Lebaran yang tinggal menunggu hari memang akan memberikan suasana yang
sangat berbeda.. Baik itu dalam hal pelaksanaan ibadah mupun
pelaksanaan ritual tradisi tahunan yang biasa dijalani bangsa ini.
Di awal ramadhan, orang2 akan bersibuk-sibuk ria mempersiapkan fisik
dan mental dalam rangka bertarawih dan tilawah serta amalan2 musiman
ramadhan lainnya.  Tapi, semakin mendekati closing date daripada bulan
RAmadhan ini, persiapan diarahkan kepada mudik dan persiapan lebaran
lainnya
Ada orang bijak berkata bahwa bangsa kita ini belum bisa
terklasifikasikan sebagai bangsa akan tetapi masih dalam
daerah-daerahnya, dalam bahasa santrinya ashobiyyah... Karena itulah
tradisi mudik selalu memberikan fenomena luarbiasa tiap tahunnya.
Jika dicari rujukannya dalam kaidah fiqih, versi madzhab manapun,
mungkin tidak akan ditemukan. Tidak ada dalil "yaa ayyuhalladziina
aamanuu kutiba 'alaikumu mudiik". Jadi, ga ada dalil yang khusus
meyuruh mudik. Ini mungkin menjawab pertanyaan seorang kawan yang
dilontarkan kepada penulis ramadhan yang lalu, dimana dia bertanya apa
sih dasarnya orang pada mudik, sampai harus mengeluarkan duit yang
banyak dan mengorbankan waktu2 ramadhannya....
Akan tetapi, jika kita memandangnya dari sisi yang lain dan dengan
pertimbangan 2 yang lain, mungkin mudik juga perlu. Dari sisi
psikologis, seorang anak akan sangat berbahagia apabila setelah sekian
lama merantau bisa bertemu kembali dengan keluarga, hal ini tentu akan
membawa efek positif, meminjam istilah Sadono Sukirno, Multiple
effect. Efek positif dari kejiwaannya akan meningkatkan produktifitas
orang tersebut.
Religion approach-nya adalah kebutuhan untuk birrul walidain dan
silaturrahmi... Ibu Latfiah sungkar pernah mengatakan bahwa yang
paling berhak atas seorang laki-laki adalah ibunya dan yang paling
berhak atas perempuan adalah suaminya... Jadi dalam rangka pemenuhan
hak seorang ibu, mudik itu juga perlu...
Yang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini adalah they will do
everything so they can going back to their hometown. Jadi seluruh daya
upaya akan dikerahkan guna melaksanakan kebiasaan yang telah berubah
menjadi kebutuhan (primer mungkin) di masa-masa menjelang lebaran.
Scale of priority meningkat menjadi first need... Inilah efek
negatifnya. Pasar membaca sinyal ini dan akhirnya tarif-tarif pun
harus naik, sehingga terjadi inflasi kecil-kecilan.
Tapi bagaimanapun, efek negatif itu masih wajar. Hal ini terlihat dari
kemampuan masyarakat untuk memenuhinya. memang pendapat riil mereka
akan sedikit terkurangi. THR yang mungkin diterima juga belum tentu
bisa mengcover semua additional cost itu.
Akhirnya , semua orang harus bijak dalam menyikapi fenomena ini, baik
pemerintah maupun masyarakat. Sehingga kebutuhan semua akan terpenuhi.
Wallahu'alaam.
Mudah dikatakan  tetapi sulit dilakukan bukan?

Jogjakarta, 6 Oktober 2007

Penulis

*)Penulis adalah mahasiswa Tugas belajar DJPBN


Kirim email ke