Ketika krisis kepercayaan sudah merebak ketika itu orang sudah tidak percaya kepada siapapun bahkan tidak kepada dirinya sendiri, ketika itu pula sikap saling tuding akan kerap terjadi tanpa jelas arah dan penyelesaiannya. Bukan tidak melihat ada sesuatu yang salah dan ada orang yang berbuat salah, tapi masalahnya terbentur kepada siapa yang akan bertanggung-jawab menanggung kesalahan karena semuanya cuci tangan. Ini memang kebiasaan pemimpin nakal tukang cuci tangan sejak jaman dahulu. Rakyat dibawa muter-muter supaya bingung sendiri. Sekalipun tidak bingung paling tidak bisa mengulur waktu untuk pasang strategi kali-kali perjalanan waktu akan merubah segalanya dan terkubur begitu saja masalahnya. Ketika TPF dibentuk, supaya afdol harus dibentuk pula tim verifikasi pakta yang dibuta TPF sebelumnya, dan seterusnya sampai kiamat. Memang ini ciri pemimpin korup berkualitas kelas-3 dunia yang menghabiskan waktunya untuk menutupi borok yang terkuak kepermukaan seperti nenek-nenek tua dan keriput yang selalu sibuk menghabiskan waktu ber-make up supaya tetap kelihatan cantik bagai dara muda supaya tidak kelihatan bahwa dia keriput. SH
2009/11/26 Soewarso <[email protected]> > Pertanyaan pak Godlip ini agak aneh. Apakah maksudnya ada kriminalisasi > juga kepada boediono, sri mulyani dan lps? > > Secara logika, audit investigasi oleh BPK tentu telah melalui serangkaian > wawancara dengan ybs ; sebelum BPK dapat menarik kesimpulan. > > Apakah karena banyak kejadian "aneh" di negri ini, lalu pak Godlip jadi > berpikir bahwa "ada maling ngaku salah"?? > > Salam, > > Soewarso. > > Sent from my BlackBerry® smartphone
