Bagaimana bu, Pak, Perjalanannya? Lancarkah? Ombaknya besarkah? Itulah pertanyaan yang biasa kami lontarkan kepada satker2 dari Sukamara. Maklumlah, perjalanan dari Sukamara ke Pangkalan Bun harus dilalui lewat laut dengan armada speed boat. Tak jarang mereka datang ke kantor dalam kondisi baju basah karena belum sempat ganti/ gak bawa baju ganti. Malah dokumen yg mereka bawapun terkadang ikut basah walaupun sudah dibungkus plastik. Itulah dinamika yang terjadi bagi satker2 dari Kab. Sukamara. Ini sudah berlangsung kira2 1/2 tahun yg lalu. Dulu perjalanan Sukamara- P Bun ditempuh dengan rute Sukamara-Kotawaringin Lama (Kolam) pakai taksi Kijang dengan waktu tempuh 1 1/2- 2 jam. Setelah itu dilanjut dengan naik speed dari Kolam ke P Bun. Dengan waktu tempuh 1 1/2 jam. Dengan kondisi jalan darat yg lebih banyak lubangnya dari pada yg mulus. Dijamin badan pegel2 plus gak bisa tidur. Perjalanan terasa sedikit nyaman kalau sudah naik speed. Saya katan sedikit nyaman karena bagi yang rutin naik speed pastilah timbul rasa bosan. Tapi bagi yg baru pertama kali mungkin hal ini terasa menyenangkan.
Itulah kondisi 1/2 tahun yg lalu. Lalu, bagaimana dengan sekarang? Rasanya orang malas mengikuti rute ini. Ini dipicu karena adanya konflik yg terjadi antara armada taksi Sukamara dengan Kotawaringin Lama. Taksi Kolam menginginkan taksi sukamara yang ke kolam baliknya nggak boleh bawa penumpang lagi. Inilah yg menyebabkan taksi Sukamara nggak mau lagi ngangkut penumpang ke Kolam. Kondisi ini diperparah dengan makin rusaknya jalan. Lubang makin banyak dan tambah dalam. Lengkap sudah... Sekarang... Maklum dengan kondisi yg ada akhirnya taksi Sukamara buka jalur baru. Kali ini nggak ke Kolam tapi menuju pantai. Kalau anda lewat jalur ini kemudian anda bandingkan dengan jalur Rely Paris-Dakkar agaknya sedikit banyak ada mirip-miripnya. Sepanjang perjalanan kita akan lewat padang ilalang dengan jalan berpasir putih. Maklum ini bukan jalur biasa. Sopir2 yang mahir nggak kesulitan lewat jalur ini walau lewat jalur sempit berpasir. Tapi bagi yg belum biasa tak jarang yang mogok lantaran pasir terlalu tebal. Terpaksa taksi yg dibelakang nunggu sampai mobil terangkat lagi. Inilah kondisi yang sudah saya pahami karena pernah mengalami sendiri perjalanan Pangkalan Bun - Sukamara lewat jalur ini. Kebetulan waktu itu ombak pas lagi besar kisaran 1/2 - 1 meter. Subhanallah, memang nenek moyang kita seorang pelaut. Dulu kami memandang para satker yg terlambat rekon dengan kami karena mereka sedikit malas. Tapi setelah melihat dan mengalami sendiri perjalanan istimewa ini pandangan saya jadi berubah. Rupanya mereka datang ke KPPN dengan perjuangan yang tidak kecil. Tak jarang bahkan lebih sering mereka tidak memperoleh sppd semestinya. Karena memang nggak di alokasikan di DIPA. Kami nggak bisa membayangkan bila yang harus berangkat perempuan. Hanya orang2 yang punya nyali saja yang berani menempuh perjalalanan lewat laut dengan speed. Bagaimana Pak/Bu, para pejabat di DJPBN? sudahkah dipikirkan keaadaan seperti ini? Ini belum seberapa. Saya nggak bisa bayangkan kondisi di Tahuna, Tobelo dll yg tentu saja lebih banyak lagi tantangan alamnya.
