Beberapa waktu yang lalu, ketika diminta mengisi acara `obrolan
santai' dengan para pemuda Indonesia yang sedang belajar di Melbourne,
saya terinspirasi untuk membandingkan karakter manusia dengan karakter
ikan-ikan di laut. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia ada gaya
bahasa `personifikasi', tulisan ini menggunakan analogy kebalikannya,
`animalisasi'. Walaupun terkesan konyol dan ngocol, mudah-mudahan
relefan dengan dinamika kehidupan perkantoran dan menjadi pengantar
tidur liburan. Selamat membaca

Dibandingkan dengan karakteristik biota laut, paling tidak ada empat
tipe manusia dalam pergaulan: tipe ikan teri, tipe ikan lumba-lumba,
tipe ikan hiu, dan tipe cumi-cumi.

1.Tipe ikan teri

Orang-orang yang memiliki karakter ikan teri sangat senang dengan
kerumunan dan cenderung mengikuti tren. Bak ikan teri yang hidup
bergelombol, bergerak mengikuti arus laut, mereka sering terpengaruh
oleh lingkungan. Kalau ada kelompok dominan menghembuskan `arus kanan'
mereka akan berbondong-bondong `kekanan-kananan' dan sebaliknya bila
lingkungan didominasi `arus kiri' mereka cenderung untuk berdiri di
balik golongan kiri. Orang-orang dengan tipe ikan teri memiliki
kaseimbangan potensi antara kebaikan dan keburukan, tergantung anasir
mana yang mampu mempengaruhi radar navigasi mereka. Kadang-kadang
mereka juga jatuh pada kondisi plin-plan; sebentar pro kebaikan,
beberapa saat kemudian jadi abdi kejahatan. 

2.Tipe ikan lumba-lumba

Saat saya berdinas di Sulawesi selama lima tahun, kapal laut adalah
alat transportasi pavorit untuk pulang kampung. Selepas fajar atau
menjelang senja biasanya saya menuju dek, menanti kehadiran ikan
lumba-lumba yang mengiringi lajunya kapal. Ternyata saya tidak
sendirian! Banyak juga penumpang lain yang menanti-nanti fenomena
seperti ini. Begitulah kurang lebih orang berkarakter ikan
lumba-lumba; kehadirannya selalu dinanti karena kedamaian dan
keindahan gemulai yang selalu dihadirkannya. Walaupun mereka
berkelompok dalam jumlah sedikit, karisma dan inner power-nya mampu
membuat banyak orang disekitarnya terperangah.

Ikan lumba-lumba dikenal orang sebagai ikan pembawa kebaikan. Pada
saat Kapal Tampomas II tenggelam di perairan Masalembo di tahun 80-an,
lumba-lumba menjadi legenda yang menyelamatkan beberapa orang awak dan
penumpang kapal. Begitu juga dengan orang-orang dengan karakter ikan
lumba-lumba. Mereka menjadi icon (baca: aikon) pembawa kebaikan,
walaupun kadang-kadang keelokan pekertinya menjadikan mereka dipandang
eksklusif  dan keteguhan mereka dalam kebaikan dipandang pongah. Yang
nampak jelas dari gema suara mereka kala memanggil-manggil sesama
mereka hingga terdengar oleh makhluk hidup disekitarnya adalah sebagai
indikasi kegemaran mereka mensyiarkan prinsip-prinsip yang mereka yakini.

3.Tipe ikan hiu

Dari sosok tubuhnya yang menakutkan dan gerak tubuhnya yang agresif,
hiu dikenal sebagai penebar teror dan pembawa ketidakbaikan. Mereka
gemar hidup berkelompok dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Mereka
siap memangsa ikan-ikan yang lebih `kecil' disekitar mereka.
Kelengahan ikan lain adalah kekuatan bagi mereka. Itulah sifat
orang-orang berkarakter ikan hiu. Keberadaannya sudah mengisyaratkan
ketidakbaikannya. Kebalikan dengan ikan lumba-lumba yang mensyiarkan
kebaikan lewat saut-sautan suara, ikan hiu menebar kejahatnnya dengan
bau amis darah dari mangsa yang telah dilahapnya. Seolah-olah mengajak
makhluk disekitarnya untuk menjadi saksi kekejiannya, syukur-syukur
ada yang mau mengikuti jejak langkah mereka.

4.Tipe cumi-cumi

Berbeda dengan tipe-tipe sebelumnya, orang berkarakter cumi-cumi lebih
senang bersendiri (bukan menyendiri). Mereka tidak punya maksud untuk
mempengaruhi orang-orang disekitar mereka untuk mengikuti apa yang
menjadi kecenderungan mereka. Kalau mereka termasuk orang baik, mereka
tidak berniat menularkan kebaikannya kepada yang lain. Demikian juga
bila mereka tergolong sebagai orang-orang jahat, mereka tidak ingin
memperosokkan orang lain ke dalam kejahatan. Pokoknya, masuk surga
sendirian dan masuk neraka sendirian.

Sebagaimana cumi-cumi yang melindungi keberadaan dirinya dengan tinta
hitamnya, orang-orang dengan karakter ini tidak ingin integritas
dirinya mudah terbaca oleh orang-orang di sekitarnya hingga sampai
titik tertentu mereka jatuh kepada kepura-puraan; orang baik pura-pura
tidak baik, dan orang jahat pura-pura tidak jahat. Barangkali ini
salah satu alasan mereka untuk tidak `mendakwahkan' prinsip hidupnya.


Kirim email ke