Saya masih ingat ketika anak-anak, dalam permainan apapun jika kita adu antara 
kelingking dan jempol, maka kelingking akan menang, kita adu antara semut 
dengan gajah, maka semut akan menang.....Itulah Teori yang selalu kita pegang 
di kala masih kanak-kanak. Di saat itu prinsip kejujuran dan kebersihan jiwa 
selalu kita kedepankan....
   
  Ketika kita dewasa..Teori semacam itu telah hilang dari ingatan kita.. yang 
ada jempol tetaplah jempol..jempol tetap besar dan kuat, sementara kelingking 
tetaplah kecil dan lemah. Gajah tetaplah makhluk yang besar dan punya belalai  
panjang yang bisa lakukan apapun yang dia mau, sementara semut tetap menjadi 
makhluk kecil dan tak punya senjata apapun untuk membela diri....
   
  Aturan Permainan-pun berubah tidaklah lagi berpegang pada prinsip kejujuran 
dan kebersihan jiwa. Goyangan jempol dan Teriakan Gajah itulah Aturannya..Sabda 
Pandhita Ratu=Setiap Teriakan Gajah adalah Aturannya..tidak ada kamus salah 
dalam diri Gajah...
   
  Cerita ini mungkin bisa menjadi renungan kita:
  Pada suatu hari Serombongan pasukan yang terdiri dari seekor gajah (pimpinan) 
dan beberapa ekor semut (prajurit) berjalan tengah hutan belantara. Ditengah 
perjalanan tiba-tiba seekor semut yang berada paling depan berteriak: "Pak 
Gajah kita salah jalan, jalan itu namanya jalan keburukan, tidak sesuai dengan 
Peta yang seharusnya kita tuju adalah Jalan Kebaikan". Mendengar teriakan itu 
bukannya Sang Gajah senang diingatkan, malah balik mengahardik, "Prajurit semut 
kamu telah melawan titah raja, kamu tidak layak di depan, sekarang juga kamu 
pindah di barisan belakang.
   
  Dengan berbesar hati semutpun pindah ke barisan belakang. Walaupun tempatnya 
telah bergeser, tapi dia punya kebanggan sendiri karena telah berhasil 
menyuarakan kebenaran...
   
  Apakah cerita berhenti sampai disitu..tidak ternyata Dendam dan sakit hati 
gajah atas teriakan semut tadi tidak pernah sirna...Di kala istirahat 
perjalanan semua pasukan dibagikan makanan dan minuman kecuali si Semut yang 
teriak tadi dengan sengaja sang gajah tidak membagikan jatah kepada semut itu. 
Dengan berbagai cara dan jalan Sang Gajah...berusaha menjegal hak-haknya 
sebagai Prajurit..
   
  Para Milisi yth,
  Memang benar kata pepatah: "Tegakkan kebenaran, walau pahit rasanya" Tapi 
adilkah perlakuan Gajah itu terhadap Semut??? Layakkah Kebenaran harus dibalas 
dengan intimidasi dan tekanan-tekanan? Kemanakah hati nurani kita? Kemanakah 
kebesaran jiwa kita?...Wallahu 'Alam
   
  Hanya Rintihan hati dan doa si Semut yang bisa menjawab...   

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke