assalamu 'alaikum war wab. Salam kenal,mau ikutan nimbrung nich Pak Subasita dan Pak Hari Ribowo serta rekan mulisser
Memang benar apa yang dicontohkan bapak berdua (Pak Subasita dan Pak Hari yg sering didaulat sebagai sesepuh) yakni mengisi waktu kosong ditengah kesibukan sehari-hari dengan mengkaji kalamullah guna dijadikan pedoman dalam berbicara,bertindak dan bersikap. Memang pak terlambat belajar (dan akhirnya bisa) itu sangat lebih baik daripada tidak mau mulai belajar. Kondisi pada waktu itu memang hampir terjadi dimana-mana bahwa belajar agama masih terbatas di bangku sekolah (SD,SMP,SMA), yang hanya dua jam pelajaran seminggu, sehingga apabila ortu atau lingkungan tidak mendukung ya hanya itulah bekal pendidikan agama yang didapat. Barangkali saat ini sudah lebih baik, dengan adanya pendidikan agama di luar jam sekolah yang diselenggarakan di masjid/musholla atau tempat peribadatan lainnya yang dapat digunakan sebagai sarana untuk memperluas kesempatan mendapatkan ilmu agama. Kemudahan yang sudah ada itu tentunya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga dapat tercipta generasi penerus bangsa yang kuat terdiri dari keluarga yang berahlak mulia Mudah-mudahan diridloi Allah Swt, amiin --- In [email protected], suba sita <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamualaikum wrwb, > > P. Bagus dan P. Hari yg saya hormati, > > Jadi benar apa yang dikatakan p. Hari, jadul ketika > saya kecil (sekarang jg masih kecil lah) bandel. > Maklum anak tangsi. Kl di suruh ngaji suka mbolos. > Jadi gitu dah, gak bisa2 ngaji dan baca Qur'an. Karena > suka bolos, saya selalu ketinggalan. Kala itu belajar > rasanya koq susah banget, maklum metode belajar masih > konvensional. Ditambah, Guru ngajinya galak. Jd > mbolosnya makin jadilah. Nyesel juga... > > Ketika sudah tua, dan metode bacaan Qur'an banyak di > tawarkan. Alat bantu juga banyak, mulai dari kaset,
