalagi swasta), padahal ayah > saya adalah prajurit tni dengan pangkat lumayan dan ibu saya adalah guru pns > lulusan ikip dan mengajar di salah satu sma negeri di jakarta. Dengan kondisi > sekarang, tidak mungkin kedua orangtua saya mampu menyekolahkan keempat > anaknya (satu sekolah di akmil, dan tiga di PTN)... > > Saya ingat sekali, dulu SPP saya hanya 120,000/semester atau 20,000 sebulan, > sangat terjangkau...Belum lagi adanya beasiswa yang sangat mudah diperoleh > mulai semester III...IPK di atas 2.5 pasti dapat...IPK di bawah itu > "dipertimbangkan" namun kenyataannya kalau mengajukan dengan alasan ekonomi > keluarga yang tidak mendukung, tidak pernah saya dengar ada yang > ditolak...Nilai bea siswa pun lumayan, paling rendah 50,000 per bulan kecuali > supersemar yang cuma 25,000 > > Makanya saat kuliah, teman-teman sangat beraneka ragam...Ada yang anak > menteri, anak konglomerat yang warna mobil disesuaikan dengan warna baju, > anak pejabat bumn, tapi ada juga yang anak pns/tni/polri pangkat rendah, > pedagang asongan, petani gurem dll...Di fakultas sebelah juga demikian...Ada > calon dokter yang berasal dari keluarga guru besar, dokter ternama...Tapi ada > juga yang dari keluarga ekonomi lemah yang tiap bulan harus puter otak jika > kiriman (yang sering tidak seberapa) terlambat, ada yang mencari tambahan > biaya hidup dengan mengajar bimbingan tes, les privat, dll...Intinya, semua > bisa kuliah sampai lulus...Hanya pendidikan yang dapat memutus mata rantai > kemiskinan...Beda banget dengan jaman sekarang... > > Kalau kita kelompokkan anak2 Indonesia berdasarkan kesempatan memperroleh > pendidikan yang layak, saat ini ada empat golongan: > 1. Anak kaya dan pintar > 2. Anak kaya dan tidak pintar > 3. Anak pintar dan tidak kaya > 4. Anak tidak kaya dan tidak pintar > > Kenapa yang di depan kayanya dulu, bukan pintarnya? Kenyataanya memang > demikian, anak kaya bisa masuk PTN lewat bermacam-macam jalur, jika tidak > diterima lewat jalur kaya dan pintar, bisa lewat jalur kaya tapi tidak > pintar...Sementara yang pintar tapi tidak kaya, hanya bisa lewat jalur > pintar...Anak tidak kaya hanya bisa lewat jalur pintar, jika gagal (bersaing > dengan sesama anak pintar baik kaya maupun tidak), ya sudah, gagal karena > itulah satu-satunya jalan...Itupun kalau keterima, pasti pusing mikirin biaya > kuliahnya...Sementara anak kaya, jika gagal lewat jalur pintar, masih bisa > bersaing lewat jalur kaya yaitu bersaing dengan sesama anak kaya (baik pintar > maupun tidak)... > > Jika sistem seperti sekarang dipertahankan, bayangan saya...Indonesia masa > depan akan terdiri dari sekelompok orang elite...Yang berasal dari keluarga > kaya...Yang bisa mengakses kemana-mana...Nanti kalau sudah dewasa, anak-anak > kaya ini bisa ikutan Pilkada, Pilleg, Pilpres dll...Sementara di > sekelilingnya ada lautan orang miskin yang tidak punya akses apa-apa...Dari > kecil kurang gizi, kurang sehat, pendidikan di bawah standar dari pendidikan > dasar...Dan setelah dewasa hanya akan menjadi angka statistik kemiskinan... > > Bagaimana mengatasinya? Kalau saya pengasa, pendidikan akan saya gratiskan > untuk semua anak...Kaya atau miskin gratis sekolah di institusi > negeri...Lembaga pendidikan boleh cari dana seluas-luasnya tapi bukan dari > peserta didik...Kalau kurang tinggal disubsidi (mensubsidi bank century 6.7 > saja bisa...merekap bank tahun 1998 sampai dengan 800 T saja bisa, mengapa > untuk pendidikan tidak bisa?)...Mungkin ada yang tanya, enakan anak orang > kaya dong, udah kaya sekolah gratis pula?...Nggak juga, anak orang kaya kan > orang tuanya bayar pajak...Saya usulkan agar pajak dinaikkan untuk > barang-barang mewah seperti mobil di atas 2000 cc, rumah dengan luas di atas > 250 meter per segi di kota besar), tarif pajak penghasilan untuk income di > atas 300 juta per tahun, pajak bunga yang lebih tinggi untuk deposito di atas > 1 M...Jadi subsidi silangnya bukan dari SPP tapi dari pajak....Mungkin banyak > yang protes, tapi yang protes pasti orang kaya, yang miskin (dan jumlahnya > lebih banyak) pasti mendukung... > > Tapi itu cuma sekedar usul saja karena saya sama sekali bukan pembuat > kebijakan ... Saya hanya satu dari 275 juta rakyat NKRI yang powerless dan > hanya bisa berandai-andai....
