Penguasa orba gerah, krn orang seperti amir nggak cuma satu dua. Dicarilah sgl cara untuk mematikan bibit cahaya yg mulai bersinar. Untuk itulah ditugaskan seorang sebut saja MU menjadi kepala BPLK. Mulailah si MU ini menyelidiki dimana sumber nya kok sampai2 orang macam amir banyak sekali. Akhirnya diketahui dari mbm lah itu semua bemula.
Mulailah MU membuat kegiatan tandingan agar mahasiswa terpecah konsentrasinya nggak melulu ikutan kegiatan keagamaan. Nggak aneh kalau kemudian lomba lari 10 K, lari pagi tiap hr ahad disambung makan bubur gratis. Dengan alasan mengganggu keindahan kambing punya warga sekitar yg sering ikut 'kuliah' disate bareng2. Pokoknya bikin acara yg menarik. Nggak cuma itu mulailah intel berkeliaran. Nggak cuma di kampus juga di sekitar kost2 an. Tak jarang yg yg menyaru sebagai pembantu, tukang sayur, penjual makanan keliling untuk memata-matai kegiatan orang2 yg sering ke masjid. Berhasilkah dg cara2 tersebut? Yang jelas sekarang kampus sudah berubah. Militansi masih ada tapi serbuan budaya materialisme juga makin menggila. --- In [email protected], Bedes Sudrun <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sebut saja namaku Amir, seorang lulusan Prodip, dengan gaji dan tunjangan waktu itu yang terbilang minim kami bertekad untuk semampu mungkin melaksanakan "IDEALISME yang jelas-jelas berbenturan dengan Orba, bahkan kami harus melakukan samapta karena 'MENOLAK AMPLOP"!!! > > Saya kurang hobi membaca buku idealisme yang dibangun hanya karena semangat yang sesaat (rasa nasionalisme sempit), karena saya tetap berpegang pada "BUKU ANTI KORUPSI" yang dikeluarkan lebih dari 14 abad yang lalu (Assunnah Rasulullah SAW). > > Anda mungkin belum pernah diintimidasi oleh " BAKORSTANASDA" bukan??? > Kami bahkan membawa al quran saja langsung interograsi macam-macam. Di hadapan Pak Dirjen, seorang kepala BPPK mengintimidasi kami yang menolak amplop! Kami dianggap pegawai Makar dan tidak loyal terhadap atasan. >
