hahaha... memang inggar masih seberat itu..... tolong sampaikan salam hangat saya untuk inggar dkk, ya eyang...
inggar dkk adalah salah satu lulusan djpb 2006 yang cukup beruntung. karena inggar dkk, oleh kanwilnya, ditarik untuk penempatan di kanwil kendari (koreksi kalo salah). dan saya (penempatan sibolga) juga merasa cukup beruntung.memang tidak seperti inggar yang masih dapat merasakan suasana ibukota provinsi, tapi lebih ke ramah-tamahan temen2 kerja disini. baik dari golongan tua maupun golongan muda. (jadi di sibolga nga ada tuh istilah prodip dan non prodip). dan walaupun beli makanan disini mahal (maaf kalo untuk masak sendiri saya nga bisa), tapi saya sangat terbantu dengan adanya fasilitas rumah dinas yang diberikan kantor untuk kami (dulu rumah dinas kami sampe ditempati oleh 10 orang). lumayan pengeluaran untuk kos bisa dialihkan ke pos anggaran lain. Tapi, banyak diantara kami (lulusan prodip III Kebendaharaan negara penempatan DJPB) yang hidup sedikit tertekan dengan kondisi sekarang. mereka setidaknya harus membagi uang yang mereka dapat (dan masih mendapat 850 ribu , meskipun ada renumerisasi) untuk kos, makan, dan pulsa (nga mungkin donk anak muda nga telpon2-an) tapi sudahlah.. masa lulusan dari kebendaharaan negara keteteran dalam me-manage penghasilan sendiri. tentunya kita harus survive (bertahan-red) dengan keadaan ini. dan terbukti setelah -+ 6 Bulan kita bekerja. tak satupun dari kami yang kabur.... alhamdulillah, saya pribadi untuk lebaran ini dapat pulang kampung. dengan menyisihkan uang yang saya dapat tiap bulanya, dan tambahan dari sisa2 tabungan. akhirnya sekarang saya dapat memegang tiket pulang-pergi jakarta-padang. bahagia rasanya memikirkan diri kita berkumpul lagi bersama keluarga setelah sekian lama, dan tentunya akan terasa lebih nikmat, karena saya dapat berbangga hati menyatakan "semua ini berasal dari keringat saya lho" tapi sedihnya diri saya saat mengetahui, banyak dari teman2 seangkatan saya yang tidak pulang kampung. padahal saya sangat tau, betapa kangennya diri mereka tuk bercanda di tengah keluarganya masing-masing, betapa rindunya mereka akan suasana kota kelahiran mereka. dan juga tentunya rindu akan bertemu dengan kekasih mereka (hehehehe, sori untuk yang belum punya) dan kalau ditanya lagi mengapa??? saya rasa setiap dari kita dapat mengetahui atau setidaknya menebak apa alasan mereka tidak dapat pulang kampung. ah.. sudahlah.. masa lulusan prodip III kebendaharaan negara yang sudah berumur lebih dari 20 tahun dan sudah menandatangani surat perjajian untuk bersedia ditempatkan dimana saja, masih juga mengeluh....... saya akan menganggap ini semua konsekuensi dari pekerjaan kita. kalo istilah kerennya JOB RISK. saya dan teman-teman prodip III tahun 2006 telah melalui sesuatu yang saya namakan ujian hidup. ujian yang mengevaluasi integritas kami (saat kami jauh dari orang2 yang kami sayangi), loyalitas kami (saat kami berpenghasilan pas2-an), dan kapabilitas kami (saat kami bekerja dalam keadaan tertekan) mudah-mudahan hasil dari ujian kami cepat keluar yaitu secarik kertas yang menyatakan bahwa, masing2 dari kami telah diangkat menjadi cpns. sehingga kami nantinya dapat meningkatkan integritas kami (karena mungkin nanti kami bisa mengajak salah satu dari orang yang kami cintai), meningkatkan loyalitas kami (karena otomatis penghasilan kami bertambah cukup segnifikan) dan meningkatkan kapabilitas kami (karena tentunya tekanan dalam kerja sudah cukup berkurang) dalam bekerja. doa dari temen2, kakak, abang, ibu, bapak, eyang, mbah kakung dan lain2 sangat berharga bagi kami. dan kami sangat berterima kasih kepada kalian yang telah membantu kami dalam melewati semua ini. semoga selembar kertas sakti kami cepat keluar dari sarangnya amien best regards andi saputra kppn sibolga Seperti Budisan, saya juga punya cerita. Bedanya ini tentang staf lulusan prodip III tahun 2006 yang statusnya masih magang. Ceritanya sebagai berikut : TENTANG LULUSAN PRODIP III TAHUN 2006 Assalamu alaikum Wr. Wb. Bicara tentang rekan-rekan lulusan Prodip III tahun 2006 yang masih magang di lingkup Ditjen. PBN memang adanya hanya kasihan. Dengan honor Rp. 850
