Acara kali ini dinamakan Tasyukuran dan Refleksi: Prof.Dr.Siti Musdah
Mulia(51 tahun) , yang telah mendapatkan penghargaan sebagai "Women of
the year 2009". Penghargaan ini diberikan oleh The International Prize for the 
women of the year yang dibentuk tahun 1998 oleh Regional of Aosta Velley
bekerjasama dengan pemerintahan Italy. Acara syukuran ini dilaksanakan
oleh Yayasan Paramadina 17 Desember 2009 di Plaza I Pondok Indah
Jakarta Selatan.

Acara syukuran kali ini semuanya atas inisiasi
Yayasan Paramadina dengan dukungan kerabat dari Ibu Musda. Mulai dari
persiapan sampai susunan acara. Sehingga ibu Musda sendiri tidak banyak
memberitahu kepada teman-teman sebagai bentuk maafnya. Acara dimulai
dengan makan bersama, pemutaran film tentang Ibu Musda, pemotongan
tumpeng, refleksi atau renungan dari Ibu Musda, testimoni dan diakhiri
oleh doa.

Sebelumnya Regional of Aosta Velley
sejak tahun 1998 telah memberikan penghargaan kepada 11 perempuan
diseluruh dunia yang telah mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan.
Penghargaan ini diberikan untuk tokoh perempuan yang diakui kiprah dan
kompetensi dalam profesinya yang telah memberikan sumbangan nyata dalam
upaya pemberdayaan perempuan.

Prof.Siti Musda Mulia juga
sebelumnya pernah mendapatkan penghargaan antara lain; GTZ Award
(Jerman), Tribute to the women Award, International women of courage
Award (USA,2007), Yap Thiam Hien Human Rig(2008). Selama ini kiprah
Siti Musda Mulia selain sebagai staff pengajar di Pascasarjana UIN
Syarif Hidayatullah, ketua umum International Conference on Religion
and Peace(ICRP) juga sebagai aktivis pejuang kemanusiaan digarda depan.
Sudah banyak pemikiran-pemikirannya dituangkan dalam bentuk artikel
maupun buku-buku. Minimal sampai sekarang sudah ada sekitar 16 buah
buku dihasilkan dari pemikiran perempuan ini. Selain juga menulis
puluhan ensiklopedia berkaitan dengan Islam.

Kerja-kerja yang
dilakukan Ibu Musda Mulia selain sebagai seorang pemikir juga sebagai
aktivis yang "getol" mengkampanyekan pendidikan pluralisme dan
multikulturalisme bagi masyarakat. Ibu Musda Mulia menikah dengan Prof.
Ahmad Thib Raya dan telah dikaruniai dua orang putra, Albar dan Alham.

Seperti
yang terdapat dalam buku "kecil" yang dibagikan kepada para tamu, Ibu
Musda bekerja untuk kemanusiaan telah melewati batas-batas / sekat
kelompok dan primodialisme. Bukan hanya meyuarakan untuk hak-hak
kebebasan beragama tetapi juga memperjuangkan penghormatan hak bagi
kelompok homoseksual. Isu yang masih sangat kontroversi dikalangan
pemuka agama maupun masyarakat. Keberanian Ibu Musda menjadi ulama
perempuan yang terus mengkampanyekan bahwa kebebasan orientasi seksual
seseorang adalah bagian dari hak asasi manusia. Mendiskriminasikan
kelompok homoseksual, biseksual maupun waria justru telah mengingkari
ajaran Islam itu sendiri. Pendapat ini banyak mendapatkan tantangan
banyak pihak tetapi Ibu Musda Mulia menilai bahwa ini adalah
konsekuensi dari sebuah perjuangan.

Ibu Musda menegaskan bahwa
inilah tugas saya yang diamanatkan kepada Allah SWT untuk berbuat
kebaikan kepada manusia lainnya di muka bumi ini. Baik itu untuk
kelompok homoseksual, pekerja sex, ODHA, kelompok Ahmadiyah maupun
kelompok marginal lainnya.

Pada
acara itu dihadiri oleh ratusan orang dari berbagai kelompok, mulai
dari keberagaman agama,suku sampai pada orientasi seksual. Pada acara
kali ini yang memberikan testimoni untuk ibu Musda bukan saja suaminya
tetapi juga dari pandangan kelompok lain seperti perempuan maupun
kelompok homoseksual. Ini menunjukkan bahwa ibu Musda berjuang tanpa
pernah melihat latar belakang seseorang. Manusia yang lemah menjadi
sebuah kewajiban untuk dibela.

Dari hasil wawancara dengan ibu
Musda ada keinginan dan cita-cita kedepan untuk membuat tafsir Alquran
yang menggunakan pandangan perempuan. Karena menurut Ibu Musda Mulia
tafsir Alquran yang ada sekarang ada masih sangat bercorak partriarki.
Perempuan masih dianggap manusia yang tidak setara haknya dengan
laki-laki. Sehingga tafsir yang saya cita-citakan adalah tafsir yang
menggunakan pengalaman perempuan sebagai basis dalam menafsirkan
teks-teks Alquran. Diharapkan kedepannya tafsir tersebut dapat
dijadikan bahan kajian bagi setiap orang yang peduli terhadap hak
perempuan dan kelompok marginal lainnya.

Tuduhan sebagai orang
yang meyimpang dari ajaran Islam sampai tuduhan kafir selalu ibu Musda
terima. Tetapi Ibu Musda meyikapinya dengan mengatakan bahwa mungkin
orang-orang tersebut tidak memahami dengan apa yang sedang saya
perjuangkan, ungkapnya. Menurut suaminya( Prof. Ahmad Thib Raya ) bahwa
Ibu Musda adalah orang yang selalu melaksanakan sholat tahajjud setiap
malam dan juga melaksanakan sholat duha pada pagi hari sebelum
berangkat kantor.

Pada penghargaan ini Ibu Musda mendapatkan
hadiah sebesar 50.000 euro yang diberikan dalam bentuk program kegiatan
untuk kemanusiaan oleh panitia. Dalam orasinya ibu Musda menceritakan
proses peyeleksian. Panitia mencari perempuan diseluruh dunia dari
berbagai latar belakang. Dari 127 nominator disaring menjadi 36 orang
dari 27 negara. Setelah itu diseleksi lagi menjadi 3 orang yang
dihadirkan pada acara puncak di Aosta Italy. Mereka adalah Musda Mulia
(Indonesia), Aiche Ech Channa (Maroko) dan Mary Akrami (Afganistan).
Ketiga orang tersebut masih mengikuti proses seleksi lagi salah satunya
berdiskusi dengan anak-anak pelajar sekolah dasar dan menengah di
Italy. Tapi sebelumnya ibu Musda diminta memberikan kuliah umum soal
pandangan Islam tentang hukuman mati. Memang menurut ibu Musda bahwa
banyak pertanyaan panitia seputar dengan hukuman mati dalam konteks
Islam. Menurut Ibu Musda bahwa menjadi tepat bahwa penghargaan ini
menjadi sebuah renungan bagi kita semua tentang makna pengabdian kepada
kemanusiaan. (Toyo/OV)

http://gerakan-gay.blogspot.com/2009/12/berjuangan-tanpa-batas-refleksi-ibu.html

Salam

Toyo
http://blog.ourvoice.or.id
http://forum.ourvoice.or.id



      __________________________________________________________
Coba Yahoo! Messenger 10 Beta yang baru. Kini dengan update real-time, 
panggilan video, dan banyak lagi! Kunjungi http://id.messenger.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke