Yth Mr Oka
 
Saya setuju banget dengan pendapat anda neh...
Maklumlah...setiap orang di dunia ini "daya tangkap" 
dan "daya pancar"nya beda-beda.
 
Tapi kalau untuk kasus DJPBn perbendaannya pasti cuman Be Ti..bro!
Mengapa? karena kita dulu masuk dites semua, so kecerdasan kita rata-rata sama 
dah...
Mungkin juga sih ada perkecualian.
 
Usul nih, bagaimana kalau tiap selesai rapim, para KK dibekali bekal CD hasil 
rapim. 
Itung2 oleh2 untuk anak buah.
Sampai di kantor asal, tinggal puter CD tsb dan para bawahannya 
tinggal disuruh dengerin / menyimak. So, distorsinya khan tinggal sedikit.
Ditambah penjelasan sedikit-sedikit dari sang KK makin siiip lah.
Informasi yang ingin disampaikan pimpinan puncak mudah2an 
dapat tersampaikan semuanya ke level bawah.
 
OK bro?
Best Regards
Amb

________________________________



Mungkinkah sebuah radio dengan frekuensi 102,3 MHz didengarkan oleh
pendengar yang memanteng radionya di frekuensi 101,7 MHz? Saya rasa
tidak (Tapi mungkin bisa kalau ada kebocoran, dengan resiko suara yang
dihasilkan tentu tak sejernih yang seharusnya)

Tapi itulah yang bisa terjadi di sebuah organisasi . Yang satu 
ngomong di mana, yang lain denger di mana. Gak nyambung! Saya yakin
pimpinan kita sudah memikirkan matang-matang mengenai
keputusan-keputusan yang diambil, namun sayangnya tidak tersosialisai
dengan baik. Pertanyaan 'mengapa'sering mengemuka di antara 
pasukannya. Dan sayangnya lagi tetap tak terjawab. Karena pasukannya
menggunakan media yang berbeda. 

Disangkanya dengan menulis di milis ini pesan pasukan sudah sampai di
telinga pemimpin, Padahal tidak semua pemimpin sempat untuk baca
milis ini . Asumsinya akan ada yang menyampaikan pada pimpinan. Namun
kenyataannya, belum tentu!!

Disangkanya dengan rapim, semua kebijakan akan tersosialisasi kepada
prajuritnya. Nyatanya kadang2 informasi mengalami distorsi. 

Kapan ya kita bisa berbicara di media yang sama, tanpa harus ada yang
merasa terluka. 



 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke