moch kobir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

MEMAHAMI REAKSI ALAMI TERHADAP PERUBAHAN
Oleh:
Moch Abdul Kobir*
  
Sejak sebuah perubahan diumumkan sampai perubahan dirasakan benar
sampai ke lapisan bawah, semua pegawai-tanpa mempertimbangkan jabatan
dan pengalamannya- pada level tertentu, akan mengalami kebingungan,
tekanan, dan perasaan kehilangan. Yang paling menarik adalah bahwa
orang bereaksi terhadap ketidakpastian ini dengan cara yang berbeda.
Kita yang terlibat dalam perubahan ini, perlu memahami secara jelas
apa saja reaksi orang terhadap perubahan tersebut.

ESN:
2 Tipe Perubahan (regardles of what the cause) :
1. Perubahan Terencana (efisien, efektif :) ) -> efek = lebih sedikit
korban dan ketidak puasan, dan memiliki kejelasan
2. Perubahan Tidak Terencana -> efek = membutuhkan banyak
tumbal/korban demi perubahan tersebut, dan cenderung tidak jelas (ini
juga kerap sama dengan system Trial and Error)


MAK:
Beberapa individu dapat mengatasi dengan baik atas masalah yang
terjadi sebagai akibat adanya perubahan karena mereka telah membangun
sebuah perspektif  berdasarkan kehidupan yang mereka alami dan
pengalaman yang mereka miliki. Orang model seperti ini, dapat melihat
perubahan sebagai sebuah peluang. Pada awalnya, orang-orang tersebut
juga merasakan hal yang sama yaitu: kehilangan orientasi, tidak
nyaman, dan mengkhawatirkan masa depan mereka. Namun, mereka
beradaptasi lebih cepat, hatinya bersambung dengan proses yang ada,
toleran terhadap ambiguitas, sangat kreatif, dan mampu berimprovisasi
dalam mencari solusi terhadapap masalah-masalah baru yang timbul.
Mereka aktif berkomunikasi dan mengikuti program-program pelatihan
yang biasanya menyertai ide perubahan. Mereka jadikan hal itu sebagai
sumber informasi. Orang seperti ini, memiliki kualitas adaptasi yang
sangat baik dalam sebuah organisasi, menjadikan tugas pimpinan menjadi
lebih mudah. Sayangnya, tidak semua pegawai beradaptasi dengan cara ini.

ESN: 
setau saya ini teori Organisasi ini dikemukakan pada aliran Klasik dan
Neo-Klasik, yaitu mengenai pentingnya kerelaan pegawai dalam
pencapaian tujuan organisasi dan memang tugas pimpinan lebih mudah :)

namun dalam teori organisasi modern, pemimpin tidak hanya dituntut
bisa memimpin dengan sekelompok aturan dan wewenang yang diembannya
tapi pemimpin juga harus dapat mengeluarkan potensi terbaik yang
dimiliki oleh pegawainya, melalui banyak hal = SOP, Pendidikan dan
Pelatihan

MAK:
Di saat beberapa pegawai dapat beradaptasi, banyak pegawai yang masih
"stuck", merasa terperangkap dan bingung. Perubahan menghadirkan rasa
kehilangan pada tipe-tipe orang tertentu. Rasa kehilangan ini biasanya
dipersepsikan lebih besar daripada apa pun hasil yang dijanjikan oleh
perubahan. Kontrol, peluang di masa depan, prediksi, power, status,
keamanan, atau banyak lagi perasaan-perasaan yang menurut kelompok
tersebut penting.  Perubahan dilihat sebagai hal yang lebih buruk.

ESN:
Perubahan bagi kalangan staff (bawah) membutuhkan kejelasan dan
sosialisasi, kita bisa bercermin dari konversi Minyak Tanah -> Gas,
penolakan yang terjadi adalah karena ketidakpahaman masyarakat atas
tujuan kebijakan ini
dengan Kejelasan dan sosialisasi yang semakin baik dari pemerintah
bisa meredakan anxiousity (kegelisahan) masyarakat

Kejelasan adalah salah satu yang dipandang umum merupakan sebuah hal
yang penting, setelah reformasi di Indonesia digelontorkan 9 tahun
yang lalu masih banyak hal yang belum jelas: pemberantasan korupsi,
kewibawaan hukum, kepastian pendidikan...upaya Pemerintah melalui
kebijakan-kebijakan gradual dan sosialisasi berupaya menjawab
keresahan masyarakat tapi percuma jika pelaksanaannya membingungkan

MAK:
Orang yang lain lagi mungkin menaruh diri mereka sendiri sebagai
korban sebuah perubahan. Pegawai yang menganggap dirinya sebagai
korban merasa bahwa mereka tidak punya pilihan, bahwa mereka hanya
"diberitahu" tentang apa yang harus dikerjakan, dan apa peran mereka
yang harus dipatuhi.

ESN:
jarang sekali perubahan yang tidak memakan korban (walaupun mungkin
ada yang menganggap hanya perasaan orang tersebut yang merasa dy
korban).. tapi menurut saya adanya 'korban' adalah konsekwensi logis
tapi yang paling penting adalah "jumlah korban" dan "cara/proses
pencapaian tujuannya" 

MAK:  
Ada juga tipe yang bereaksi secara kaku, tidak fleksibel. Respon ini
terjadi ketika orang telah menjadi nyaman dan terbiasa dengan
cara-cara terdahulu yang telah dikerjakan, dengan proses kerja lama,
dan dengan model organisasi terdahulu. Orang-orang ini tidak mau tahu
antara hal yang dikerjakan dengan tujuan pekerjaannya. Tujuan yang
lebih penting dengan proses yang dikerjakan menjadi tidak bersambung,
karena proses dianggap lebih signifikan. Ambil contoh, adanya
perubahan yang berimbas pada proses baru, teknologi baru, dan
kebijakan baru. Orang-orang ini bereaksi dengan resistensi. Secara
konfrontatif mereka menolak.

ESN:
Ada beberapa komentar yang mengatakan, bahwa jaman sekarang kita lebih
beruntung sedangkan jaman dulu pas era bapak2 kita susah kuliah, kalo
menurut saya itu seperti membanding kita pake mesin ketik di jaman
computer sekarang

Dengan segala hormat kepada para senior dan pimpinan yang telah
melalui banyak hal dan pastinya lebih berpengalaman daripada anak2
yang bau kencur macam saya, tentunya juga pasti kita semua menyadari
tantangan dulu jauh beda dengan tantangan masa kini (era reformasi,
era industrialisasi, era globalisasi), saat ini dibutuhkan kemauan dan
kesadaran yang baik akan peningkatan kualitas pendidikan demi masa
depan dan profesionalitas pegawai

MAK:
Ada pula reaksi lain, yaitu orang yang memiliki kesulitan untuk
mengatasi perasaan kecewa, tidak puas dengan organisasi, teringat pada
"masa-masa lalu yang indah" dan "cara yang biasa kita lakukan dahulu".
Ekspresi perilaku yang lainnya adalah menarik diri untuk
berkontribusi, mengisolasi diri, menolak (ini lagi, terlalu begitu,
ini akan berlalu, dst.), sinis, dan bentuk-bentuk lain bernostalgia ke
masa lalu. Banyak pula pegawai yang mengekspresikan resistensi mereka
dengan cara tidak membuat keputusan, tidak beraksi, dan "wait and see"
karena tidak mendapatkan informasi yang cukup atau tidak cukup
mengerti dengan proses yang terjadi.
Bahkan, para pegawai yang "excellent" yang biasanya mencapai performa
bagus, bisa juga menjadi "stuck" dalam perubahan. Pimpinan perlu
mengenali perilaku mereka sebagai sebuah reaksi dan bukan sebagai
masalah dalam kinerja.

ESN:
Reaksi tidak berarti masalah, karena menyadari sebuah masalah atau
tidak butuh yang namanya "kepedulian"

Di metro TV ada konser tiap malam minggu yang mengkampanyekan bahaya
global warming, menurut saya itu kepedulian karena mereka menyadari
bahwa Global Warming adalah sebuah masalah BUKAN hanya reaksi bumi
terhadap pencemaran yang dilakukan manusia

sekarang dianalogikan ttg pebatalan TB D3 khusus dan D4, mungkin
memang sebagian pihak memahaminya ini adalah Reaksi dari sebagian
pegawai yang dikecewakan setelah berusaha sesuai prosedur yang berlaku
dan menunggu lama

butuh kepedulian dan kepekaan untuk menyadari bahwa ini adalah masalah
kebijakan yang tidak jelas dan terlambat yang mengakibatkan korban di
pihak pegawai (yg notabene tidak tahu apa2)

MAK: 
Dengan demikian, apa saja yang bisa kita lakukan?:
Lebih dekatlah dalam mengobservasi perilaku. Perhatikan apa yang
orang-orang katakan dan kerjakan dalam rapat dan pertemuan informal
(milis forum prima, misalnya). Lebih sensitiflah pada bagaimana
perasaan orang-orang.
Pelajari, bagaimana orang-orang bereaksi. Pelajari, dasar psikologi
orang yang mengalami perubahan melalui kursus, buku, dan tulisan lainnya.
Kenali, bahwa reaksi-reaksi itu berdampak pada setiap orang. Pada
tingkatan yang lebih besar atau kecil, semua pegawai bereaksi terhadap
perubahan. Antisipasi hal itu; temukan masalah dan jawabannya.

ESN:
Observasi yang dilakukan selama ini baik, masalah sensitif kayanya
masih cukup sensitif, tapi tindak lanjutnya yang jarang :) , lihatlah
betapa sigap pimpinan2 kita ketika ada kata2 yang tidak sopan dimuat
dimilis ini :)
Tetapi betapa sulit mendapatkan jawaban dari pimpinan ketika
pertanyaan2 yang sopan dan lugas tentang topik2 yang cukup penting
bagi pegawai dikemukakan di milis :)


MAK:
"Progress is a nice word. But change is its motivator. And change has
its enemies."

ESN:
Setuju :) terutama klo perubahan tersebut tidak dijelaskan dan tidak
terencana dengan baik pasti musuhnya banyak
  
 
MAK:
*Penulis adalah pelaksana pada Sekretariat DJPB, tugas belajar pada
Curtin Business School, Curtin University of Technology, Western Australia

ESN:
Penulis adalah anak kemaren sore di DJPB, Pelaksana pada KPPN Serui,
peserta Tes D4 dari sebuah pulau yang dikecewakan setelah menunggu
hampir 3 bulan, mahasiswa Manajemen-S1 Universitas Terbuka karena ga
ada Perguruan Tinggi yang terakreditasi di Serui

MAK:
Tulisan ini saya persembahkan untuk:
1. Yth. Bapak Drs. Herry Purnomo, M.Soc.Sc.
2. Yth. Bapak Drs. Siswo Sujanto, DEA.
3. Para anggota milis yang selalu saya cintai dan saya kasihi, yang
mengenal saya secara pribadi maupun tidak.
4. Para moderator forum-prima untuk eksistensi milis ini menjadi lebih
baik.
5. DJPB dan Depkeu yang saya banggakan.
6. Indonesia Raya agar jaya selamanya.
7. Farchan, Taffania, dan Ulfa yang selalu mengiringi dengan setia
dalam suka dan duka.
 

ESN:
Tanggapan ini saya persembahkan untuk:
1. Bapak2 dan Ibu2 Pimpinan DJPB yang terhormat
2. semua orang yang baca tulisan ini
3. semua pihak yang sedang melakukan observasi tentang perilaku/reaksi
pegawai dalam menyambut perubahan



Salam Damai dari Serui


ESN
(yang masih ingin diberi penjelasan mengenai hubungan pembatalan TB D3
khusus / D4 demi kebaikan organisasi DJPB)


Kirim email ke