Lebaran : Sebuah Perjalanan Melintas Waktu Secara singkat, dalam bahasa yang populer. Kita menjadi modern dengan kehilangan rasa kemanusiaan kita. Kita sibuk dengan kegiatan kita sehari-hari sehingga tidak sempat lagi memperhatikan keluarga kita dan orang-orang disekitar kita. Kita kehilangan rasa sayang, bahkan semua emosi kita yang manusiawi. Sebagai gantinya. Kita mengembangkan sikap yang kasar, mementingkan diri sendiri (egois), dan agresif. Otot-otot kita setiap saat menerkam orang lain yang sudah kita pandang sebagai mangsa. Kita Mengembangkan struktur sosial ayam yang besar berusaha mematuk yang lemah dan seterusnya. Kita menjadi materilaistis. Kita siap mengorbankan perasaan kemanusiaan kita yang luhung sekalipun untuk memperoleh keuntungan material sebanyak-banyaknya. Pada tingkat penguasa atau pengusaha (seringkali kedua-duanya sulit dibedakan), kita memandang rakyat atau pegawai sebagai angka-angka yang dapat kita manipulasi (pangkat-kali-bagi-tambah-kurang) untuk kepentingan kita. Kita tidak lagi dapat melihat mereka sebagi sosok manusia yang mempunyai perasaan mempunyai sanak keluarga. Pada tingkat orang kecil kita menemukan orang-orang yang membunuh rasa kekeluargaannya hanya untuk memperoleh sesuap nasi. Di Bekasi misalnya ada seorang ibu yang menyembunyikan kandungannya hanya karena takut diberhentikan dari pabrik. Bukan itu saja Ia juga berusaha tidak menangis ketika anaknya lahir, karena kuatir tetangganya mendengar dan membawanya ke dokter. Anaknya disembunyikannya di rumah kontrakannya dan hari itu juga pergi ke pabrik (masih dengan darah yang menetes ke kakinya). Kota-kota besar jantungnya modernisasi telah menjadi rumah sakit jiwa yang besar. Semua orang sakit, termasuk para dokter dan petugas rumah sakit, Penyembuhan indiviual sangat sulit. Dieperlukan penyembuhan massal Terapi yang diberikan haruslah membuat orang manusiawi dan memperlakukan orang lain secara manusiawi pula. Mereka harus berangkat dari semangat memiliki material ke semangat kekeluargaan yang spiritual. Dari mengambil ke memberi. Itulah makna mudik. Dengan mudik, orang-orang yang mudah kehilangan dirinya dalam hiruk-pikuk kota ingin menemukan kembali masa lalunya di kampung. Mereka yang hanya dihitung sebagi angka dan skrup kecil dalam mesin raksasa kota atau birokrasi, ingin kembali diperlakukan sebagai manusia. Mereka ingin meninggalkan walau sejenak- wajah-wajah kota yang garang untuk menikmati kembali wajah-wajah kampung yang ramah. Mereka ingin mengungkapkan kembali perasaan kekeluargaan yang menyejukkan. Maka anda lihat anak yang hilang bersimpuh di hadapan oang tuanya, memohon maaf seraya menagis terisak-isak. Suami menjalin kembali cinta kasih mereka setelah setahun penuh menjadi orang-orang asing yang tidak saling mengenal. Para tetangga saling menegur dan saling memberi setelah selama setahun mereka saling bersaing dan saling memeras. Inilah makna silaturrahim atau halal bihalal. Istilah halal bihalal walaupun tak akan pernah dipahami oleh orang arab seakan akan lebaran menjaadi tempat perilaku yang halal setelah pada hari-hari lain kita melakukan yang haram-. Silaturrahim bukan saja ditandai dengan menyebar keramahan, memperkukuh ikatan dengan bersalaman, tetapi memasyarakatkan budaya memberi alih-alih mengambil. Silaturahim tidak saja ditujukan kepada mereka yang masih hidup, tetapi juga yang sudah mati. Orang-orang almarhumun mencerminkan masyarakat yang sudah hilang. Mereka mewakili masa lalu. Orang-orang modern yang tercerabut dari akar sejarahnya perlu sekali-kali kembali kepadanya. Mereka harus akrab lagi dengan dunia mereka yang karena modernisasi diasingkan dari mereka. Karena itu biarlah mereka mengarungi darat, laut ,dan angkasa bersimbah keringat dalam kendaraan, berpayah payah menempuh perjalanan jauh. Perjalanan mereka adalah perjalanan yang melintas waktu- perjalanan historis. Mereka telah membawa masa kini mereka kemasa lalu, supaya memperoleh kekuatan buat menempuh masa depan. Mudik, silaturrahim, nyadran adalah kreasi bangsa yang menajubkan. Ketiganya berfungsi sebagi terapi untuk manusia modern. Sayang, kebanyakan yang mudik itu adalah orang-orang kecil, yakni menurut Denis Goulet-"generasi yang dikorbankan" (sacrificed generation" untuk masa depan pembangunan yang dijanjikan. Memang, mereka yang tertindas, mereka yang hampir putus asa, mereka ynag kehilangan jati diri. Mereka ynag tidak mampu mengontrol hidupnya memperoleh wujudnya ketika mudik. Mudik bukan semata-mata hiburan- tetapi terapi masal yang biayanya tidak terlalu membebankan pemerintah . Alangkah baiknya bila para kongklomerat dan birokrat besar pun mudik, silaturrahim, dan nyadran. Kelak, bila kedua kelas ini bertemu lagi di kota, mereka bukan lagi robot.
Sumber: Buku Islam Aktual Penerbit :Mizan Hal 154 cetakan III tahun1991 Karya Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat
