Cerita Kang Acep mengingatkan saya pada cerita anak muda yang 
bernama Daud AS , dimana setelah mengalahkan Goliath dia menjadi 
sangat terkenal akan keberaniannya , kerendah hatiannya juga 
ketampanannya... 
dan ketenarannya, ini menggerakan raja yg berkuasa saat itu untuk 
menyingkirkannya... 
sang raja cemburu, rakyat lebih mencintai daud dibanding dirinya...

Congratulation atas pencapaian kang acep baik kebahagiaan dunia 
maupun kebahagiaan batin...

semoga bertambah terus nikmat yang kang acep syukuri.

salam
zamzam. 

--- In [email protected], "acep hadinata" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamualaikum Wr.Wb.
> 
> Salam buat semua miliser, maaf baru muncul lagi setelah menjadi 
suami SIAGA,
> dan belajar jadi Trainer, trus balik lagi ke tempat kerja, kejar 
semua
> pekerjaan yang mesti ditandatangani dan back to bussines as usual. 
Apa kabar
> kang Zamzam, kang Khobir, kang Dayu, kang Dedi, semua sohib 
terbaik di
> Marisa, semua teman-teman di Gorontalo, Mas Dhanu di Bantaeng 
(betul ga?)
> dan semua pembaca Forum Prima yang saya hormati.
> 
> Selamat dan sukses buat KPPN Makassar II yang telah meraih 
penghargaan bu
> Menteri, khusus untuk Pak Djadid Radjim, terimakasih atas segala 
bimbingan
> dan kolaborasi selama kita bekerja sama.
> 
> Alhamdulillah 4JJI SWT yang Maha Agung telah memberikan anak saya, 
Fathiya
> Ruzaina, seorang adik laki-laki yang saya beri nama Azka Syaffa 
Mutawakkil.
> Semoga hal ini menjadi momentum saya untuk senantiasa bersyukur 
dan makin
> giat beribadah.
> 
> Wah seru juga baca tulisan QQ, lumayan buat nunggu staff saya yang 
belum
> datang ke kantor, lucu juga udah jam 10 tapi masih belum datang. 
Mungkin ybs
> terlalu larut tidunya jadi kesiangan bangun...He..he..he, saya 
setuju kalau
> ada tulisan mengenai mindset sebagian teman-teman pelaku birokrasi 
dikatakan
> masih jauh dari harapan publik. Dulu sebelum wacana remunerasi 
muncul ada
> yang bilang, "kalo gaji ku naik, aku nggak bakal terima 
gratifikasi" atao
> "kalo gaji dah naik pasti absen pake fingerprint, nah pasti aku 
nggak bakal
> terlambat atau kesiangan" mungkin juga bilang seperti ini "kalo 
gajiku
> seperti swasta, baru aku mau kerja profesional dan kreatif"
> 
> Lalu apa yang terjadi, perubahan remunerasi (mungkin) belum bisa 
merubah
> mindset sebagian pelaku birokrasi? Atau memang mindsetnya yang 
tidak bisa di
> rubah? Ibarat membandingkan lebih dulu mana telur atau ayam?  
Mindset atau
> mental atau apalah namanya, hanya muncul dari setitik niat yang 
baik. Niat
> yang baik ada di dalam relung hati. Hati hanya segumpalan darah, 
akan tetapi
> segumpal darah ini bisa menentukan  'baik atau buruk'  kinerja 
sesosok raga.
> 
> Seorang widyaiswara (Setia Budi MA, Bappenas) menulis bahwa  
Pemberdayaan
> Sistem Administrasi Negara meliputi  tiga hal :
> 1) Kelembagaan;
> 2) Ketatalaksanaan; dan
> 3) Sumberdaya manusia.
> Ketiga elemen ini harus selalu diupayakan untuk mencapai prinsip 
efisien dan
> efektif (sesuai dengan prinsip pencapaian kinerja)
> Lebih lanjut, kalau boleh saya garisbawahi, oleh ybs bahwa untuk 
poin 1,
> perlu ada reorganisasi. Poin 2, perlu ada sistem manajemen yang 
realistis
> dan applicable (di Depkeu boleh lah kita sebut dengan ABK dan SOP 
serta
> Standar Pelayanan Minimal, yang ini udah atau belum yah?) dan poin 
3,
> pembangunan sumberdaya melalui upgrading kualitas dan kesejahteraan
> (remunerasi)
> 
> Sepertinya semua  sudah kita lalui, akan tetapi  efek dari 
remunerasi  dan
> reformasi birokrasi memang bukan seperti minum obat batuk, yang 
langsung
> terasa khasiatnya selesai kita minum. Khasiat dari obat batuk pun 
tentu
> berbeda-beda tergantung symptom masing-masing orang yang kena 
batuk.
> 
> Mungkin kita butuh QQ-QQ yang lain, bukan cuma satu atau dua 
puluhan,
> mungkin ratusan atau ribuan. Mungkin kita juga perlu dua atau tiga 
orang
> seperti Yth Ibu Sri Mulyani, yang bisa memberikan role model bagi
> pejabat-pejabat teras lainnya, tidak perlu ratusan atau ribuan 
cukup dua
> atau tiga saja. Mengapa satu atau dua atau tiga, karena 'satu' 
saja sudah
> sedemikian dahsyat efek yang dihasilkan, bagaimana kalau banyak? 
Jadi saya
> setuju yang QQ tuliskan di bawah, cuma sedikit yang saya komentari,
> kekuasaan atau amanah itu cuma titipan, kapanpun-bagaimanapun-
dimanapun,
> kalau 4JJI SWT mau cabut (bahkan jiwa kita sekalipun) tak ada lagi 
sesuatu
> apapun yang bisa menghalangi.
> 
> Mari kita berpikir, bagaimana amanah ini bisa kita gunakan dengan 
baik, dan
> waktu yang singkat ini bisa kita gunakan untuk sebesar-besarnya 
kepentingan
> orang banyak, bangsa dan negara. Sebaik-baik manusia adalah yang 
paling
> banyak memberikan manfaat untuk orang lain.
> 
> Sedikit cerita dari saya (CMIIW), dahulu ada seorang anak muda yang
> bergabung untuk menjadi pasukan yang siap membela bangsa dan 
negaranya.
> Sebuah niat mulia terpatri di dadanya, aku ingin berbakti untuk 
agama, orang
> tua, negara dan bangsa. Merintis karir dari seorang prajurit 
penjaga kuda,
> naik pangkat menjadi prajurit yang menggunakan tombak. Waktu demi 
waktu,
> karena kegigihan dan semangat yang diawali niat baik, si prajurit 
naik
> pangkat menjadi prajurit dengan panah, tidak menunggu lama menjadi 
prajurit
> dengan kuda dan pedang. Tidak sampai setahun, si anak muda menjadi 
pemimpin
> perang yang memiliki seribu pasukan. Sebuah pencapaian  karir yang 
luar
> biasa.
> 
> Besoknya si anak muda dipanggil oleh Komandan Wilayah perangnya. 
Terjadi
> dialog seperti ini'
> 
> Komandan Wilayah (KW) : Hai anak muda, mendekatlah...ada yang 
ingin aku
> sampaikan.
> Anak Muda (AM) : Siap komandan, saya siap mendengarkan. Si anak 
muda
> mengambil sikap sempurna untuk mendengarkan perintah.
> 
> KW : Pencapaianmu dalam perang ini sangat luar biasa. Berita-berita
> tentangmu menjadi buah bibir dimana-mana. Panglima tertinggi di 
Istana telah
> mengambil perintah untuk memberimu penghargaan yang setimpal.
> AM : Siap, terima kasih komandan. Menunggu perintah selanjutnya, 
si anak
> muda berjalan ke muka untuk bersiap menyongsoing penghargaan.
> 
> KW : Anak muda, Panglima tertinggi di istana meminta anda untuk 
segera
> mencopot atribut pemimpin perang seribu pasukan.
> AW : ??? (menahan nafas tidak mengerti), siap komandan. Bolehkah 
saya
> bertanya komandan?
> 
> KW : Dipersilahkan anak muda, apa yang ingin kau tanyakan?
> AW : Bolehkah saya tahu alasan atas pencopotan semua atribut dan 
jabatan
> yang telah saya peroleh dalam perang selama ini?
> 
> KW : Sederhana saja anak muda, pencapaianmu yang luarbiasa ini 
takut malah
> membuatmu "sombong dan membelokkan niat"
> AW : ehmmmmm...si anak muda ber-isitigfhar...Alhamdulillah, 
terimakasih
> telah mengingatkan saya komandan.
> 
> Besoknya, si anak muda kembali ke medan perang dengan atribut 
prajurit,
> tetap dengan semangat dan niat yang berkobar-kobar untuk membela 
agama,
> bangsa dan negara, tanpa pernah minder menjadi prajurit kembali 
karena telah
> terpatri keyakinan dalam dirinya bahwa Alloh SWT yang Maha Memilki 
Kuasa
> atas sesuatu yang ada di langit dan di bumi.
> 
> Mudah-mudahan ada manfaatnya.
> Berikan yang terbaik untuk Indonesia, dimanapun anda berada dab 
bekerja.
> 
> Wassalamualaikum Wr.Wb.
> 
> Acep Hadinata
> 
> 
> Pada tanggal 05/11/07, Q-Nope <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> >
> >
> > CAPAI POSISI yang SETINGGI-TINGGINYA supaya suatu saat nanti 
IDEALISME
> > yang
> > kita punya itu bisa berguna....karena kita punya kuasa atas 
sesuatu......
> >
> >
> > 
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke