Oleh Simon Saragih

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/22/03292239/baut.ri.melenceng.dari.mur.globalisasi



Mudah-mudahan semua keterangan di bawah ini tidak benar adanya. Akan tetapi, 
tanpa penelitian mendalam pun rakyat sudah merasakan ada banyak hal yang tidak 
benar dalam perjalanan bangsa ini. Banyak sekali faktor yang menunjukkan 
Indonesia tidak menyesuaikan diri dengan tekstur mur-mur globalisasi sehingga 
membuat Indonesia tak berputar sesuai dengan irama globalisasi itu.

Salah satu contoh untuk memudahkan pemahaman adalah konteks pembangunan China, 
yang tidak kunjung menggugah teknokrat dalam menyusun strategi pembangunan. 
Setelah sukses mereformasi sektor pertanian, di mana para petani bebas menanam 
dan menabung sendiri hasil sektor pertaniannya, para petani China menjadi 
sumber daya beli.

Tak puas dengan reformasi pertanian, di mana teknologi pertanian mencapai 
terobosan besar, mulai dari pembibitan dan pengembangan sarana di pedesaan, 
China mencanangkan diri menjadi negara dengan ekonomi yang didorong ekspor.

Saat mencanangkan diri menjadi eksportir, tentu dengan segala masalah yang juga 
muncul, China benar-benar menjadikan investor asing raja-raja yang harus 
dilayani. Sejumlah wilayah atau provinsi berlomba menjadikan dirinya sebagai 
lokasi yang layak sebagai tempat berusaha.

Perizinan pun dirampingkan demikian pula sarana jalan dan listrik disiapkan 
sesuai dengan kebutuhan investor. Maka tidak heran jika China mengalahkan 
negara mana pun soal arus masuk investasi asing.

Jika disandingkan dengan konteks Indonesia, jelas Indonesia baru sekadar bisa 
berbicara soal globalisasi. Kenyataan di lapangan menunjukkan Indonesia tidak 
melayani investor asing.

Masih mau membantah juga? Ambil contoh listrik, hal vital bagi investasi 
misalnya, tak bisa kita sediakan di tengah keberadaan sumber daya energi yang 
memajukan industri di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan kini China. Jika kita 
bicara soal sarana jalan, kemacetan besar terjadi di sentra-sentra industri 
karena pembangunan sarana jalan tak sesuai dengan kebutuhan pembangunan.

Hal ini, misalnya, telah disampaikan Menteri Perdagangan Inggris Lord Davies of 
Abersoch, yang juga mantan Ketua Standard Chartered Bank (SCB), bank Inggris 
yang fokus ke Asia. Ketidaknyamanan soal perizinan dan minimnya insentif 
investasi juga sudah disampaikan Dubes Inggris untuk RI Martin Hatfull.

Hal ini membuat Indonesia tidak lebih menarik sebagai lokasi investasi asing 
dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, apalagi Singapura. Buktinya, 
banyak warga Indonesia yang harus mencari nafkah di luar negeri karena minimnya 
kesempatan kerja.

Faktor lain yang memperlihatkan Indonesia melenceng dari mur-mur globalisasi 
adalah pemanfaatan rakyat sebagai aset, yang lambat atau cepat akan menjadi 
pendorong ekonomi. Jika kita masih ingat, AS memiliki ekonomi yang besar karena 
generasi baby boomers, yang kini sudah memasuki masa pensiunan.

AS memiliki kebijakan yang berpihak pada bisnis kecil dan rakyat kecil. AS 
memiliki apa yang dinamakan sebagai Sherman Act, salah satu undang-undang yang 
menjamin eksistensi usaha kecil sehingga tidak tergilas usaha besar. Hal ini 
setidaknya mampu membuat kemajuan usaha kecil menjadi besar, seperti pernah 
dialami Xerox dan US Airways.

Demikian pula siswa dan mahasiswa, yang di AS pernah tertolong dengan paket 
social benefit. Hal ini, misalnya, pernah dilakukan dengan memberi keringanan 
kepada mahasiswa kurang mampu. Bahkan perbankan pun didorong memberi pinjaman 
kepada mahasiswa yang kemudian membayar pinjaman itu setelah bekerja. Fasilitas 
pinjaman seperti inilah yang membuat Presiden AS Barack Obama bisa kuliah, 
termasuk berkat food stamp (kupon makanan).

Kita harus bertanya, apakah Indonesia sudah melakukan itu. Bukankah Indonesia 
mirip dengan negara yang antisosial dengan kenaikan biaya-biaya sekolah, 
termasuk biaya-biaya kuliah, dengan program otonomi pendidikan?

Benar bahwa banyak beban bagi Pemerintah Indonesia. Dengan sekian banyak 
penduduk dan luasnya wilayah, tentu menangani pembangunan di Indonesia jauh 
lebih kompleks ketimbang menangani Malaysia, Thailand atau Vietnam.

Tentunya Pemerintah Indonesia tidak bisa diharapkan menyelesaikan masalah 
sedemikian besar dengan wilayah sedemikian luas. Namun, kita tidak usah terlalu 
rumit memikirkan itu. Di dalam perekonomian, sudah diketahui bahwa pelaku 
ekonomi bukan hanya pemerintah, melainkan juga investor dan konsumen.

Masalahnya hanyalah agar Pemerintah Indonesia menjadikan dirinya sebagai 
katalisator, fasilitator pembangunan. Dengan demikian, pembangunan di wilayah 
seluas Indonesia bisa dilakukan secara bahu-membahu antara pemerintah, 
investor, dan konsumen.

Pertanyaannya adalah apakah birokrat sudah menjadi katalisator? Jika demikian, 
mengapa ada kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berseberangan dengan 
Kepolisian RI?

Efek jera

Mengapa pula ada kasus Bank Century, yang rasanya begitu penting untuk 
diselamatkan dengan biaya triliunan rupiah. Apakah masalah Bank Century lebih 
urgen ketimbang pembangunan kapasitas listrik untuk mencegah pemadaman bergilir?

Jangan dilupakan, unsur korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi penghambat 
munculnya talenta terbaik dalam menggerakkan perekonomian.

Indonesia tidak sendirian dalam masalah korupsi. Hal ini pun menimpa banyak 
negara lain. Namun dalam konteks globalisasi, jika Indonesia ingin meraih 
manfaat globalisasi, hal-hal negatif seperti itu harus diatasi.

Maka tidak heran jika Pemerintah Vietnam mengganti semua pejabat Departemen 
Perhubungan sehubungan dengan penggelapan sejumlah dana pembangunan proyek 
infrastruktur. China juga melakukan hal serupa dengan memberi efek jera kepada 
para pejabat yang terlibat korupsi.

China tidak saja menembak koruptor, tetapi juga anak-istri dari pejabat korupsi 
dengan tujuan memberi efek jera kepada para pejabat lainnya.

Kembali kepada rakyat, termasuk para petani, kita juga harus menelaah dan 
mempertanyakan kembali, apakah mereka diberdayakan sehingga menjadi kekuatan 
atau memiliki daya beli sehingga bisa mendorong perekonomian?

Banyak lahan pertanian yang kini dikuasai dalam bentuk konglomerasi. Hal ini 
membuat kenaikan harga komoditas sawit dinikmati konglomerat, walau dalam porsi 
lebih kecil juga dinikmati perkebunan rakyat.

Di AS dan Eropa, Jepang dan Korea Selatan, pemerintah rela mengeluarkan ratusan 
miliaran dollar AS dana untuk memberi subsidi untuk hasil pertanian untuk 
memberdayakan ekonomi para petani.

Benar, anggaran negara, dengan asumsi penerimaan sedikit, tidak akan membuat 
pemerintah mampu melakukan hal serupa. Akan tetapi kita harus bertanya, mengapa 
Korea Selatan dan Jepang bisa melakukan itu, padahal negara ini tidak memiliki 
kekayaan alam seperti gas, minyak, dan emas yang amat bernilai. Mengapa 
Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini tidak mampu menjadikan kekayaannya 
untuk memberdayakan para petani?

Hal yang terjadi adalah kemiskinan yang melilit sekitar 100 juta penduduk 
Indonesia. Seperti kata ekonom asal Peru, Hernando de Soto, kemiskinan menjadi 
sarang yang rawan memunculkan terorisme. Dan Indonesia pun termasuk negara yang 
terkenal dengan aksi-aksi terorisme.

Ini hanyalah sekadar pengingat bahwa kita memiliki masalah yang harus diatasi. 
Masalah ini tidak akan teratasi tanpa keseriusan dari semua pihak. Keharuman 
Indonesia bukan diukur dengan pujian semu dari dunia luar terhadap pemerintah 
Indonesia, tetapi bergantung pada pemahaman kita terhadap masalah mendasar yang 
muncul, untuk kemudian diatasi.

Jangan lupa semua gambaran ini juga terekam dalam laporan World Competitiveness 
Report 2009, yang diluncurkan Oktober lalu. Hasilnya, peringkat Indonesia tidak 
membanggakan.

Kirim email ke