Naik panggung tanpa persiapan, turun panggung siap2 menanggung malu.
Kalau naik gunung tanpa persiapan? Kayak apa ya? Yah, inilah yang kami
alami hampir 12 tahun yang lalu. Kami adalah anak2 prodip anggaran 95
yg baru saja ditempatkan di Palu. Untuk mengisi hari2 kami biasa
melakukan berbagai aktivitas positif. Baik yang bernuansa religi
maupun fisik seperti olah raga, rekreasi dsb. Menjelang tahun baru
1996 kami merencanakan untuk mendaki gunung yg ada di Palu. Itung2
daridapa hura2 menyambut taon baru mending bertafakur alam menikmati
karunia ALLAh SWT. Tapi, walau sudah direncanakan, kesannya serba
mendadak. Hampir gak ada persiapan kecuali perbekalan berupa makanan
dan pakaian ganti. Nggak ada persiapan fisik. Informasi soal pendakian
juga sangat minim. Yang kami tahu hanyalah kalau mendaki gunung
biasanya dimulai dari kaki bukit deket stadion Gawalise.

Tanggal 31 Desember 1995 selepas shalat Ashar kami segera berangkat ke
arah Stadion Gawalise. Namun tak lupa ritual sebelum bperjalanan kami
lakukan. Berdoa bersama setelah itu foto2 di depan papan nama KPKN
Palu, trus segera kami naik Taksi (baca: Angkot) ke Gawalise. Ongkos
taksi Rp. 350 rupiah. Sekedar info gaji plus tc kami waktu itu sekitar
200 ribu sebulan. 

Setelah sampai di kaki gunung, sebut saja Gunung Gawalise karena dekat
dg stadion Gawalise, kami segera mengatur rencana pendakian. Sebelum
naik kami kembali berdoa bersama. Sebagai pemanasan kami sedikit
melakukan gerakan2 serta lari2 kecil untuk ekspedisi Gawalise. 

Pendakian kami awali dari kaki gunung Gawalise melalui jalanan kecil
beraspal kasar. Setelah itu aneka medan kami lalui. Pematang sawah,
saluran irigasi, sungai2 kecil, jalan setapak. Rupanya perjalanan dari
stadion Gawalise menuju kaki bukit tempat awal pendakian memakan waktu
yang lumayan. Sekitar 1,5 jam. Menjelang maghrib kami baru benar2
mendaki. Disini kembali kami saling mengingatkan tentang tujuan dari
pendakian ini sekaligus menguatkan motivasi karena sebagian dari kami
ada yang mulai kecapean. Tak lupa kami kembali berdoa untuk kemudahan
dalam ekspedisi Gawalise ini.

Bagi kami, ini adalah pendakian yg cukup berat, buktinya kami pada
kecapean. Mungkin faktor minimnya persiapan ada pengaruhnya juga.
Berkali2 kami berhenti untuk sekedar menarik nafas. Maklum diantara
kami banyak juga yang belum biasa naik gunung. Dan kami bukanlah
alumus STAPALA. Jadi gak punya ilmunya mendaki gunung. Ada diantara
temen2 yang sudah biasa naik gunung Gede. Juga ada yg biasa ke Kelud
di Kediri. (Apa kabar Hari Muryanto, Edy Yuniadi, Fahmi faisuri, Ranu
Fatah, Sukarno, Muh. Loethfi, dan ... siapa lagi ya anggota tim
ekspedisi?). Saya sendiri juga gak ada pengalaman. Sedikit waktu masih
SD saya beberapa kali naik Gunung Jambu, di Klaten, kampung saya yg
setahun yg lewat porak poranda akibat gempa. Selain itu gak ada
pengalaman sama sekali. Jadi boleh di bilang ekspedisi kami ke
Gawalise hanya modal semangat dan sedikit nekad saja. Perbekalan
seadanya, plus info yg minim menyebabkan kami harus sering bertanya
kepada siapa saja yg kami temui di jalan. Mana jalan yg paling bagus
buat kami lewati.

Mendaki gunung di Sulawesi terutama di Palu berbeda dg pendakian
gunung di Jawa. Kalau di jawa biasanya sudah ada jalurnya, tapi kalau
di Sulawesi hampir gak ada jalur. Yang ada jalur yg biasa dipakai
penduduk yg rata2 sulit kami lewati. Konon khusus di Gunung Gede
kabarnya kalau malam Minggu ada kemacetan di sana.

Ekspedisi kami ke Gawalise jadi pengalaman berharga. Karena setelah
beberapa lama kami mendaki, mejelang malam kebingungan melanda kami
karena belum menemukan jalur yang enak buat dilalui. Sebenarnya kami
sempat bertemu dg robongan lain yg sama2 mendaki. Namun belum sempat
kami berkenalan kami sudah kehilangan jejak mereka. Apa boleh buat
terpaksa berjalan dengan tanpa arah yg pasti. Lebih gawat lagi hujan
mulai turun. Mulailah kami menduga-duga kira2 mana jalan yang bagus
dan biasa dilalui orang. Akhirnya kami menemukan jalan yg lumayan enak
dilalui. Dengan semangat kami coba lalui julur ini. Tapi setelah
sekian lama kok rasanya gak nyampe2 puncak. Rupanya kami tersesat.
Terpaksalah turun lewat jalan semula. Setelah kami amat-amati ternyata
jalur yg barusan kami lewati memang bukan jalur pendakian, melainkan
jalur air yg telah kering. Untung saja nggak ada air turun dari atas.
Kalau turun air bisa kebanjiran kita. 

Sampai tengah malam, karena gak ada perkembangan kami putuskan untuk
mencari tempat bermalam. Lupakan puncak gunung yang indah. Lupakan
semua angan2. Lupakan bisa melihat kota Palu dari atas gunung. Sekian
lama mencari tempat yg enak buat bermalam nggak ketemu juga. Akhirnya
kami putuskan untuk bermalam di jalan saja. Kebetulan kami menemukan
jalan beraspal. Lumayan enak juga buat bermalam. Rupanya pertimbangan
kami cukup logis juga. Disamping relatif aman dari gangguan binatang
juga kalau ada mobil atau truk yang lewat kami bisa ikut numpang.
Syukur2 kalau ada yg mau ke atas., kita bisa numpang sampai ke kampung
terdekat, selanjutnya bisa bermalam di sana. 

Sampai lewat tengah malam ternyata nggak ada juga kendaraan lewat.
Kami sudah kecapaian, lapar. Bahkan perbekalan kami yg dibawa dari
bawah berupa nasi padang yg tinggal sebungkus ludes dlm sekejap saking
laparnya. Logistik sebenarnya cukup berupa indomie, kue2 kering serta
sedikit minuman. Namun untuk menghemat nasi padang sebungkus kami
jadikan makan malam yg nikmat. Kami putuskan tidur ditengah jalan.
Untuk menyiasati kalau2 ada kendaraan lewat kami menyalakan lilin biar
kalau ada yg lewat sopir bisa melihat posisi kami karena kami memang
tidur ditengah jalan. Ini memang taktik. Kalau tidur di pinggir dan
pas ada kendaraan lewat pas kami lagi nyenyak, niatan untuk numpang ke
atas bisa terlewatkan begitu saja. Alau tidurnya ditengah jalan khan
nanti kalau ada kendaraan lewat mudah2an sopirnya bisa melihat posisi
kami dan berhenti. Agak nekad memang. Ya kalau sopirnya ngelihat,
kalau nggak bisa gepeng kita.

Alhamdulillah, nggak ada kendaraan lewat. Akhirnya kami lewatkan malam
dengan tidur di tengah jalan. Sampai pagi hari setelah sholat subuh
kami putuskan untuk turun. Gagallah ekspedisi Gawalise. Namun walaupun
gagal masih banyak pengalaman berharga yang kami dapatkan. Yang
pertama jelas kegagalan itu sendiri, keduanya ilmu serta wawasan kami
mengenai pendakian gunung setidaknya ada penambahan. Trus berikutnya
keindahan alam yang kami saksikan dalam perjalanan turun tidak kalah
berharganya bagi kami. (Buat mas Loetfie: masih adakah foto2nya?)
Maklum dalam pendakian keindahan alam sekitar tidak sempat kami
nikmati, berhubung hari sudah gelap dan konsentrasi memang tertuju
bagaimana kami biasa sampai puncak. Dalam perjalanan turun sesekali
kami berfoto2 kalau pas ada tempat yang sangat indah. 

Tengah hari, tanggal 1 Januari 1996 kami tiba di kota selepas
perjalanan pulang yg panjang. Pulanglah kami ke rumah masing2. Saya
sendiri istirahat cukup lama buat menghilangkan penat. Tidur, adalah
obat yg mujarab untuk menghilangkan capek. Menjelang maghrib sekitar
jam lima sore WITA, selagi di buai mimpi samar2 saya mendengar orang2
pada berteriak-teriak. "Lindu.... lindu..... Gempa...gempa. Ya.
Rupanya ada gempa bumi tektonik. Keesokan harinya barulah saya tahu
dari media kalau memang ada gempa besar yang berpusat di teluk Tomini
yang menimbulkan Tsunami. Ada beberapa korban meninggal terutama yang
ada di Pantai Donggala. Fantashiru fil ardl.


Kirim email ke